Ribuan warga Kenya turun ke jalan di pusat ibu kota Nairobi pada pekan lalu memprotes pemerintah yang dinilai gagal menangani isu korupsi, pengangguran, dan tingginya biaya hidup. Banyak toko dan bisnis tutup, sementara massa membawa bendera nasional Kenya dan poster bergambar korban protes tahun lalu.
Beberapa demonstran membakar ban dan meneriakkan slogan-slogan menentang Presiden William Ruto. Ketegangan meningkat menjadi bentrokan, ketika polisi membubarkan massa dengan gas air mata, meriam air, dan pemukulan menggunakan tongkat. Sebagai balasan, massa melemparkan batu dan benda lainnya ke arah petugas.
Melansir laman The Guardian, aksi serupa juga terjadi di kota-kota besar lain seperti Mombasa, Nakuru, dan Kisumu, serta di berbagai wilayah lainnya. Di Kota Kikuyu, Kabupaten Kiambu, sebagian gedung pengadilan dibakar oleh massa.
Pihak Otoritas Komunikasi Kenya memerintahkan stasiun televisi dan radio untuk menghentikan siaran langsung protes. Mereka yang melanggar diancam dengan sanksi hukum. Akibatnya, saluran TV seperti NTV, KTN, K24, dan Kameme diputus siarannya.
Seiring dengan meningkatnya eskalasi di pusat kota, gedung parlemen di Nairobi ditinggalkan oleh para anggota dewan. Di luar kota, massa terus berdatangan, berjalan menyusuri jalan utama menuju ibu kota.
Advertisement
Kemarahan publik terhadap pemerintah telah tumbuh selama beberapa tahun terakhir, dipicu oleh dugaan korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, serta ketidakmampuan pemerintah menekan biaya hidup yang kian melambung.
Gelombang protes terbaru ini mengingatkan pada demonstrasi besar tahun lalu yang dipicu oleh rencana kenaikan pajak. Puluhan orang dilaporkan tewas, dan banyak lainnya menghilang secara misterius.
Meskipun intensitas protes sempat mereda, laporan tentang penangkapan, pembunuhan, dan penghilangan paksa terus berlanjut, memperbesar kemarahan rakyat terhadap aparat keamanan.
Dua insiden pada bulan ini turut memperkeruh situasi. Pertama, kematian guru bernama Albert Ojwang saat dalam tahanan polisi setelah sebelumnya mengkritik pejabat senior kepolisian di media sosial. Kedua, penembakan terhadap pedagang bernama Boniface Kariuki dari jarak dekat saat mengikuti unjuk rasa untuk menuntut keadilan atas kematian Ojwang.
Advertisement
Stephanie Marie, seorang pemuda yang ikut berdemo di Nairobi, mengatakan ia turun ke jalan karena kematian Ojwang. "Bisa saja itu kakak saya, sepupu saya, atau siapa saja. Mereka itu anak-anak biasa yang hanya menjalani hidup mereka," ujarnya.
Dia menyerukan agar para pemimpin negara mendengar suara rakyat. "Rakyat yang memilih kalian. Kalian ada di sana untuk rakyat, bekerja untuk rakyat, Kami hanya ingin kalian mendengarkan. Itu saja."
Seorang demonstran muda lainnya di Nairobi, bernama Innocent, mengenang sahabatnya yang tewas dalam protes tahun lalu. Meskipun terpapar gas air mata berkali-kali, ia tetap bertahan di barisan depan.
"Anak muda tidak bisa dihentikan,” katanya.
"Kami datang untuk memperjuangkan hak kami.”
"Kami tidak mau dipimpin oleh pemimpin yang buruk."