Fakta! Harga Beras di Penggilingan Rata-Rata Naik 0,36 Persen pada September 2025, Ini Rinciannya
BPS Jabar mencatat kenaikan **harga beras di penggilingan** rata-rata 0,36% pada September 2025. Simak detail kenaikan premium dan medium serta dampaknya pada NTP!
Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat melaporkan adanya kenaikan harga beras di tingkat penggilingan pada September 2025. Kenaikan ini tercatat secara rata-rata sebesar 0,36 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Pelaksana Tugas Kepala BPS Jawa Barat, Darwis Sitorus, menyampaikan data ini di Bandung pada Rabu (1/10).
Data tersebut menunjukkan bahwa rata-rata harga beras di penggilingan pada September 2025 mencapai Rp13.640 per kilogram. Angka ini mengalami peningkatan signifikan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yakni September 2024. Kenaikan ini menjadi perhatian utama bagi sektor pangan nasional.
Kenaikan harga ini tidak hanya berdampak pada konsumen, tetapi juga memengaruhi indikator ekonomi petani. Perubahan harga jual beras di penggilingan ini menjadi salah satu faktor penentu stabilitas ekonomi di tingkat pedesaan. BPS terus memantau pergerakan harga komoditas pangan strategis ini.
Rincian Fluktuasi Harga Beras Premium dan Medium
Secara lebih rinci, BPS Jawa Barat menguraikan pergerakan harga untuk setiap jenis beras. Harga beras premium di penggilingan tercatat mencapai Rp13.945 per kilogram. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 0,79 persen dibandingkan dengan posisi harga pada Agustus 2025.
Sementara itu, untuk jenis beras medium, terjadi sedikit penurunan harga di tingkat penggilingan. Harga beras medium tercatat sebesar Rp13.306 per kilogram. Penurunan ini adalah sebesar 0,17 persen jika dibandingkan dengan harga pada bulan sebelumnya, Agustus 2025.
Meskipun ada penurunan pada beras medium, secara keseluruhan rata-rata harga beras di penggilingan tetap menunjukkan tren kenaikan. "Sehingga secara rata-rata harga beras di penggilingan September 2025 sebesar Rp13.640, naik 0,36 persen dibandingkan Agustus 2025," kata Darwis Sitorus. Kenaikan tahunan (year on year) pada September 2025 bahkan mencapai 5,47 persen dibandingkan September 2024.
Dampak Kenaikan Harga Beras pada Nilai Tukar Petani (NTP)
Kenaikan harga beras di penggilingan ini memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan petani. BPS mencatat bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) mengalami kenaikan sebesar 0,44 persen pada September 2025. Ini menunjukkan bahwa daya beli petani secara agregat sedikit membaik.
Peningkatan NTP ini terjadi karena Indeks yang diterima petani (It) lebih tinggi dibandingkan Indeks yang dibayar petani (Ib). Indeks yang diterima petani tercatat sebesar 141,57, sedangkan Indeks yang dibayar petani adalah 121,91. Kesenjangan positif ini mengindikasikan pendapatan petani tumbuh lebih cepat dari pengeluaran mereka.
Beberapa komoditas turut menyumbang kenaikan pada Indeks yang diterima petani (It). Komoditas tersebut di antaranya adalah gabah, cabai merah, dan ayam ras pedaging, yang mengalami peningkatan harga di tingkat petani. Di sisi lain, Indeks yang dibayar petani (Ib) juga mengalami kenaikan sebesar 0,10 persen.
Kenaikan pada Indeks yang dibayar petani (Ib) ini dipicu oleh peningkatan harga pada beberapa komoditas input pertanian dan kebutuhan rumah tangga. Komoditas penyumbang kenaikan Ib meliputi daging ayam ras, cabai merah, dan jeruk. Hal ini menunjukkan adanya fluktuasi harga di berbagai sektor.
Perkembangan Nilai Tukar Usaha Petani dan Kinerja Subsektor
Sejalan dengan kenaikan NTP, Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) juga mengalami peningkatan. NTUP tercatat naik sebesar 0,47 persen pada September 2025, mengindikasikan efisiensi usaha pertanian yang membaik. Indeks harga diterima petani (It) sebesar 141,57 naik 0,54 persen dibanding indeks pada Agustus 2025.
Selain itu, Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) juga menunjukkan kenaikan. BPPBM tercatat sebesar 118,65, naik 0,07 persen dibandingkan indeks pada Agustus 2025. Peningkatan ini mencerminkan adanya kenaikan biaya operasional dan investasi di sektor pertanian.
Berdasarkan subsektor, Darwis menambahkan bahwa subsektor peternakan mengalami kenaikan tertinggi, yakni sebesar 1,82 persen. Diikuti oleh subsektor tanaman pangan dengan kenaikan 0,61 persen, dan subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,09 persen. Kenaikan ini menunjukkan kinerja positif di beberapa sektor pertanian.
Namun, tidak semua subsektor mengalami pertumbuhan positif. Darwis menyatakan bahwa "subsektor lain mengalami penurunan sepanjang September 2025." Hal ini menunjukkan adanya variasi kinerja antar subsektor pertanian di Jawa Barat pada periode tersebut, yang perlu menjadi perhatian lebih lanjut.
Sumber: AntaraNews