Kementan Pastikan Stok Pupuk Subsidi Cukup untuk MT Oktober-Maret, Tersisa 3,96 Juta Ton Belum Ditebus!

Kementerian Pertanian (Kementan) menjamin ketersediaan pupuk subsidi mencukupi untuk musim tanam Oktober-Maret 2025/2026, namun masih banyak petani yang belum menebus pupuk subsidi.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kementan Pastikan Stok Pupuk Subsidi Cukup untuk MT Oktober-Maret, Tersisa 3,96 Juta Ton Belum Ditebus!
Kementerian Pertanian (Kementan) menjamin ketersediaan pupuk subsidi mencukupi untuk musim tanam Oktober-Maret 2025/2026, namun masih banyak petani yang belum menebus pupuk subsidi. (AntaraNews)

Kementerian Pertanian (Kementan) secara tegas memastikan bahwa ketersediaan pupuk subsidi sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan para petani di seluruh Indonesia, terutama menjelang musim tanam (MT) periode Oktober hingga Maret 2025/2026. Kepastian ini disampaikan untuk menenangkan kekhawatiran petani dan memastikan kelancaran produksi pertanian nasional. Dengan stok yang memadai, diharapkan tidak ada kendala berarti dalam proses budidaya tanaman.

Yustina Retno Widiati, Ketua Tim Kerja Alokasi Pupuk Bersubsidi Direktorat Pupuk Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan, mengimbau seluruh petani yang telah terdaftar dalam sistem e-RDKK agar segera melakukan penebusan pupuk bersubsidi. Meskipun ketersediaan pupuk terjamin, data menunjukkan bahwa masih banyak petani yang belum memanfaatkan alokasi pupuk yang telah disediakan pemerintah. Kondisi ini menjadi perhatian utama Kementan dalam upaya optimalisasi penyaluran pupuk.

Hingga saat ini, tercatat jutaan petani yang belum menebus hak pupuk subsidi mereka, padahal alokasi pupuk secara nasional masih sangat besar. Data menunjukkan bahwa realisasi penyerapan pupuk subsidi baru mencapai sekitar 58,58 persen dari total alokasi yang tersedia. Oleh karena itu, Kementan terus mendorong percepatan penebusan pupuk agar manfaatnya dapat dirasakan maksimal oleh para petani di lapangan.

Stok Pupuk Subsidi Aman, Petani Diminta Segera Menebus

Kementerian Pertanian (Kementan) mengonfirmasi bahwa stok pupuk subsidi untuk musim tanam Oktober-Maret 2025/2026 dalam kondisi aman dan mencukupi. Berdasarkan data Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), jumlah petani yang tercatat dalam e-RDKK 2025 dan telah disahkan oleh Kepala Dinas daerah mencapai 14.969.691 NIK. Namun, hingga 26 September 2025, hanya 8.816.429 NIK petani atau sekitar 58,90 persen yang telah melakukan penebusan pupuk.

Pemerintah telah mengalokasikan pupuk subsidi sebanyak 9,55 juta ton untuk tahun 2025 sesuai dengan e-RDKK. Dari jumlah tersebut, realisasi penyerapan pupuk subsidi baru mencapai 5,59 juta ton, atau 58,58 persen dari total alokasi. Ini berarti masih tersedia sekitar 3,96 juta ton pupuk subsidi yang belum ditebus oleh petani. Ketersediaan ini meliputi berbagai jenis pupuk esensial seperti Urea, NPK (15-10-12), NPK Formula Khusus, Organik, dan ZA.

Yustina Retno Widiati dari Kementan menyoroti bahwa penyerapan pupuk ZA merupakan yang paling rendah, hanya mencapai 0,94 persen atau 873 ton dari alokasi sebanyak 93.106 ton. Kondisi ini mendorong Kementan untuk melakukan pemutakhiran data kembali bagi penerima pupuk ZA. Yustina menyatakan, "Hingga kini masih banyak petani yang belum menebus pupuk subsidi."

Kendala Penyerapan dan Upaya Pemutakhiran Data

Meskipun stok pupuk subsidi melimpah, Kementan menghadapi tantangan dalam hal penyerapan oleh petani. Rendahnya tingkat penebusan, khususnya untuk pupuk ZA, mengindikasikan adanya kendala yang perlu diatasi. Fungsi koordinasi dalam tata kelola pupuk bersubsidi menjadi sangat krusial, dimulai dari usulan kebutuhan kelompok tani, input data petani di e-RDKK oleh penyuluh, hingga verifikasi usulan secara berjenjang melalui sistem e-RDKK.

Proses validasi juga melibatkan pengesahan oleh Kepala Dinas Pertanian setempat untuk memastikan data penerima adalah akurat. VP Manajemen Stakeholder PT Pupuk Indonesia, Frans Adisuranta Ginting, mengungkapkan bahwa masih terdapat 6,89 juta atau 46,2 persen petani terdaftar e-RDKK yang belum melakukan penebusan pupuk pada tahun ini. Sementara itu, jumlah petani yang sudah menebus adalah 8,01 juta jiwa dari total 14,91 juta jiwa petani yang tercatat di e-RDKK.

Melihat kondisi ini, Frans Adisuranta Ginting menekankan perlunya pemutakhiran data e-RDKK secara berkala. "Karena itu, perlunya pemutakhiran data E-RDKK. Sesuai Permentan No. 15 Tahun 2025, pemerintah memutuskan e-RDKK dapat diperbaharui pada tahun berjalan," jelasnya. Pembaruan data ini diharapkan dapat mengatasi kendala penyerapan dan memastikan pupuk sampai kepada petani yang berhak.

Dukungan Distribusi dari PT Pupuk Indonesia

PT Pupuk Indonesia, sebagai salah satu pilar utama dalam penyediaan pupuk nasional, menyatakan kesiapannya untuk mendukung ketersediaan stok pupuk pada musim tanam Oktober-Maret. Frans Adisuranta Ginting menegaskan bahwa dengan lima anak perusahaan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, Pupuk Indonesia memiliki kapasitas untuk memastikan distribusi pupuk berjalan lancar. Jaringan penjualan yang luas, meliputi 1.055 distributor dan 27.189 pengecer, menjadi tulang punggung dalam menyalurkan pupuk hingga ke tangan petani.

Saat ini, Pupuk Indonesia telah menunjuk 1.030 PUD dan 26.459 PPTS yang tersebar di seluruh Indonesia untuk memperkuat jaringan distribusi. Data Pupuk Indonesia menunjukkan bahwa realisasi penyaluran pupuk bersubsidi hingga 28 September 2025 telah mencapai 62,2 persen dari alokasi kontrak dan 58,8 persen dari alokasi sesuai Keputusan Menteri Pertanian. Realisasi penebusan pupuk subsidi oleh petani tercatat sekitar 5.617.482 ton.

Untuk menjamin ketersediaan pupuk subsidi di setiap daerah, Pupuk Indonesia melakukan pemantauan harian terhadap stok pupuk hingga ke tingkat gudang penyangga kabupaten. Upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi kelangkaan dan memastikan pasokan selalu tersedia saat dibutuhkan oleh petani. Dengan sinergi antara Kementan dan Pupuk Indonesia, diharapkan kebutuhan pupuk petani dapat terpenuhi secara optimal.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi