Bank Indonesia (BI) Provinsi DKI Jakarta bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta kompak mendorong industri film sebagai motor baru ekonomi kreatif melalui gelaran Jakarta Youth Film Festival (JYFF). Adapun JYFF telah berlangsung sejak 2025 lalu.
Melalui festival ini, BI menghadirkan pemutaran film pendek dan diskusi bersama pelaku industri sebagai ruang edukasi dan kolaborasi bagi pelajar dan mahasiswa. Sementara itu, Pemprov DKI menyiapkan dukungan kebijakan untuk memperkuat industri film.
Kepala Perwakilan BI DKI Jakarta, Iwan Setiawan mengatakan, gelaran JYFF menjadi momentum strategis untuk memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong peran generasi muda.
"Kegiatan ini juga merupakan momentum yang strategis untuk memperkuat ekosistem perfilman, khususnya dalam mendorong peran generasi muda sebagai motor penggerak ekonomi kreatif di Jakarta,” kata Iwan dalam perayaan Hari Film Nasional di Ruang Auditorium Perpustakaan Nasional, Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (2/4).
Menurutnya, potensi ekonomi kreatif di Jakarta sangat besar, terutama dengan dominasi penduduk usia muda yang ada di wilayah ibu kota. Iwan menilai, generasi muda memiliki peran strategis sebagai motor penggerak ekonomi berbasis kreativitas dan inovasi.
"Ekonomi kreatif merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru yang menunjukkan kinerja yang sangat positif. Dengan komposisi penduduk Jakarta yang didominasi oleh generasi milenial dan Gen Z lebih dari 50 persen," ungkap Iwan.
Advertisement
Dampak Industri Film
Selain itu, kata Iwan industri film memiliki dampak luas terhadap sektor lain serta berperan dalam memperkuat citra kota.
"Industri film sendiri tidak diragukan lagi memiliki multiplier effect yang sangat luas karena mampu menggerakkan berbagai sektor pendukung, seperti pariwisata, kuliner, transportasi, fashion, dan film juga berperan sebagai media efektif memperkuat citra kota di tingkat global,” jelas Iwan.
Sementara itu, Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta, Rano Karno mengapresiasi langkah BI yang mulai memberi perhatian serius pada industri film sebagai bagian dari ekonomi kreatif.
"Luar biasa. Saya sangat apresiasi kepada BI. Ini semakin serius," kata Rano.
Advertisement
Butuh Dukungan Perbankan
Pemeran Si Doel Anak Betawi ini menjelaskan soal keterlibatan BI menjadi hal baru di industri film. Menurut dia, selama ini industri film minim dukungan pembiayaan dari sektor perbankan.
"Seumur hidup saya di dunia film, tidak ada satu perbankan pun yang bersedia membiayai film. Karena dianggap film mempunyai risiko yang lebih besar," ujarnya.
Padahal, kata dia, potensi pasar film Indonesia terus mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan. Rano merinci bahwa pada 2024 jumlah penonton film di Indonesia tembus 122 juta orang.
"Film Indonesia 85 persen, kira-kira 80 juta. Artinya film Indonesia sudah menjadi tuan rumah di negerinya sendiri," kata Rano.