Indonesia dan China Perkuat Teknologi Kelautan Indonesia Melalui Pelatihan Inovatif

Kementerian Kelautan dan Perikanan RI bersama FIO Tiongkok menggelar pelatihan intensif untuk meningkatkan kapabilitas Teknologi Kelautan Indonesia, menjawab kebutuhan SDM dan ekonomi biru.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Indonesia dan China Perkuat Teknologi Kelautan Indonesia Melalui Pelatihan Inovatif
Kementerian Kelautan dan Perikanan RI bersama FIO Tiongkok menggelar pelatihan intensif untuk meningkatkan kapabilitas Teknologi Kelautan Indonesia, menjawab kebutuhan SDM dan ekonomi biru. (AntaraNews)

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia telah berkolaborasi dengan First Institute of Oceanography (FIO) Kementerian Sumber Daya Alam Tiongkok. Kolaborasi ini diwujudkan melalui penyelenggaraan China-Indonesia Marine Technology Training. Pelatihan ini bertujuan utama untuk meningkatkan kapabilitas teknologi kelautan Indonesia.

Program intensif ini berlangsung selama empat hari, mulai dari tanggal 17 hingga 20 November, di beberapa lokasi strategis. Pelaksanaan kegiatan dipusatkan di Politeknik Ahli Usaha Perikanan (AUP) Kampus Jakarta, Kantor Pusat KKP, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Serpong, Tangerang Selatan. Inisiatif ini menandai langkah konkret dalam memperkuat sektor maritim nasional.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan (BPPSDMKP) KKP, I Nyoman Radiarta, menjelaskan bahwa sinergi ini didasari oleh posisi Indonesia sebagai negara maritim. Potensi ekonomi biru yang besar perlu dimanfaatkan secara optimal. Pelatihan ini diharapkan dapat menjawab kebutuhan mendesak pengembangan SDM di bidang teknologi kelautan.

I Nyoman Radiarta menegaskan bahwa program ini dirancang khusus untuk meningkatkan kapabilitas teknologi kelautan Indonesia. Hal ini dilakukan melalui transfer pengetahuan tingkat lanjut dan inisiatif pengembangan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM). "Program ini dirancang untuk meningkatkan kapabilitas teknologi kelautan Indonesia melalui transfer pengetahuan tingkat lanjut dan inisiatif pengembangan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM)," kata I Nyoman Radiarta.

Sinergi ini dilatarbelakangi oleh beberapa faktor penting. Di antaranya adalah posisi Indonesia sebagai negara maritim dengan potensi ekonomi biru yang perlu dimanfaatkan secara optimal. Selain itu, terdapat kebutuhan mendesak untuk pengembangan dan peningkatan kapasitas tenaga kerja teknologi kelautan. Keberhasilan inisiatif kerja sama maritim Indonesia-China juga menjadi pendorong utama. Pentingnya adopsi teknologi berkelanjutan untuk mencapai target netralitas karbon serta meningkatnya permintaan akan tenaga profesional teknologi kelautan turut menjadi pertimbangan.

Program pelatihan ini secara spesifik mengatasi kesenjangan kompetensi yang teridentifikasi antara kebutuhan industri dan kemampuan SDM yang ada. Lebih lanjut, inisiatif ini memfasilitasi peluang transfer teknologi yang krusial. Tujuannya adalah membangun kerangka kerja untuk kerja sama bilateral jangka panjang dalam pengembangan teknologi kelautan antara kedua negara.

Tujuan utama dari program ini adalah mengembangkan ekosistem komprehensif tenaga profesional teknologi kelautan Indonesia yang kompeten. Para profesional ini diharapkan mampu menerapkan teknologi berkelanjutan untuk mendukung agenda pembangunan ekonomi biru nasional. “Kami bersatu dengan satu tujuan bersama untuk belajar, terhubung, dan menciptakan ide-ide baru untuk masa depan sektor kelautan dan perikanan kita. Laut adalah ruang kelas kita, dan pengetahuan adalah wadah kita yang paling ampuh,” ujar Nyoman.

Selama pelatihan, para peserta mendapatkan pengetahuan mendalam di berbagai bidang sektor kelautan dan perikanan. Materi yang disampaikan meliputi kebijakan ekonomi biru, baik di China maupun Indonesia, serta restorasi ekologi kelautan. Aplikasi pigmen alami juga menjadi salah satu topik menarik yang dibahas dalam sesi tersebut.

Selain itu, pelatihan juga mencakup budidaya alga dan netralitas karbon, dengan fokus pada budidaya rumput laut sebagai cara menjanjikan untuk memitigasi perubahan iklim. Teknologi akuakultur berkelanjutan dan penilaian dampak lingkungan dalam teknik kelautan juga menjadi bagian penting dari kurikulum. Topik-topik ini dirancang untuk memperkaya pemahaman peserta mengenai teknologi kelautan modern.

Director of Indonesia-China Climate and Ocean Center sekaligus Director of the Establishment PMO at the FIO, Bailin Cong, menyampaikan pandangannya. Menurutnya, ekosistem laut adalah urat nadi planet bumi, dan ekonomi biru telah muncul sebagai pendorong utama pembangunan berkelanjutan di kedua negara. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya kerja sama maritim.

China dan Indonesia, sebagai dua negara maritim besar dengan garis pantai yang luas dan sumber daya laut yang melimpah, memiliki visi dan tanggung jawab yang sama. Visi tersebut meliputi eksplorasi potensi laut, perlindungan keseimbangan ekologisnya, dan pendorong kerja sama yang saling menguntungkan di bidang teknologi dan industri kelautan. "Pelatihan ini bukan sekadar untuk diseminasi pengetahuan melainkan jembatan pertukaran, katalis kolaborasi, dan lahan persemaian bagi kemitraan di masa depan," kata Bailin.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi