Bos INKA Ungkap Alasan KRL Gunakan Kereta Bekas dari Jepang

Senin, 19 Agustus 2019 16:24 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Bos INKA Ungkap Alasan KRL Gunakan Kereta Bekas dari Jepang KRL. ©2012 Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Direktur Utama INKA, Budi Noviantoro, menyampaikan latar belakang mengapa KRL atau commuterline Jabodetabek masih menggunakan kereta bekas impor. Alih-alih menggunakan kereta baru buatan dalam negeri produksi INKA.

Dia mengatakan, KRL yang dioperasikan PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) merupakan kereta bekas yang berasal dari Jepang. Karena itu secara harga relatif lebih murah dibandingkan kereta baru produksi INKA.

"KRL itu sebetulnya barangnya adalah barang bekas dari Jepang. Jadi memang tidak bisa dibandingkan (dengan kereta baru produksi INKA)," kata dia, di Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (19/8).

Biaya untuk mendatangkan kereta bekas dari Jepang, kata dia, rata-rata sebesar Rp2 miliar. Ongkos itu relatif lebih murah dibandingkan harga baru kereta INKA yang senilai USD 1,3 juta atau setara Rp18 miliar (asumsi Rp14.243 per USD).

"Di Jepang meski hanya buang barang bekas juga mahal ongkosnya. Tapi kalau harus beli baru juga lebih mahal," urai dia.

Kendati demikian, saat ini PT Kereta Api Indonesia (KAI) sedang mempertimbangkan untuk membeli kereta dari INKA. Hal ini ditengarai perawatan kereta bekas yang kian sulit.

"Sekarang mereka sedang kesulitan perawatan karena sparepart (suku cadang)-nya juga sudah tidak ada," papar Budi.

Selain itu, izin dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terhadap PT KCJ terkait teknis impor barang modal bekas akan segera habis masa berlakunya. "Kereta (KRL) bekas izinnya ada di Kemenperin. Nah keliatannya mereka sudah tidak punya izin di situ, sehingga mau tidak mau mereka butuh kereta baru untuk 2023," tandasnya. [bim]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini