Dana Asing Kabur dari RI Akibat Perang Dagang Capai Rp11,3 Triliun

Jumat, 17 Mei 2019 15:52 Reporter : Yayu Agustini Rahayu
Dana Asing Kabur dari RI Akibat Perang Dagang Capai Rp11,3 Triliun Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. ©2018 Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

Merdeka.com - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengungkapkan dampak ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China terasa di seluruh negara, termasuk Indonesia. Bahkan, dana asing yang keluar (outflow) dari Indonesia mencapai Rp11,3 triliun.

"Yang pertama dampaknya terjadi kita lihat tadi, modal asing yang keluar terutama portofolio outflow kalau menurut data settlement, antara 13-16 Mei terjadi aliran modal asing yang keluar dari Indonesia nett jual Rp11,3 Triliun," kata dia saat ditemui di Mesjid Kompleks Gedung BI, Jakarta, Jumat (17/5).

Outflow tersebut terdiri dari Rp7,6 Triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Rp4,1 Triliun di pasar saham. "Ini dua-duanya umumnya adalah investor jangka pendek atau sifatnya trader, biasanya mereka masuk, termasuk juga di awal tahun ini, dalam dua minggu ini keluar karena merespon ketidakpastian pasar keuangan di global," ujarnya.

Ketegangan perang dagang, lanjutnya, memicu peningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global, sehingga menimbulkan dampak peralihan modal yang semula masuk ke emerging market (negara berkembang) termasuk Indonesia, malah kembali pulang ke negara-negara maju.

"Dan tentu saja, itu juga memberikan tekanan terhadap nilai tukar Rupiah," dia menambahkan.

Kendati demikian dia menegaskan dalam konteks ini BI selalu berada di pasar untuk melakukan langkah stabilisasi nilai tukar Rupiah dengan intervensi ganda, baik melalui pasar valas di spot maupun Domestic Non Delivery Forward (DNDF).

"Demikian juga pembelian SBN dari pasar sekunder dengan tetap menjaga mekanisme pasar. itu yang terus kita lakukan sehingga kita juga selain mensupply di valasnya juga membeli SBN dari pasar sekunder," tegasnya.

Dia juga berharap ketegangan perang dagang dapat segera mereda. Terlebih saat ini sedang dilakukan beberapa perundingan terkait perang dagang tersebut.

"Nah memang perundingan-perundingan masih terus berlangsung tentu saja kita harapkan nanti pada saat G20 Leaders Meeting di Osaka pada 22 Juni itu semoga terjadi kesepakatan antara AS dan Tiongkok. Jadi perundingan masih terus berlangsung, moga-moga itu terjadi kesepakatan," tutupnya. [azz]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini