Advertisement
Magetan memiliki sebuah desa yang dijuluki sebagai Kampung Madinah. Saat bulan Ramadan, kampung tersebut menjadi wisata kuliner mulai dari kebab hingga nasi biryani.
Advertisement
Desa tersebut mendapatkan julukan sebagai Kampung Madinah karena memiliki 4 pondok pesantren besar. Julukan tersebut mulai disematkan kepada Desa Temboro sejak tahun 1980-an.
Maka dari itu, kehidupan keberagamaan di Desa Temboro sangatlah kental. Mulai dari penampilan yang Islami, hingga gaya hidup yang sangat mirip dengan kehidupan di Timur Tengah.
Lantas, bagaimana suasana bulan Ramadan di Kampung Madinah, Desa Temboro tersebut? Apa yang bisa ditemui di sana dan menjadi ciri khas Desa Temboro? Simak ulasannya sebagai berikut.
Advertisement
Advertisement
Mengutip dari channel Youtube Jejak Richard, di desa Temboro adalah tempat yang sangat cocok untuk ngabuburit sambil menunggu datangnya berbuka puasa. Pasalnya, di sepanjang jalan desa, terdapat banyak sekali orang yang berjualan makanan.
Pengunjung akan dengan mudah menemukan takjil yang diinginkan di Desa Temboro. Hal tersebut karena di desa tersebut dihuni oleh masyarakat Muslim sehingga, kehidupan keberagamaan, terlebih di bulan Ramadan sangatlah kental.
Selain itu, Desa Temboro juga menjadi salah satu destinasi bagi para penjual yang datang dari luar daerah. Mereka berbondong-bondong untuk datang dan menjajakan dagangannya di Kampung Madinah.
Advertisement
Berbagai macam makanan pun ada, mulai dari kebab, nasi biryani, burger, hingga camilan-camilan lain yang khas dengan makanan di bulan Ramadan.
“Hari biasa nggak seperti ini, hari biasa ada beberapa yang jualan tapi nggak serame ini. Jadi pas bulan Ramadan ini itu orang luar kampung berbondong-bondong jualan di Temboro, karena sewanya murah juga,” kata Syaiful, salah satu warga Temboro.
Advertisement
Desa Temboro memiliki julukan yang unik yaitu Kampung Madinah. Julukan tersebut bukan tanpa alasan Temboro memiliki empat pondok pesantren yang sangat besar sehingga nuansa Islami di desa tersebut sangatlah kental.
Selain itu, mayoritas masyarakat Desa Temboro setiap hari berpakaian seperti orang Timur Tengah, yaitu memakai gamis atau jubah, dan perempuannya banyak yang menggunakan abaya hitam dan bercadar.
“Sebutan itu muncul karena hampir semua warga berbusana layaknya masyarakat di Jazirah Arab, yakni kaum pria menggunakan gamis panjang semata kaki. Sedangkan para wanitanya kerap menggunakan abaya hitam dengan cadar untuk menutup wajah,”
Advertisement
kata pria yang merekam video di akun Jejak Richard.