Pemerintah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, menunjukkan komitmennya dalam mendukung sektor perikanan lokal. Mereka berkolaborasi dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) untuk mengatasi masalah ketersediaan benih udang windu bagi para petambak. Inisiatif strategis ini melibatkan partisipasi aktif siswa SMK Negeri 3 Tanjung Batu jurusan perikanan, membuktikan pendekatan inovatif dalam pengembangan sumber daya manusia.
Usaha ini menandai investasi perdana dari program Biru Fund yang digagas oleh YKAN, bertujuan untuk memperkuat akses petambak terhadap benih berkualitas. Implementasinya dilakukan melalui revitalisasi fasilitas pembenihan (hatchery) udang windu yang berlokasi di SMK tersebut. Langkah ini sekaligus mendorong praktik budi daya yang berkelanjutan di wilayah Berau.
Kolaborasi ini merupakan terobosan penting dalam penyediaan benur unggul, termasuk hasil transformasi teknologi budi daya air payau melalui pembiayaan dari program Biru Fund. Diharapkan, program ini dapat menjadi model kerja sama yang berkelanjutan dan berkontribusi nyata terhadap konservasi serta peningkatan mata pencarian masyarakat.
Advertisement
Advertisement
Peningkatan produksi benih udang windu di SMKN 3 Tanjung Batu menjadi contoh konkret pengembangan ekonomi kerakyatan. Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Berau, Abdul Majid, menegaskan bahwa ini adalah hasil kolaborasi apik antara pemerintah, swasta, dan lembaga masyarakat. Inisiatif ini merupakan terobosan signifikan dalam penyediaan benur unggul.
Kolaborasi ini juga mencakup transformasi teknologi budi daya air payau yang didukung penuh oleh pembiayaan dari program Biru Fund. Hasil kerja sama ini merupakan bentuk inovasi serta upaya kreatif dari pemerintah dan berbagai pihak terkait. Tujuannya adalah menjawab kebutuhan mendasar petambak Berau yang selama ini kesulitan mendapatkan benur berkualitas.
Program ini sejalan dengan visi dan misi Bupati Berau untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di sektor perikanan. Abdul Majid juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur atas dukungan berkelanjutan. Dukungan tersebut sangat penting dalam mengoptimalkan fungsi pelayanan kepada masyarakat Berau.
Advertisement
Advertisement
Abdul Majid berharap program dari mitra seperti YKAN dapat terus menginspirasi pihak lain untuk mengembangkan terobosan bisnis berkelanjutan. Hal ini penting demi masa depan sumber penghidupan masyarakat pesisir dan mendukung program inovasi yang sudah ada. Beberapa program tersebut termasuk Kawan Baik, Sang Ratu, dan Sipuri.
Menurut Majid, model kerja sama ini dapat direplikasi di berbagai daerah lain. Ini adalah bisnis berkelanjutan di sektor perikanan yang tidak hanya berkontribusi pada konservasi, tetapi juga pada peningkatan mata pencarian masyarakat. Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana sinergi berbagai pihak dapat menciptakan dampak positif yang luas.
Direktur Program Kelautan YKAN, Muhammad Ilman, menjelaskan bahwa inisiatif ini dirancang untuk menjawab tantangan utama sektor tambak di Kabupaten Berau. Tantangan tersebut adalah keterbatasan pasokan benih yang selama ini sangat bergantung pada pasokan dari daerah lain. Pasokan benih seringkali berasal dari Surabaya (Jawa Timur) dan Tarakan (Kalimantan Utara).
Advertisement
Advertisement
Ketergantungan pada pasokan dari luar daerah kerap menyebabkan ketidakpastian kualitas dan jumlah benih. Risiko kematian benur selama proses pengiriman juga menjadi masalah serius yang sering dihadapi petambak. Kondisi ini seringkali merugikan dan menghambat produktivitas budidaya udang.
Dengan hadirnya hatchery lokal di Berau, petambak kini dapat memperoleh benih dengan kualitas yang lebih terjaga. Selain itu, penghitungan jumlah benih juga dapat dilakukan secara akurat sesuai kebutuhan produksi mereka. Ini mengurangi risiko kerugian dan meningkatkan efisiensi budidaya.
Selain memperkuat sisi produksi, program ini juga memperkenalkan skema pembiayaan yang lebih inklusif bagi para petambak. Melalui Biru Fund, petambak dapat mengakses pembiayaan dengan bunga 0 persen. Mereka juga diberikan masa tenggang pembayaran hingga 10 bulan, memberikan fleksibilitas finansial yang sangat dibutuhkan.
Advertisement
Pengembalian dana dilakukan berdasarkan persentase keuntungan, sehingga menyesuaikan dengan hasil panen. Skema ini mengurangi tekanan finansial yang biasa dihadapi petambak di awal siklus budi daya. Hal ini diharapkan dapat mendorong lebih banyak petambak untuk berpartisipasi dan mengembangkan usaha mereka secara berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews