Indonesia ternyata menyimpan potensi biomassa yang mencapai 130 juta ton setiap tahunnya, yang berasal dari limbah pertanian, limbah industri, serta hutan tanaman energi. Melihat potensi tersebut, PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) berkomitmen untuk mempercepat pemanfaatan biomassa yang berasal dari berbagai limbah dan tanaman energi sebagai sumber bahan bakar alternatif untuk pembangkit listrik.
Konsumsi biomassa ini terus meningkat sebagai upaya untuk mencapai target penurunan emisi karbon yang ditetapkan.
Direktur Utama PLN EPI, Rakhmad Dewanto, mengungkapkan bahwa pemanfaatan biomassa telah meningkat secara signifikan. Pada tahun 2021, volume pemanfaatan hanya mencapai 312 ribu ton, namun diperkirakan akan meningkat menjadi 1,8 juta ton pada tahun 2024.
PLN EPI optimis bahwa target 3 juta ton biomassa pada tahun 2025 dapat tercapai. "Tahun ini, target kami mencapai 3 juta ton biomassa. Angka ini setara dengan kurang lebih 3 persen dari volume batu bara yang dikelola PLN dan berpotensi mengurangi emisi hingga 3,3 juta ton CO2e per tahun," kata Rakhmad, Kamis (11/9/2025).
PLN EPI tidak hanya berambisi untuk memenuhi kebutuhan kelistrikan, tetapi juga ingin mengembangkan ekosistem biomassa nasional guna memenuhi kebutuhan industri dan membuka peluang ekspor.
"Kami mempelopori model ekosistem biomassa terpadu, mulai dari pengumpulan bahan baku, sub-hub, hingga main hub dengan fasilitas mixing dan quality control. PLN EPI siap menjadi pelopor biomassa nasional," tegas Rakhmad.
Advertisement
PLN EPI terus berkomitmen untuk memastikan pasokan energi yang memadai bagi PLN seiring dengan meningkatnya permintaan di sektor kelistrikan. Tahun ini, target pasokan batu bara ditetapkan sebesar 99,76 juta ton, sementara pasokan gas ditargetkan mencapai 1.329 BBTUD, yang hampir memenuhi 40% dari total kebutuhan nasional.
Selain itu, PLN EPI juga aktif dalam pengembangan infrastruktur energi, termasuk proyek pengembangan regasifikasi LNG dan peningkatan logistik BBM. Untuk mendukung transisi menuju energi hijau, PLN EPI sedang membangun rantai pasok biomassa nasional yang efisien dengan melibatkan berbagai mitra di seluruh Indonesia.
Pemanfaatan biomassa di PLN dilaksanakan melalui program cofiring di 52 PLTU, yang sejalan dengan Permen ESDM No. 12/2023.
Program cofiring ini memungkinkan penggunaan biomassa sebagai campuran bahan bakar tanpa harus membangun PLTU baru. "Tingkat cofiring disesuaikan dengan tipe boiler, mulai dari 10 persen untuk pulverized coal hingga 70 persen untuk tipe stoker. Cara ini adalah salah satu langkah cepat untuk menurunkan emisi," jelas Rakhmad.
Advertisement
Pemerintah telah menempatkan biomassa sebagai komponen penting dalam rencana transisi energi menuju Net Zero Emissions (NZE) pada tahun 2060 atau bahkan lebih awal. Target pengurangan emisi Indonesia sebesar 358 juta ton CO2e pada tahun 2030 dianggap masih dapat dicapai, terutama dengan kontribusi sektor energi yang diperkirakan mencapai 147 juta ton pada tahun 2024.
Sampai dengan semester pertama tahun 2025, bauran energi baru terbarukan di Indonesia tercatat mencapai 15,2 persen. Biomassa berperan sebagai salah satu penyumbang terbesar, terutama dalam pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) secara langsung atau non-listrik.
Di samping itu, Pemerintah juga sedang mempersiapkan skema untuk mempercepat pemanfaatan sampah sebagai sumber energi melalui revisi Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2018.