Gaji Rp25-55 Juta! Kementrans Perluas Peluang Kerja Transmigran Jepang, Bidik Skill dan Investasi

Kementerian Transmigrasi dan AP2LN membuka lebar peluang kerja transmigran Jepang dengan gaji menarik, bertujuan meningkatkan skill dan menarik investasi kembali ke kawasan transmigrasi.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Gaji Rp25-55 Juta! Kementrans Perluas Peluang Kerja Transmigran Jepang, Bidik Skill dan Investasi
Kementerian Transmigrasi dan AP2LN membuka lebar peluang kerja transmigran Jepang dengan gaji menarik, bertujuan meningkatkan skill dan menarik investasi kembali ke kawasan transmigrasi. (Merdeka.com)

Kementerian Transmigrasi (Kementrans) bersama Asosiasi Penyelenggara Pemagangan Luar Negeri (AP2LN) secara aktif memperluas kesempatan kerja bagi transmigran di Jepang. Inisiatif ini dirancang untuk membekali para transmigran dengan ilmu dan pengalaman berharga. Tujuannya agar mereka dapat memberdayakan kawasan transmigrasi masing-masing setelah kembali ke Tanah Air.

Menteri Transmigrasi (Mentrans) M Iftitah Sulaiman Suryanagara mengungkapkan bahwa lebih dari 100 warga transmigran kini telah bekerja di berbagai sektor di Jepang. Mereka dilaporkan menerima gaji antara Rp25 juta hingga Rp55 juta per bulan, tergantung pada keahlian yang dimiliki. Program ini menjadi jembatan penting bagi peningkatan kesejahteraan dan kapasitas sumber daya manusia.

Para transmigran akan mengikuti skema pemagangan di Jepang dengan durasi bervariasi, mulai dari 2 hingga 10 tahun. Setelah menyelesaikan masa pemagangan, mereka diharapkan kembali ke kawasan transmigrasi. Di sana, mereka akan menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh untuk mendorong pembangunan ekonomi lokal.

Mentrans Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan komitmen pemerintah untuk meningkatkan upaya industrialisasi di kawasan transmigrasi. Pemetaan potensi ekonomi dilakukan untuk mendorong hilirisasi produk lokal serta menarik investasi. Langkah ini diharapkan menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan di daerah tersebut.

Dengan adanya industrialisasi, para transmigran yang telah memiliki pengalaman kerja di Jepang akan sangat dibutuhkan. Mereka diharapkan dapat terserap oleh berbagai industri yang dibangun di kawasan transmigrasi. Pengalaman di Jepang membekali mereka dengan kemampuan (skill), pengetahuan (knowledge), dan jejaring (networking) yang luas.

Program pemagangan ini dirancang agar transmigran tidak hanya mendapatkan gaji yang layak, tetapi juga keahlian yang relevan. “Kami ingin para transmigran itu nanti belajar ke Jepang, melakukan pemagangan. Ada beberapa skema, ada yang 2 tahun, 3 tahun, 5 tahun, atau bahkan 10 tahun untuk kemudian mereka nanti diberdayakan, balik lagi ke kawasan transmigrasi,” ujar Iftitah Sulaiman Suryanagara.

Jepang saat ini membutuhkan tenaga kerja asing dalam jumlah besar, dengan estimasi hingga 40 ribu orang dari Indonesia. Dari kuota tersebut, baru sekitar 25 ribu yang telah terpenuhi di 24 sektor berbeda. Sektor-sektor ini mencakup pertanian, kelautan, konstruksi, dan perawatan, menunjukkan beragamnya kebutuhan tenaga kerja.

Keunggulan tenaga kerja Indonesia di mata masyarakat Jepang juga menjadi faktor pendorong program ini. “Masyarakat Jepang sangat nge-value (menilai) tenaga kerja di Indonesia karena keramahtamahannya, hospitality-nya. Bahkan kita dianggap nomor satu di antara bangsa-bangsa yang lain sebagai tenaga kerja yang hadir di Jepang," kata Iftitah.

Sektor pertanian, perikanan, dan kelautan dinilai sangat potensial untuk menyerap pekerja Indonesia di Jepang. Sektor-sektor ini juga memiliki nilai ekonomi tinggi untuk diindustrialisasi di area transmigrasi. Kementrans berencana memberangkatkan transmigran untuk magang di ketiga sektor tersebut selama 3-5 tahun, agar mereka menguasai teknologi terkait.

Program ini menawarkan “keuntungan ganda” bagi Indonesia. “Jadi kita bisa dapat double benefit (keuntungan ganda). Satu, benefit skill (kemampuan) yang betul-betul nanti terlatih dari teknologi dan sistem kerja budaya Jepang. Yang kedua adalah investor yang nanti akan berinvestasi di Indonesia di kawasan transmigrasi,” jelas Mentrans Iftitah. Sejumlah perusahaan Jepang bahkan dijadwalkan menandatangani MoU dengan Kementrans pada Oktober mendatang, menandai komitmen investasi di Indonesia.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi