Menlu AS Akui Serangan ke Iran Gara-Gara Israel

Apa yang dimaksud oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat dalam pernyataan tersebut? Berikut adalah penjelasannya secara lebih rinci.

Khairisa Ferida
Oleh Khairisa Ferida - Reporter
Menlu AS Akui Serangan ke Iran Gara-Gara Israel
Di Weibo, situs mikroblog China yang mirip dengan X, warganet bertanya-tanya apakah Rubio akan menjadi menteri luar negeri AS pertama yang tidak dapat datang ke China. (© 2025 merdeka.com)

Dalam sebuah pengarahan tertutup yang diadakan pada hari Senin (2/3/2026), Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio mengungkapkan alasan di balik keputusan AS untuk melancarkan serangan pendahuluan terhadap Iran. Rubio menyatakan bahwa pemerintah AS telah menyadari adanya rencana aksi militer yang akan dilakukan oleh Israel.

Ia menekankan bahwa berdasarkan penilaian intelijen, setiap serangan yang ditujukan kepada Iran, baik oleh Israel maupun pihak lain, akan memicu respons langsung dari Iran yang juga akan menyasar kepentingan AS.

"Sudah sangat jelas bahwa jika Iran diserang oleh siapa pun, AS atau Israel atau siapa pun, mereka akan merespons, dan merespons terhadap Amerika Serikat," ujar Rubio seperti dikutip dari laporan The Guardian.

Rubio menambahkan bahwa pemerintah AS menilai tanpa adanya tindakan pendahuluan, risiko korban di pihak AS akan meningkat. Oleh karena itu, Washington memutuskan untuk melakukan serangan lebih dulu sebelum Iran meluncurkan serangan balasan.

Dalam briefing tersebut, Rubio didampingi oleh Direktur CIA John Ratcliffe dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine. Pertemuan yang berlangsung di Gedung Capitol ini bertujuan untuk memberikan penjelasan kepada anggota DPR dan Senat mengenai alasan serta rincian serangan yang dilancarkan terhadap Iran.

Penjelasan ini diberikan karena DPR akan segera melakukan pemungutan suara atas usulan yang berpotensi membatasi kewenangan Presiden Trump dalam melanjutkan operasi militer tanpa persetujuan dari Kongres.

Tujuan AS Serang Iran

Menlu Amerika Serikat: Serangan AS ke Iran Dipicu Rencana Serangan Israel
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio. (Dok. AP/Alex Brandon) © 2026 Liputan6.com

Wakil Presiden JD Vance dalam wawancaranya dengan Fox News pada malam Senin menegaskan bahwa tujuan utama Amerika Serikat adalah untuk memastikan bahwa Iran tidak memiliki senjata nuklir.

"Presiden ingin memperjelas kepada Iran dan dunia bahwa ia tidak akan berhenti sampai mencapai tujuan penting tersebut, yaitu memastikan Iran tidak bisa memiliki senjata nuklir," kata Vance.

Selain itu, Presiden Trump juga pernah menyampaikan beberapa tujuan lainnya dalam wawancara terpisah, seperti menghancurkan kemampuan rudal balistik dan angkatan laut Iran, mencegah pengembangan senjata nuklir, serta memutus dukungan Teheran terhadap kelompok proksi di Timur Tengah.

Namun, ketika berbicara kepada wartawan di Capitol, Rubio secara khusus menyebut dua sasaran utama yang harus dicapai, yaitu kemampuan rudal balistik dan kekuatan angkatan laut Iran. Di sisi lain, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa Iran sedang membangun fasilitas bawah tanah baru yang, menurutnya, dalam waktu dekat akan membuat program rudal balistik dan nuklir Iran kebal terhadap serangan.

"Jika tidak ada tindakan sekarang maka tidak akan ada tindakan yang bisa dilakukan di masa depan," ungkap Netanyahu dalam wawancara dengan Fox News.

Iran sendiri berulang kali membantah bahwa mereka sedang mengembangkan senjata nuklir. Sejak konflik ini dimulai, Amerika Serikat dan Israel telah melancarkan serangkaian serangan udara di berbagai lokasi di Iran.

Teheran merespons dengan melancarkan serangan drone dan rudal terhadap negara-negara yang bersekutu dengan AS di Timur Tengah. Serangan udara tersebut telah menewaskan sejumlah pemimpin militer dan politik tertinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei.

Militer AS mengakui bahwa enam personelnya tewas dalam konflik ini, sementara itu, Bulan Sabit Merah Iran melaporkan bahwa hingga Senin, jumlah korban tewas mencapai 555 orang. Di Israel, media lokal melaporkan bahwa sedikitnya 12 orang telah dilaporkan tewas. Serangan dan aksi balasan masih terus berlangsung hingga berita ini diturunkan.

Perdebatan di Kongres Berlangsung Intens

Pernyataan pemerintah mengenai situasi yang berkembang telah memicu perdebatan sengit di Kongres. Sebelum mengikuti briefing, Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer menyebut konflik ini sebagai "perang pilihan," yang menurutnya ditentukan oleh presiden tanpa adanya ancaman langsung terhadap Amerika Serikat.

"Ini adalah perang Trump. Dia tidak punya strategi, tidak punya rencana akhir yang jelas," ujarnya.

Setelah pengarahan, Schumer mengungkapkan bahwa para pejabat telah menerima banyak pertanyaan, namun ia merasa jawaban yang diberikan sangat tidak memadai dan justru menimbulkan pertanyaan lebih lanjut.

Wakil Ketua Komite Intelijen Senat dari Demokrat, Mark Warner, juga menyampaikan kekhawatirannya mengenai dasar ancaman yang digunakan oleh pemerintah.

"Tidak ada ancaman langsung terhadap AS dari Iran. Ada ancaman terhadap Israel. Jika kita menyamakan ancaman terhadap Israel sebagai ancaman langsung terhadap AS, maka kita memasuki situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya," katanya.

Selain itu, Warner juga mempertanyakan tujuan akhir dari operasi militer, rencana keluar, serta dampak yang mungkin terjadi terhadap rakyat Iran jika terjadi gejolak internal menyusul seruan Trump agar masyarakat turun ke jalan.

Di sisi lain, Ketua DPR yang berasal dari Partai Republik, Mike Johnson, membela langkah Trump dan menyatakan bahwa operasi militer dilakukan sebagai tindakan defensif. Ia berpendapat bahwa Israel menghadapi ancaman yang mereka anggap eksistensial dan bertekad untuk bertindak dengan atau tanpa dukungan AS.

Johnson menegaskan bahwa tujuan operasi militer bukanlah untuk menggulingkan rezim Iran. Meski demikian, ia menyebut kematian pemimpin tertinggi Iran sebagai perkembangan yang positif. Ia juga optimis bahwa usulan yang dapat membatasi kewenangan Trump dalam melanjutkan operasi militer tidak akan lolos di DPR.

Trump sendiri telah memerintahkan serangan tanpa meminta persetujuan dari Kongres terlebih dahulu. Namun, Rubio menyatakan bahwa kelompok yang dikenal sebagai "Gang of Eight" yang terdiri dari pimpinan Demokrat dan Republik di DPR dan Senat serta ketua komite intelijen dari kedua kamar telah diberi pemberitahuan sebelum operasi dimulai.

Rekomendasi