IESR Nilai Kebijakan WFH Efektif Tekan Konsumsi BBM di Tengah Gejolak Harga Energi Global

Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai kebijakan WFH satu hari dalam sepekan sebagai langkah tepat untuk mengurangi konsumsi BBM di tengah tekanan harga energi global, meski dampaknya perlu proporsional.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
IESR Nilai Kebijakan WFH Efektif Tekan Konsumsi BBM di Tengah Gejolak Harga Energi Global
Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai kebijakan WFH satu hari dalam sepekan sebagai langkah tepat untuk mengurangi konsumsi BBM di tengah tekanan harga energi global, meski dampaknya perlu proporsional. (AntaraNews)

Institute for Essential Services Reform (IESR) menyatakan kebijakan kerja dari rumah (WFH) satu hari dalam sepekan merupakan langkah yang cukup efektif. Kebijakan ini dinilai tepat untuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Hal ini disampaikan di tengah tekanan harga energi global yang terus bergejolak.

CEO IESR, Fabby Tumiwa, menjelaskan bahwa WFH satu hari adalah respons rasional terhadap risiko pasokan energi global. Langkah darurat ini bertujuan menahan permintaan BBM. Keputusan terkait WFH sendiri akan segera diumumkan oleh pemerintah.

Kebijakan WFH diharapkan dapat meminimalisir perjalanan komuter di wilayah perkotaan. Ini juga akan memberikan ruang bagi pemerintah untuk menstabilkan pasokan energi. Selain itu, kebijakan ini bertujuan mengelola ekspektasi publik terkait konsumsi BBM.

Efektivitas dan Batasan Kebijakan WFH Menurut IESR

Fabby Tumiwa dari IESR menegaskan bahwa kebijakan WFH satu hari dalam seminggu merupakan langkah taktis mendesak. Kebijakan ini adalah bagian dari strategi manajemen permintaan energi. Tujuannya bukan sebagai pengganti pembenahan struktural pasokan atau transportasi publik.

Meskipun demikian, Fabby mengingatkan bahwa kebijakan WFH perlu ditempatkan secara proporsional. Manfaatnya memang nyata untuk segmen perjalanan kerja. Namun, dampaknya terhadap total konsumsi BBM nasional masih terbatas.

Konsumsi energi di Indonesia juga berasal dari berbagai kegiatan lain yang signifikan. Ini termasuk logistik, angkutan barang, dan perjalanan antarkota. Aktivitas ekonomi non-perkantoran seperti industri juga berkontribusi besar pada konsumsi BBM.

Oleh karena itu, IESR menyarankan penerapan WFH sebaiknya terukur dan berbasis sektor serta wilayah. Prioritas harus diberikan pada pekerjaan yang dapat dijalankan jarak jauh. Hal ini penting agar tidak menurunkan layanan publik dan produktivitas ekonomi secara keseluruhan.

Respons Pemerintah dan Proyeksi Pengurangan Konsumsi BBM

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, telah mengonfirmasi bahwa keputusan mengenai kebijakan kerja dari rumah (WFH) telah diambil. Pengumuman resmi terkait kebijakan ini akan disampaikan dalam waktu dekat. Purbaya menegaskan bahwa bukan dirinya yang akan mengumumkan kebijakan tersebut kepada publik.

Pemerintah menargetkan kebijakan WFH mampu menekan konsumsi BBM hingga 20 persen. Purbaya mengakui adanya perhitungan yang memperkirakan penurunan konsumsi tersebut. Namun, ia menambahkan bahwa angka tersebut belum bersifat pasti.

Purbaya juga menekankan bahwa dampak kebijakan WFH tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi. Kebijakan ini memiliki berbagai implikasi yang perlu dipertimbangkan secara menyeluruh. Ini menunjukkan pendekatan hati-hati dalam implementasinya.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi