Kondisi perekonomian dunia yang masih diliputi ketidakpastian, membuat pertumbuhan ekspor Indonesia diprediksi menurun cukup signifikan dan tidak banyak berperan mengangkat laju pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk itu, peran sektor investasi dan konsumsi masyarakat perlu digenjot lebih maksimal.
Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro memproyeksi, investasi masih akan tumbuh 9 hingga 10 persen pada tahun ini. Pertumbuhan ini dirasa cukup untuk mengganti kehilangan pertumbuhan dari sisi ekspor. "Karena investasi masih cukup tinggi," ujar Bambang saat ditemui di kantornya, Senin (9/4).
Sedangkan dari sisi konsumsi masyarakat, diharapkan bisa tetap tumbuh tinggi. Minimal, kata dia, pertumbuhan konsumsi tahun ini bisa berada pada level yang sama seperti tahun sebelumnya.
Dengan perhitungan tersebut, Kemenkeu melihat laju pertumbuhan ekonomi masih cukup moderat. "Ya kuartal I mudah-mudahan pertumbuhan ekonomi masih bisa 6,5 persen," tegasnya.
Senada dengan pemerintah, lanjut Bambang, otoritas moneter juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama tahun ini hanya akan mencapai 6,5 persen. Mesin penggerak pertumbuhan ekonomi masih didominasi kuatnya permintaan domestik, khususnya konsumsi rumah tangga dan investasi.
Kinerja neraca pembayaran Indonesia masih bisa surplus meskipun pada level sangat rendah. Sebab, defisit transaksi berjalan pada triwulan masih akan membesar seiring melambatnya ekspor-impor. "Aktivitas ekonomi domestik yang kuat dan tingginya konsumsi domestik mempengaruhi defisit transaksi berjalan," tambahnya.