Kapal Madleen yang diinisiasi oleh Freedom Flotilla Coalition (FFC) tengah berlayar menuju Jalur Gaza dengan membawa bantuan kemanusiaan dan aktivis hak asasi manusia. Misi ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap blokade total yang diberlakukan Israel atas wilayah tersebut.
Pelayaran ini menjadi respons atas pengetatan blokade Israel sejak 2 Maret lalu, yang berdampak pada krisis kemanusiaan akut. Kelompok-kelompok bantuan melaporkan bahwa lebih dari 90 persen dari total 2,3 juta penduduk Gaza kini menghadapi kelangkaan pangan parah, sementara puluhan anak dilaporkan meninggal akibat kelaparan.
Dilansir Aljazeera, Rabu (4/6/2025), Kapal Madleen, yang dinamai dari nama satu-satunya nelayan perempuan di Gaza, bertolak dari Catania, Sisilia, pada 1 Juni. Keberangkatan ini berlangsung hanya satu bulan setelah insiden pengeboman terhadap kapal bantuan lain milik Freedom Flotilla, Conscience, oleh pesawat tak berawak Israel di perairan lepas pantai Malta.
Dengan jarak tempuh sekitar 2.000 kilometer atau 1.250 mil, pelayaran menuju Gaza diperkirakan akan berlangsung selama tujuh hari jika tidak menemui hambatan.
Posisi kapal dipantau secara real-time oleh lembaga Forensic Architecture melalui sistem pelacakan di atas kapal. Berdasarkan data terakhir pada 3 Juni pukul 15.00 GMT, Madleen tercatat berada sekitar 600 kilometer dari Sisilia.
Advertisement
Siapa Saja yang Berada di Kapal Madleen?
12 orang aktivis pemberani berada di dalam kapal tersebut. Satu di antaranya adalah anggota Parlemen Eropa berkebangsaan Prancis-Palestina yakni Rima Hassan. Berikut nama 12 orang aktivis pemberani itu.
- Greta Thunberg – aktivis iklim Swedia
- Rima Hassan – Anggota Parlemen Eropa berkebangsaan Prancis-Palestina
- Yasemin Acar – Jerman
- Baptiste Andre – Prancis
- Thiago Avila – Brasil
- Omar Faiad – Prancis
- Pascal Maurieras – Prancis
- Yanis Mhamdi – Prancis
- Suayb Ordu – Turki
- Sergio Toribio – Spanyol
- Marco van Rennes – Belanda
- Reva Viard – Prancis
"Kami melakukan ini karena tidak peduli apa pun rintangan yang kami hadapi, kami harus terus mencoba, karena saat kita berhenti mencoba, saat itulah kita kehilangan kemanusiaan kita", kata Greta Thunberg.
FFC telah menekankan bahwa semua relawan dan awak di atas kapal Madleen dilatih dalam praktik nonkekerasan dan berlayar tanpa senjata dalam aksi perlawanan sipil yang damai terhadap tindakan Israel di Gaza.
Advertisement
Bantuan Apa yang Dibawa Kapal Madleen?
Menurut siaran pers dari FFC, Madleen membawa berbagai perlengkapan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat di Gaza, termasuk perlengkapan medis, tepung, beras, susu formula bayi, popok, produk sanitasi wanita, peralatan desalinasi air, kruk, dan prostetik anak-anak.
Advertisement
Reaksi Israel
Bukan Israel namanya jika tidak keji. Negeri zionis itu Senin (2/6/2025) lalu mengatakan akan mencegat kapal yang membawa aktivis internasional dan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza itu.
Dilansir Anadolusi, Radio Militer Israel menegaskan angkatan negeri zionisi telah bersiap menunggu kedatangan kapal armada Gaza Madleen yang meninggalkan Sisilia dalam perjalanan ke Jalur Gaza dalam upaya untuk "menerobos blokade angkatan laut" Israel.
Dalam tanggapan singkat, militer Israel mengatakan "pihaknya menegakkan penutupan keamanan maritim keamanan di Gaza dan sedang mempersiapkan berbagai skenario," tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Advertisement
Apa yang Terjadi dengan Armada Sebelumnya?
Bulan lalu, kapal lain yang membawa bantuan ke Gaza dihantam pesawat nirawak di perairan internasional di lepas pantai Malta. Kapal itu berupaya mengirimkan bantuan menyusul blokade genosida Israel terhadap Gaza yang dikepung.
FFC mengatakan kepada Al Jazeera bahwa serangan terhadap Conscience pada pukul 12:23 siang waktu setempat (10:23 GMT) pada tanggal 2 Mei telah membuat lubang di kapal dan membakar mesinnya.
Advertisement
15 Tahun Lalu Israel Serang Mavi Marmara, 9 Relawan Tewas Dibunuh
Lima belas tahun yang lalu, pasukan komando Israel melakukan serangan mematikan terhadap Mavi Marmara, kapal terbesar dalam armada bantuan yang membawa aktivis Turki.
Kapal itu membawa 10.000 ton bantuan kemanusiaan dan berangkat dari Istanbul dalam upaya untuk mematahkan blokade Israel terhadap Gaza. Sembilan relawan kemanusiaan tewas pada tanggal 31 Mei 2010.
Gaza telah berada di bawah blokade darat, laut, dan udara Israel sejak 2007.
Advertisement
Kelaparan di Gaza
Satu dari lima warga Palestina di Jalur Gaza menghadapi kelaparan karena blokade total Israel selama tiga bulan di Jalur Gaza.
Menurut laporan Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC) terbaru, 1,95 juta orang, 93 persen dari populasi daerah kantong tersebut, menghadapi kekurangan pangan akut.
IPC menyatakan blokade Israel yang terus berlanjut "kemungkinan besar akan mengakibatkan perpindahan massal lebih lanjut di dalam dan antar provinsi", karena barang-barang yang penting bagi kelangsungan hidup penduduk akan habis.
Advertisement
Perangkap Kematian Berbalut Bantuan Kemanusian
Meskipun sebuah organisasi distribusi bantuan yang dipimpin Israel dan didukung AS bernama Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) didirikan bulan lalu untuk mengirimkan bantuan ke Gaza, namun nyatanya hal itu adalah 'perangkap kematian massal' bagi warga Palestia di Gaza yang tengah kelaparan.
Selain jumlah bantuan yang tak sepadan dengan jumlah warga Gaza, di titik-titik lokasi distribusi tentara Israel justru membantai warga Palestina yang hendak mengambil bantuan tersebut dengan cara menembaki mereka.
Tercatat sudah berkali-kali tantara Israel menembaki warga Palestina yang tengah menunggu untuk mengambil bantuan. 100 orang lebih meninggal dunia dan ratusan lainnya luka-luka.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan kelompok bantuan lainnya telah menolak bekerja sama dengan GHF. Mereka menyatakan GHF tidak netral. Mereka juga menyatakan GHF dibentuk untuk memungkinkan Israel mencapai tujuan militernya buat mengambil alih seluruh Gaza.
"Distribusi bantuan telah menjadi perangkap maut," kata kepala badan PBB untuk pengungsi Palestina, Philippe Lazzarini, dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu.
Israel telah membunuh lebih dari 54.000 warga Palestina sejak melancarkan serangan genosida di Gaza pasca 7 Oktober 2023. Dari jumlah itu mayoritas adalah perempuan dan anak-anak.
Tak hanya serangan militer, Israel juga memblokade total dan melarang bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza.