Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan segera menginvestigasi dana pemerintah yang mengendap di perbankan. Total nilai dana ini mencapai Rp653,4 triliun per Agustus 2025, sebuah angka yang signifikan.
Dana tersebut terbagi menjadi Rp399 triliun dari pemerintah pusat dan Rp254,4 triliun dari pemerintah daerah. Investigasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa dana negara tidak "nganggur" dan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk pembangunan.
Pernyataan ini disampaikan Purbaya dalam acara "1 tahun Prabowo-Gibran: Optimism 8% Economic Growth" di Jakarta. Langkah ini diambil untuk mengatasi persoalan efisiensi anggaran sebelum menerapkan kebijakan ekonomi lainnya.
Advertisement
Advertisement
Detail Dana Mengendap dan Komposisinya
Kementerian Keuangan mencatat bahwa total dana mengendap pemerintah pusat dan daerah tersebar di tiga pos simpanan utama. Pos-pos tersebut meliputi giro sebesar Rp357,4 triliun, tabungan Rp10,4 triliun, dan simpanan berjangka Rp285,6 triliun.
Purbaya secara khusus menyoroti peningkatan drastis pada simpanan berjangka. Nilainya bertambah signifikan sebesar Rp81,4 triliun dalam delapan bulan, dari Rp204,2 triliun per Desember 2025.
Purbaya mempertanyakan mengapa anggaran sebesar itu disimpan dalam bentuk berjangka. Kondisi ini menunjukkan adanya jumlah kas yang besar di pemerintah pusat dan daerah, namun tidak diimbangi dengan optimalisasi belanja.
Advertisement
Fenomena ini menjadi perhatian utama Kemenkeu. Mereka bertekad untuk mencari solusi agar dana tersebut dapat segera dialokasikan untuk kebutuhan yang lebih produktif.
Advertisement
Sorotan pada Dana Pemda dan Polemik Anggaran
Secara terpisah, Purbaya juga menyoroti simpanan pemerintah daerah (pemda) di bank yang mencapai Rp254,3 triliun. Dana pemda ini tersebar di giro sebesar Rp188,9 triliun, tabungan Rp8 triliun, dan simpanan berjangka Rp57,5 triliun.
Nilai simpanan pemda ini jauh lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sebagai perbandingan, total simpanan pemda di bank pada tahun 2023 tercatat Rp103,9 triliun dan pada tahun 2024 sebesar Rp92,4 triliun, menunjukkan lonjakan Rp161,9 triliun dalam delapan bulan.
Kondisi ini ironis mengingat pemda sempat menyampaikan keluhan kepada Kemenkeu terkait alokasi anggaran yang dinilai rendah. "Harusnya kalau saya potong pun nggak apa-apa. Tapi mereka protes, uangnya kurang. Saya nggak tahu ditaruh di mana uang itu, dalam bentuk apa, simpanan siapa. Tapi nanti akan saya periksa," ujar Purbaya.
Advertisement
Purbaya menegaskan bahwa intensinya bukanlah memotong anggaran pemda. Ia justru ingin memastikan bahwa anggaran yang diterima dibelanjakan tepat waktu, sehingga perekonomian daerah dapat tumbuh secara optimal.
Advertisement
Strategi Kemenkeu untuk Optimalisasi Anggaran
Menteri Keuangan Purbaya menggarisbawahi bahwa ia tidak berniat memotong anggaran pemerintah daerah. Intensi utamanya adalah meminta pemda memastikan anggaran yang diterima dibelanjakan secara tepat waktu.
Hal ini penting agar perekonomian daerah yang dikelola bisa tumbuh dan berkembang. Purbaya juga membuka peluang penambahan anggaran bagi pemda yang menunjukkan kinerja penyerapan yang baik dan bebas dari penyelewengan.
"Jadi saya bilang ke mereka bahwa mereka boleh minta uang tambahan. Saya kasih kalau penyerapan anggarannya bagus dan nggak ada lagi penyelewengan. Pertengahan tahun depan saya akan tambah uangnya, kira-kira gitu. Jadi, kami tidak menutup mata terhadap keadaan di sistem perekonomian," tutur Purbaya.
Advertisement
Langkah ini merupakan bagian dari upaya Kemenkeu untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas belanja negara. Tujuannya adalah agar dana pemerintah dapat memberikan dampak maksimal bagi pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah.
Sumber: AntaraNews