Pilihan Dilematis Jeff Bezos Saat Memulai Berbisnis

Selasa, 21 Januari 2020 07:00 Reporter : Merdeka
Pilihan Dilematis Jeff Bezos Saat Memulai Berbisnis Vertikal Jeff Bezos. ©REUTERS

Merdeka.com - Sebelum menjadi orang terkaya dunia saat ini, pada 1994, Jeff Bezos sempat bekerja di sebuah perusahaan hedge fund bernama D. E. Shaw. Kebetulan, dia ditugaskan untuk meneliti peluang bisnis potensial yang bakal berkembang dalam beberapa tahun ke depan.

Dalam penelitian tersebut, dia melihat bahwa bisnis yang berhubungan internet bakal sangat maju. Saat itu, Bezos menemukan statistik yang mengejutkan dan memicu dirinya untuk memulai bisnis sendiri.

"Saya menemukan fakta bahwa situs web tumbuh 2.300 persen per tahun," jelas Bezos seperti dikutip dari CNBC, Minggu (19/1).

"Saya pun terpesona sehingga muncul ide membangun toko buku online," lanjut dia.

Keputusannya pun ternyata tepat. Amazon yang tadinya hanya sebuah toko buku online menjadi raksasa e-commerce dengan kapitalisasi pasar lebih dari USD 920 miliar.

Namun, ternyata di usia 30, Bezos sempat menghadapi dilema karier. Terus lanjut di perusahaan hedge fund atau memulai karier baru dengan membuka perusahaan sendiri.

Tetap dengan pekerjaannya di New York City yang stabil atau memulai bisnisnya sendiri. Dia mulai membayangkan pilihan mana yang mungkin akan disesalinya nanti, meninggalkan Wall Street atau kebalikannya tetap tinggal di Wall Street.

"Saya membayangkan diri saya berusia 80 tahun, mengingat kembali kehidupan saya. Apakah saya menyesal meninggalkan perusahaan ini dan menjauh dari bonus tahunan saya?" kata dia.

"Saya ingin tidak menyesal. Saya tahu pasti, saya punya ide ini, dan jika saya tidak mencoba, saya akan menyesal tidak pernah mencoba. Aku juga tahu, jika aku mencoba dan gagal, aku tidak akan pernah menyesal telah mencoba dan gagal," lanjut Jeff Bezos.

1 dari 1 halaman

Lebih Baik Mencoba dan Gagal Daripada Menyesal

Bezos pun kemudian melakukan lompatan, berhenti dari pekerjaannya, dan pindah ke pinggiran kota Seattle, tempat dia memulai bisnis lewat Amazon di garasinya.

Keputusannya terbayar. Amazon tumbuh dengan cepat, menjadi perusahaan publik pada 1997 dengan pendapatan USD 16 juta dan 180.000 pelanggan yang menjangkau lebih dari 100 negara.

Meskipun dia memiliki firasat tentang pertumbuhan internet, Bezos saat itu tidak pernah menyangka Amazon bakal tumbuh sejauh yang dimilikinya saat ini.

"Apa yang sebenarnya terjadi selama 25 tahun terakhir jauh melampaui harapan saya. Saya mengirimkan paket sendiri, kami menjual buku. Saya berharap untuk membangun perusahaan, tetapi bukan perusahaan yang Anda lihat hari ini," katanya.

Reporter: Arthur Gideon

Sumber: Liputan6

[bim]

Baca juga:
Mengenal Giovanni Ferrero, Orang Terkaya Italia Berkat Nutella
Punya Harta Rp12 Triliun, Roger Federer Masuk Klub Atlet Terkaya Dunia
Fakta di Balik Keluarga Pengendali Uang Rothschild, Kuasai Dunia Selama 2 Abad
Total Kekayaan Tembus Rp367 Triliun, Ini Cara 5 Miliuner Dunia Habiskan Uangnya
Kekayaan Tembus Rp1.000 Triliun, Mark Zuckerberg Masih Suka Belanja di Toko Diskon

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini