Masa depan cerah hadir di sudut terminal Depok
Merdeka.com - Masa depan cerah hadir di sudut terminal bus di Depok, Jawa Barat, sejak satu setengah dekade lalu. Berkat tangan dingin Nurrohim, 44 tahun, mendirikan sekolah gratis untuk kaum terpinggirkan atau lebih ilmiah disebut penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS).
Karena memakai tempat ibadah, sekolah itu kemudian diberi nama "master" akronim dari masjid terminal.
"Sekolah ini berbasis karakter dan entrepreneur. Dari wira-wiri (luntang-lantung), wira-nada (pengamen), wira-suara (penyanyi jalanan) bisa jadi wiraswasta," kata Nurrohim kepada merdeka.com, Kamis (4/3).
Sejak tiga tahun terakhir, sekolah "master" fokus mengembangkan keahlian anak didiknya. Makanya lembaga pendidikan itu mengajarkan desain grafis, tata busana, tata boga, teknik elektro, dan spa.
Hasilnya luar biasa. Banyak jebolan "master" mampu membuka usaha atau mendapatkan pekerjaan layak.
"Ada yang jadi animator begitu, dia bikin efek-efek dan lainnya, sekarang dia kerja di MD Entertaiment (rumah produksi)," kata Nurrohim."ada yang buka usaha bengkel panggilan memanfaatkan internet dan telepon."
Lebih dari itu, kata Nur, ada salah satu bekas anak didiknya bekerja sebagai pemetik apel di Selandia Baru. Gajinya Rp 15 juta per bulan, terbilang tinggi untuk ukuran Indonesia.
"Dari hasil kerja di luar negeri, lulusan sekolah master itu menggunakan uangnya untuk membuka usaha, kini mampu menghidupi keluarganya."
Sayang, menurut Nur, sekolahnya belum mendapat perhatian serius dari pemerintah. Malah, sebagian masih menganggap sebagai "tempat sampah".
Kendati demikian, dia meminta anak didiknya berperilaku baik demi menjaga nama baik lembaga pendidikan menaungi mereka.
"Kami tahan intimidasi, tak cengeng nggak pernah menyerah dengan keadaan."
(mdk/yud)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya