Menkeu Purbaya Tegaskan Tak Akan Ubah Batas Defisit Anggaran 3 Persen Demi Ekspansi Ekonomi

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah tidak akan mengubah batas defisit anggaran 3 persen, meski menargetkan pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Kebijakan ini menekankan optimalisasi fiskal dan investasi untuk mendorong ekspansi ekonom

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Menkeu Purbaya Tegaskan Tak Akan Ubah Batas Defisit Anggaran 3 Persen Demi Ekspansi Ekonomi
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah tidak akan mengubah batas defisit anggaran 3 persen, meski menargetkan pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Kebijakan ini menekankan optimalisasi fiskal dan investasi untuk mendorong ekspansi ekonom (AntaraNews)

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa baru-baru ini menegaskan komitmen pemerintah untuk tidak mengubah batas defisit anggaran sebesar 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Keputusan ini diambil meskipun pemerintah menargetkan ekspansi ekonomi yang lebih tinggi di masa mendatang. Penegasan tersebut disampaikan Purbaya setelah acara Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat.

Purbaya menyatakan bahwa fokus utama pemerintah adalah mengoptimalkan ruang fiskal yang ada guna menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat dan berkelanjutan. Strategi ini juga melibatkan penjagaan sinkronisasi kebijakan fiskal dengan kebijakan moneter. Hal ini penting untuk memastikan kedua kebijakan dapat bekerja secara harmonis dalam mendukung stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Lebih lanjut, pemerintah akan sangat mengandalkan investasi sebagai motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi. Upaya percepatan debottlenecking akan dilakukan untuk memperbaiki iklim investasi, baik dari sektor swasta maupun pemerintah. Langkah ini diharapkan mampu menarik lebih banyak modal dan menciptakan lapangan kerja baru di Indonesia.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menekankan pemerintah akan tetap berpegang pada batas defisit 3 persen PDB. Strategi ini terbukti berhasil, meskipun sempat diragukan oleh beberapa pihak sebelumnya. Dengan defisit yang terkendali di bawah 3 persen, pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu mencapai 5,39 persen pada kuartal IV 2025, menandai titik lepas dari stagnasi di kisaran 5 persen.

Purbaya optimistis kinerja ekonomi akan terus membaik ke depan dengan pemanfaatan optimal ruang fiskal yang tersedia. Pemerintah berkomitmen untuk menjaga kehati-hatian fiskal sambil tetap mendorong pertumbuhan. Kebijakan kontra-siklikal atau stimulus tambahan akan dipertimbangkan hanya jika benar-benar diperlukan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi secara signifikan.

Realisasi sementara APBN Tahun 2025 mencatat defisit sebesar Rp695,1 triliun atau 2,92 persen dari PDB per 31 Desember 2025. Angka ini melebar dari target awal 2,53 persen pada APBN 2025 dan proyeksi laporan semester sebesar 2,78 persen. Meskipun demikian, defisit ini masih berada di bawah ambang batas 3 persen yang ditetapkan oleh undang-undang.

Purbaya menjelaskan pentingnya menjaga sinkronisasi antara kebijakan fiskal dan moneter. Harmonisasi kedua kebijakan ini krusial agar keduanya dapat optimal dalam mendorong perekonomian nasional. Koordinasi yang baik antara pemerintah dan bank sentral akan menciptakan lingkungan makroekonomi yang stabil dan kondusif bagi pertumbuhan.

Aspek lain yang menjadi prioritas adalah percepatan debottlenecking untuk memperbaiki iklim investasi. Pemerintah berupaya menghilangkan hambatan-hambatan birokrasi dan regulasi yang memperlambat masuknya investasi. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat mesin pertumbuhan ekonomi, baik dari sektor swasta maupun pemerintah.

Purbaya meyakini bahwa tambahan ruang fiskal tidak akan diperlukan, karena terdapat indikasi investor besar akan masuk dalam waktu dekat. Masuknya investasi ini diharapkan dapat menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih pesat. Kondisi fiskal juga diperkirakan tetap terkendali hingga tahun 2032.

Dalam sesi diskusi panel Indonesia Economic Outlook 2026, Purbaya menyatakan bahwa defisit sekitar 2,9 persen merupakan bagian dari program kontra-siklikal. Program ini bertujuan membalikkan arah perekonomian dari kondisi melemah menjadi kembali menguat. Langkah ini ditempuh tanpa mengorbankan kehati-hatian fiskal, dengan defisit tetap dijaga agar tidak menembus batas 3 persen dari PDB.

Posisi utang pemerintah juga disebut masih terkendali, menunjukkan keberhasilan dalam mengelola keuangan negara. Purbaya menegaskan bahwa pemerintah berhasil membalik arah ekonomi dengan fiskal yang tetap terjaga. Momentum pertumbuhan ekonomi yang kuat pada tahun 2025 diproyeksikan akan berlanjut hingga tahun 2026.

Pada triwulan I 2026, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan berada di kisaran 5,5 persen hingga 6 persen. Jika proyeksi ini tercapai, Indonesia dinilai telah keluar dari stagnasi pertumbuhan di level 5 persen. Merujuk perkembangan leading economic index (LEI) dan coincident economic index (CEI), Purbaya juga meyakini ekonomi Indonesia akan memasuki fase ekspansi sehat dalam tujuh hingga sepuluh tahun ke depan, atau setidaknya sampai 2033.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi