70 Persen Warga Negara Ini Siap Boikot Produk AS, Tak Lagi Gunakan Whatsapp dan Facebook

Sebanyak 55 persen warga Austria menganggap kepresidenan Trump sebagai ancaman bagi Uni Eropa.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
70 Persen Warga Negara Ini Siap Boikot Produk AS, Tak Lagi Gunakan Whatsapp dan Facebook
70 Persen Warga Negara Ini Siap Boikot Produk AS, Tak Lagi Gunakan Whatsapp dan Facebook (Merdeka.com)

Lebih dari 70 persen warga Austria bersedia memboikot barang-barang Amerika Serikat sebagai bentuk protes atas kebijakan perdagangan Presiden Donald Trump. Angka ini didapat menurut survei yang dirilis Kamis (11/4).

Jajak pendapat yang dilakukan oleh Institut Gallup Austria itu juga menemukan bahwa 55 persen warga Austria menganggap kepresidenan Trump sebagai ancaman bagi Uni Eropa.

"Pemberlakuan tarif yang lebih tinggi memperkuat keinginan EU untuk memainkan peran yang lebih independen dalam hubungan transatlantik. Kompromi hampir tidak dianggap sebagai solusi," tulis Andrea Fronaschütz dari Gallup Institute dalam komentarnya tentang survei tersebut.

Hanya 32 persen yang mendukung untuk berkompromi dengan AS.

Di tengah meningkatnya ketegangan transatlantik, 60 persen warga Austria mengatakan EU harus menjadi lebih independen dari AS selama masa kepresidenan Trump, hanya 20 persen yang mengharapkan perkembangan positif bagi EU selama Trump memimpin.

Sementara sebagian besar mengatakan mereka dapat memboikot barang-barang AS, namun menghindari layanan digital Amerika terbukti kurang populer.

Hanya 45 persen warga Austria mengatakan dapat berhenti menggunakan jejaring sosial seperti Facebook, WhatsApp atau X; 47 persen mengatakan mereka dapat mengabaikan platform belanja seperti Amazon; 53 persen dapat hidup tanpa layanan streaming seperti Netflix atau Spotify; dan 66 persen mengatakan perangkat kecerdasan buatan Amerika seperti ChatGPT tidak diperlukan lagi.

Survei tersebut juga mengungkap kesenjangan usia yang lebar terkait boikot digital, dengan responden yang lebih muda kurang bersedia melepaskan platform AS.Boikot perjalanan lebih populer, dengan 60 persen mengatakan liburan ke AS selama masa kepresidenan Trump tidak mungkin dilakukan.

Negara-negara Asia Tenggara atau ASEAN mengatakan tidak akan mengenakan tarif balasan terhadap Amerika Serikat dan sebaliknya akan melakukan pembicaraan dengan pemerintahan Donald Trump.

Hal ini berbeda dengan China, di mana negara tersebut tidak akan tinggal diam jika kepentingan rakyatnya dirugikan. China siap balas Amerika Serikat menerapkan tarif yang merugikan masyarakat China, dan pemerintah China tidak akan takut menghadapinya.

"China tidak ingin berperang, tetapi tidak takut. Kami tidak akan tinggal diam ketika hak dan kepentingan sah rakyat China dirugikan atau ketika rezim perdagangan multilateral dirusak. Jika AS bertekad untuk berperang tarif dan perdagangan, respons China akan terus berlanjut sampai akhir," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing dikutip di Jakarta, Jumat (11/4).

Kebijakan berbeda diambil pemerintahan di negara ASEAN termasuk Indonesia yang lebih memilih akan melakukan negosiasi dengan pemerintahan Donald Trump.

"Kami menyatakan niat bersama untuk terlibat dalam dialog yang jujur dan konstruktif dengan AS untuk mengatasi masalah terkait perdagangan,” demikian bunyi pernyataan bersama oleh para menteri ekonomi dari Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) saat bertemu di Malaysia, yang saat ini menjadi ketua blok beranggotakan 10 negara tersebut.

Pernyataan tersebut menekankan bahwa komunikasi dan kolaborasi yang terbuka akan sangat penting untuk memastikan hubungan yang seimbang dan berkelanjutan.

"Dengan semangat itu, ASEAN berkomitmen untuk tidak mengenakan tindakan balasan apa pun sebagai tanggapan terhadap tarif AS," kata blok tersebut.

Rekomendasi