Halal Tourism, Pariwisata Ramah Muslim yang Toleran dan Bersahabat

Sabtu, 12 Oktober 2019 14:29 Reporter : Merdeka
Halal Tourism, Pariwisata Ramah Muslim yang Toleran dan Bersahabat Cawapres Maruf Amin di Balai Kartini. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maruf Amin, memberikan pemahaman bahwa Halal Tourism merupakan salah satu indikator keberhasilan mendatangkan devisa negara khususnya di sektor pariwisata. Menurutnya, halal tourism adalah pariwisata muslim yang toleran dan bersahabat.

"Tetapi layanannya yang kita beri kehalalannya. Sehingga orang yang berkunjung ke Nusa Tenggara Barat (NTB) merasa nyaman dan menyenangkan. Jadi tidak akan pernah merubah alamnya atau objek wisata lainnya," kata Maruf Amin seperti ditulis Antara, Jakarta, Sabtu (12/10).

Menteri Pariwisata, Arief Yahya membeberkan sejumlah data mengenai prestasi Indonesia dalam Halal Tourism di kancah internasional. Prestasi ini sungguh sangat menggembirakan mengingat di 2030 menurut data GMTI, jumlah pengunjung wisata muslim mencapai 230 juta.

Pada tahun 2019 ini Indonesia berhasil menjadi The Best The World Halal Tourism Destination 2019 vesi GMTI (Global Moslem Tourism Index). Posisi Indonesia mengalahkan Malaysia, Turki, dan Arab Saudi.

Namun di sisi lain, prestasi Indonesia tersebut bisa menurun apabila tidak kita jaga bersama. Istilah Halal Tourism harus intensif dikomunikasikan sebagai pariwisata yang bersahabat, ramah, dan terbuka. Bukan dipersepsi sebagai pariwisata yang tertutup dan tidak aman untuk pengunjung wisata non muslim.

Hal tersebut diutarakan Pakar Ekonomi Kerakyatan, Frans Meroga Panggabean, disela-sela acara conference. Frans mengatakan bahwa acara-acara seperti conference ini perlu didorong agar masyarakat luas mengetahui bahwa Halal Tourism itu terbuka, bersahabat, dan mencatat kontribusi ekonomi yang signifikan bagi masyarakat setempat.

"Halal Tourism sebenarnya hanya terminologi untuk kepentingan branding dan marketing," jelas Frans. "Jadi memang masyarakat secara luas harus diberikan edukasi yang jelas agar tidak terjadi salah persepsi dengan istilah halal dan haram dalam terminologi agama," lanjut Frans.

Lebih lanjut Indonesia juga harus bisa menjaga citra sebagai negara muslim yang toleran dan terbuka, seperti halnya Malaysia, Turki, dan Emirat Arab. Di Indonesia sendiri ditunjukkan oleh Lombok yang merupakan destinasi muslim nomor 1 di Indonesia versi Indonesia Muslim Travel index (IMTI).

"Di Lombok kita lihat turis-turis luar negeri banyak berkunjung menikmati indahnya pantai dan keindahan alam lain dengan nyaman. Masyarakat Lombok juga sangat sadar bahwa pariwisata bisa menjadi andalan periuk nasi mereka," jelas Frans.

Hal ini juga diamini oleh Sekretaris Jenderal MUI Dr. Anwar Abas memperkuat pernyataan tersebut. "Diharapkan apa yang terjadi di Lombok bisa dijadikan benchmark destinasi pariwisata di daerah lainnya. Di tengah kelesuan ekonomi saat ini, pariwisata bisa menjadi terobosan untuk meningkatkan perekonomian setempat," jelasnya.

Reporter Magang: Winda Ayu Lestari [did]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini