Kemenekraf: Industri Kreatif Resilien Hadapi Tantangan Global, Tarik Investasi Triliunan

Deputi Pengembangan Strategis Kemenekraf Cecep Rukendi menegaskan **industri kreatif resilien** terhadap dinamika global, dengan nilai investasi subsektor aplikasi mencapai Rp40,94 triliun pada triwulan 1-3 tahun 2025.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kemenekraf: Industri Kreatif Resilien Hadapi Tantangan Global, Tarik Investasi Triliunan
Deputi Pengembangan Strategis Kemenekraf Cecep Rukendi menegaskan **industri kreatif resilien** terhadap dinamika global, dengan nilai investasi subsektor aplikasi mencapai Rp40,94 triliun pada triwulan 1-3 tahun 2025. (AntaraNews)

Deputi Pengembangan Strategis Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf), Cecep Rukendi, menyatakan bahwa industri kreatif Indonesia menunjukkan ketahanan luar biasa. Industri ini tetap resilien di tengah berbagai tantangan serta dinamika perekonomian dan geopolitik global saat ini. Pernyataan ini disampaikan Cecep di Jakarta pada Jumat, 30 Januari.

Menurut Cecep, kunci utama resiliensi ini terletak pada nilai tambah dari kreativitas yang tidak terbatas. Produk kreatif tidak terpengaruh fluktuasi pasar massal karena memiliki pasar khusus. Hal ini membuat sektor ini relatif stabil menghadapi situasi ekonomi dan politik dunia.

Kemenekraf akan terus memaksimalkan potensi dari 17 subsektor ekonomi kreatif serta peningkatan kompetensi talenta. Tujuannya adalah agar ekosistem industri ini dapat berkontribusi sesuai dengan amanat Rencana Pengembangan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2029.

Cecep Rukendi menjelaskan bahwa **industri kreatif resilien** karena esensinya yang berbasis kreativitas. Nilai tambah yang dihasilkan dari ide-ide inovatif seringkali memiliki harga tak terbatas. Ini membedakannya dari produk barang massal yang lebih rentan terhadap gejolak pasar global.

Selain itu, pasar untuk produk kreatif cenderung lebih spesifik dan loyal. Konsumen produk dan jasa kreatif memiliki preferensi khusus yang tidak mudah bergeser. Kondisi ini memberikan stabilitas relatif bagi industri di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Ketahanan ini juga didukung oleh kemampuan adaptasi yang tinggi dalam sektor kreatif. Para pelaku industri mampu berinovasi dan menyesuaikan diri dengan tren baru. Fleksibilitas ini menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan bisnis.

Kemenekraf berkomitmen untuk mengoptimalkan seluruh potensi dari 17 subsektor ekonomi kreatif. Upaya ini sejalan dengan visi Rencana Pengembangan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2029. Peningkatan kompetensi talenta juga menjadi agenda utama untuk memperkuat ekosistem.

Dari total 17 subsektor, pemerintah telah menetapkan tujuh subsektor sebagai prioritas utama. Subsektor tersebut meliputi kuliner, fesyen, kerajinan/kriya, aplikasi digital, gim, film, dan musik. Pemilihan ini didasarkan pada potensi besar dan minat investasi yang tinggi.

Fokus pada subsektor prioritas ini diharapkan dapat mendorong kontribusi yang lebih signifikan. Kemenekraf menargetkan subsektor seperti film dan musik dapat menjadi juara di tingkat internasional. Ini akan meningkatkan citra dan daya saing Indonesia di kancah global.

Minat investasi terhadap produk-produk kreatif Indonesia menunjukkan tren positif sepanjang tahun lalu. Hal ini menjadi indikator kuat bahwa **industri kreatif resilien** dan menarik bagi investor. Data investasi ini diolah oleh Kemenekraf dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM.

Pada triwulan 1-3 tahun 2025, subsektor aplikasi digital mencatat penerimaan investasi tertinggi. Nilai investasi untuk subsektor ini mencapai Rp40,94 triliun. Subsektor aplikasi tersebut meliputi teknologi finansial (tekfin/fintech), e-commerce, aplikasi berbasis AI, dan aplikasi hiburan.

Investasi signifikan juga mengalir ke subsektor lainnya, menunjukkan diversifikasi daya tarik:

  • Fesyen: Rp26 triliun
  • Kriya: Rp22,37 triliun
  • Kuliner: Rp20,38 triliun
  • Musik: Rp4,25 triliun
  • Pengembang Gim: Rp1,86 triliun
  • Film, Animasi, Video: Rp1,64 triliun

Cecep berharap peningkatan enabler ekosistem dan fokus pada tujuh subsektor prioritas akan terus meningkatkan kontribusi. Ini termasuk menjadikan film dan musik sebagai juara di tingkat internasional.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi