BI: Permintaan valuta asing semakin tinggi
Merdeka.com - Bank Indonesia memaparkan, nilai tukar rupiah mengalami tekanan atau depresiasi karena faktor eksternal. Sepanjang Mei, rupiah secara point-to-point melemah sebesar 2,23 persen ke level Rp 9.400 per USD. Secara rata-rata, rupiah melemah 0,95 persen menjadi Rp 9.254 per USD.
"Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah disebabkan oleh permintaan valuta asing yang tinggi," ungkap Direktur grup hubungan masyarakat Bank Indonesia Difi A Johansyah di komplek Bank Indonesia, Selasa (12/6).
Bank sentral melihat, tingginya permintaan valuta asing lantaran untuk memenuhi kebutuhan impor. Utamanya, kata dia, impor bahan bakar minyak (BBM), pembayaran utang luar negeri, dan repatriasi pendapatan pihak asing.
Rupiah juga terus tertekan di tengah meningkatnya permintaan valas terkait portfolio rebalancing oleh pelaku nonresiden akibat adanya sentimen global sehubungan penyelesaian krisis di Eropa.
Difi menuturkan, untuk menjaga keseimbangan pasar valuta asing, Bank Indonesia terus mengambil langkah-langkah untuk menjaga kecukupan likuiditas pasar. Semisal, penguatan operasi moneter melalui pengembangan instrumen moneter valuta asing seperti term deposit valuta asing.
"Serta memperkuat koordinasi dengan Pemerintah untuk memitigasi dampak negatif dari risiko pemburukan ekonomi global," imbuhnya.
(mdk/oer)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya