Menanti kembalinya Si Unyil
Merdeka.com - Perusahaan Umum Produksi Film Negara (PFN) mati suri di awal reformasi. Citra Badan Usaha Milik Negara ini rontok, karena dikenal sebagai corong doktrin politik Orde Baru lewat medium sinema.
Awal mula PFN dimulai dari pendirian Java Pacific Film oleh Albert Ballink pada 1934 di Hindia Belanda. Perusahaan ini sempat diambilalih otoritas pendudukan Jepang saat meletus Perang Dunia ke-2.
Ketika Indonesia mengumumkan kemerdekaan, pemiliknya yang warga negara Belanda, menyerahkan perusahaan film ini kepada republik. Pada 1950, perusahaan ini berubah menjadi Perusahaan Pilem Negara (PPN), yang kemudian ejaannya disempurnakan beberapa kali sampai menjadi PFN pada 1975.
Kiprah Perum ini dikenal publik selepas memproduksi "Serangan Fajar' (1982) dan 'Pengkhianatan G30S/PKI' (1984). Kedua film itu besutan sutradara Arifin C Noer.
Tema propaganda sangat menonjol, melalui penceritaan peran Angkatan Darat dalam tragedi 1965. Perum Produksi Film Negara juga dianggap para kritikus, aktif menglorifikasi Presiden Soeharto dalam film-filmnya.
Sedangkan karya sinema PFN lebih berkualitas, misalnya 'Surat untuk Bidadari' yang pada 1994 menang penghargaan Film Terbaik di Festival Film Taormina, Italia, kurang dikenal oleh masyarakat.
Ketika rezim berganti lalu kehilangan suntikan modal negara, BUMN industri kreatif ini mati suri. Gedung PFN di Jalan Otto Iskandar Dinata, Jakarta Timur, terbengkalai dan tampak kumuh. Pemerintah semakin pusing, lantaran regenerasi pegawai tidak berjalan.
Menteri BUMN Dahlan Iskan tahun lalu memasukkan PFN sebagai perusahaan pelat merah yang siap masuk kubur. Dari total 100 karyawan, yang termuda berusia 45 dan sudah tidak produktif pula.
"Apa boleh buat, memang likuidasi pilihan paling rasional secara bisnis," kata Dahlan di kantornya, Jakarta (2/2/2013).
Pada akhirnya, Dahlan mengampuni PFN. Pada 15 Juli 2013, dia menunjuk Shelvy Arifin sebagai direktur utama anyar.
Perempuan yang pernah menjadi konsultan media sosial dan Direktur RED Indonesia ini dianggap mewakili anak muda. Diharapkan, BUMN ini bisa melakukan terobosan baru dalam memproduksi film yang dapat memberikan keuntungan. Shelvy dibekali enam karyawan baru sebagai tim intinya. Itu karena pegawai PFN tinggal 66 orang setelah banyak yang pensiun.
Atas ide Dahlan pula, PFN diminta kembali fokus menggarap serial televisi mereka yang pernah melegenda, yakni 'Boneka Si Unyil'. Pertunjukan tayang di TVRI itu pernah menjadi tontonan wajib anak-anak se-Indonesia.
Tokohnya, mulai dari Unyil, Pak Ogah, Usro, dan Ucrit amat dikenal masyarakat. Ceritanya berkutat pada kehidupan sehari-hari warga Desa Sukamaju.
Masyarakat menggemari cerita ini, karena temanya sangat membumi tapi tetap lucu. Ada tokoh Pak Raden yang pemarah tapi sering encok, atau Pak Ogah kerap minta uang dengan celetukan 'cepek dulu dong'.
Sayangnya, niatan PFN bangkit awalnya sempat tersandung masalah hak cipta.
Pada 2012, Drs. Suyadi, lebih populer dengan panggilan Pak Raden menggugat PFN. Sang pencipta tokoh Unyil ini keberatan acara boneka itu tidak mengalami pembaruan kontrak.
Jika merujuk surat perjanjian bernomor 139/P.PFN/XII/1995, hak cipta atas Si Unyil beserta 10 tokoh rekaan pendukung lainnya diberikan tanpa imbalan kepada PFN selama lima tahun. Hingga selesai kontrak pada 2000, Pak Raden tak kunjung mendapat perjanjian baru.
Akhirnya, pada 2013, seiring adanya jajaran direksi baru, kedua pihak sepakat berdamai. Pak Raden bersedia kembali menyerahkan hak pengelolaan dan hak ekonomi karakter serial Si Unyil kepada PFN selama 10 tahun.
Masalah hak cipta rampung, PFN masih terganjal perkara lain, yakni mencari cara merebut hati pemirsa. Serial Unyil pernah coba dihidupkan lagi oleh Helmy Yahya pada 2001. Sayang, rating acara itu kalah dengan serial animasi Jepang yang menjamur, dan akhirnya berhenti tayang pada 2003. Stasiun televisi Trans7 kini berusaha mempertahankannya tapi dengan nuansa modern serta merek baru yaitu 'Laptop Si Unyil'.
Adaptasi cerita dan kemasan diperlukan, sebab masa keemasan Unyil ada pada era 1980-an hingga paruh kedua 1990. Generasi penonton Orde Baru sudah menua. Itu sebabnya, pemerintah berharap banyak pada Shelvy, bisa mencari strategi menghidupkan Unyil dalam format yang lebih canggih dan diterima kanak-kanak masa sekarang.
"Tahun depan menggarap film animasi si Unyil," kata Dahlan memberi target.
Untuk sementara, PFN lebih banyak menggarap film dokumenter. Dan setelah kekurangan dana selama beberapa bulan, perusahaan pelat merah ini perlahan-lahan sehat. Dana bisa terkumpul dari pemanfaatan aset. Dokumentasi lama juga digunakan untuk mencari royalti. Tiga karyawan juga telah ditugaskan meliput perhelatan KTT APEC, di Bali tahun lalu.
PFN resmi tampil ke hadapan publik di Jakarta kemarin, Selasa (3/6). PFN melansir dokumenter 'Biji Kopi Indonesia', dengan durasi 65 menit bekerja sama dengan jaringan bioskop Blitzmegaplex.
Shelvy, dalam kesempatan terpisah, menjamin pihaknya sudah siap memenuhi harapan Dahlan, untuk kembali menggarap Unyil, kendati tidak terlalu mulus.
"Film anak-anak sudah masuk dalam program. Selain berupa film animasi dan film layar lebar, ada juga panggung boneka anak-anak," ujarnya.
Dahlan yang gembira dengan peluncuran 'Biji Kopi Indonesia berharap, film garapan PFN bisa semakin bervariasi di masa depan.
"Intinya, sepakat menatap masa depan dengan produksi film bangsa ini tentang anak-anak dan dokumentasi proyek besar, seperti proyek bandara, pelabuhan, tol Bali," kata Dahlan sebelum menghadiri pemutaran film baru PFN itu.
Publik kini menanti lagu tema 'hom pim pa alaihum gambreng' yang khas dari Unyil menyambangi Indonesia di masa kini. (mdk/ard)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya