Kemenekraf Perkuat Pengembangan Desa Wisata Berkelanjutan di Sulawesi Selatan Melalui Poltekpar Makassar

Poltekpar Makassar mendampingi 24 desa wisata di Sulawesi Selatan sebagai bagian dari program Kemenekraf untuk mendorong pengembangan desa wisata berkelanjutan, salah satunya di Tana Toraja.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kemenekraf Perkuat Pengembangan Desa Wisata Berkelanjutan di Sulawesi Selatan Melalui Poltekpar Makassar
Poltekpar Makassar mendampingi 24 desa wisata di Sulawesi Selatan sebagai bagian dari program Kemenekraf untuk mendorong pengembangan desa wisata berkelanjutan, salah satunya di Tana Toraja. (AntaraNews)

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) melalui Politeknik Pariwisata Negeri Makassar (Poltekpar Makassar) aktif melakukan pendampingan desa wisata di 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. Upaya ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk memperkuat sektor pariwisata berbasis komunitas. Salah satu wilayah yang menjadi fokus pendampingan adalah desa wisata di Tana Toraja, yang memiliki potensi budaya dan alam luar biasa.

Direktur Poltekpar Makassar, Dr. Herry Rachmat Widjaja, menegaskan bahwa Kemenekraf terus mendorong penguatan desa wisata sebagai tulang punggung pariwisata berkelanjutan di Indonesia. Program pendampingan ini dirancang untuk membangun dan mengembangkan desa wisata dengan prinsip keberlanjutan. Poltekpar Makassar, sebagai lembaga pendidikan pariwisata, turut serta mendukung penuh program unggulan Kemenekraf ini.

Pendampingan di desa wisata Tana Toraja secara khusus menggunakan pendekatan Focus Community Coaching on Sustainable Development. Pendekatan ini berfokus pada penguatan dan pengembangan desa wisata secara berkelanjutan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) lokal. Selain itu, pengelolaan destinasi dan pelestarian budaya lokal juga menjadi prioritas utama.

Kemenekraf, melalui Poltekpar Makassar, mengambil peran sentral dalam inisiatif pengembangan desa wisata di Sulawesi Selatan. Pendampingan ini mencakup berbagai aspek penting, mulai dari perencanaan strategis hingga implementasi program di lapangan. Tujuannya adalah menciptakan ekosistem pariwisata yang mandiri dan berdaya saing.

Dr. Herry Rachmat Widjaja menjelaskan bahwa keterlibatan Poltekpar Makassar sejalan dengan visi Kemenekraf untuk menjadikan desa wisata sebagai motor penggerak ekonomi lokal. Dengan demikian, program ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan kunjungan wisatawan. Namun juga pada pemberdayaan masyarakat setempat.

Sebanyak 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan menjadi sasaran program ini, menunjukkan skala dan ambisi Kemenekraf dalam memperluas jangkauan pariwisata berkelanjutan. Fokus pada desa wisata diharapkan dapat mendistribusikan manfaat ekonomi pariwisata secara lebih merata. Hal ini sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan budaya.

Pendampingan di desa wisata Tana Toraja mengadopsi pendekatan Focus Community Coaching on Sustainable Development. Pendekatan ini secara spesifik menitikberatkan pada peningkatan kapasitas SDM lokal. Selain itu, pengelolaan destinasi wisata juga diperkuat untuk memastikan keberlanjutan operasional dan kualitas layanan. Program ini bertujuan menciptakan pengalaman wisata yang otentik dan bertanggung jawab.

Pelestarian budaya lokal menjadi salah satu pilar utama dalam pengembangan desa wisata di Toraja. Marla, seorang lulusan Arkeologi Universitas Hasanuddin dan masyarakat adat Toraja, menyoroti pentingnya tongkonan. Tongkonan tidak hanya sebagai rumah adat, tetapi juga pusat pendidikan sosial dan keagamaan yang memperkuat identitas budaya masyarakat setempat. Fungsi ini menjadikannya aset tak ternilai dalam pariwisata berbasis budaya.

Marla menjelaskan bahwa tongkonan berperan besar dalam memperkenalkan nilai-nilai budaya Toraja kepada generasi muda sejak dini. “Sebagai pusat pendidikan, bukan hanya soal kemasyarakatan tetapi juga keagamaan itu berpusat di tongkonan,” jelas Marla. “Kegiatan di tongkonan melibatkan orang tua dan generasi anak-anak yang ikut melihat secara tidak langsung, sehingga mereka diperkenalkan nilai-nilai budaya Toraja sejak dini.” Ini menunjukkan bagaimana kearifan lokal terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan adanya pendampingan dan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi pariwisata seperti Poltekpar Makassar, serta masyarakat lokal, desa wisata di Tana Toraja diharapkan dapat menjadi contoh pengembangan pariwisata berkelanjutan. Upaya ini tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan nasional. Namun juga memastikan nilai-nilai budaya serta kearifan lokal Toraja tetap terjaga di tengah berkembangnya industri pariwisata yang semakin pesat. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan Toraja.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi