Militer Myanmar melancarkan serangan udara pekan lalu yang menargetkan sebuah kedai teh di wilayah Sagaing. Berdasarkan informasi dari seorang penduduk setempat serta laporan dari media independen Myanmar pada Senin (8/12/2025), serangan ini mengakibatkan kematian sedikitnya 18 warga sipil dan melukai 20 orang lainnya.
Insiden ini merupakan bagian dari serangkaian serangan udara yang sering kali berujung pada korban jiwa, dengan fokus utama pada kelompok bersenjata pro-demokrasi. Sementara itu, negara tengah bersiap menyelenggarakan pemilu yang dijadwalkan berlangsung pada akhir bulan ini, serangan tersebut juga sering kali menimbulkan korban dari kalangan sipil.
Sejak terjadinya kudeta militer yang menggulingkan pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi pada 1 Februari 2021, Myanmar mengalami ketidakstabilan yang parah. Kudeta tersebut memicu penolakan luas dari masyarakat, dan ketika aksi protes damai dibubarkan dengan kekerasan, banyak warga yang kemudian memilih mengangkat senjata.
Akibatnya, konflik meluas ke berbagai wilayah di negara tersebut. Serangan terbaru ini terjadi pada 5 Desember, setelah pukul 20.00, di Desa Mayakan, yang terletak sekitar 120 kilometer di barat laut Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar, yang juga dikenal dengan nama lamanya, Depayin.
Advertisement
Ada Anak 5 Tahun dan Guru Jadi Korban
Seorang saksi yang bergegas ke lokasi untuk memberikan bantuan kepada para korban mengungkapkan kepada The Associated Press bahwa di antara korban tewas terdapat seorang anak berusia lima tahun dan dua guru sekolah.
Pada saat kejadian, banyak orang sedang berkumpul di kedai teh untuk menonton pertandingan sepak bola antara Myanmar melawan Filipina di televisi. Di Myanmar, kedai teh berfungsi sebagai tempat berkumpul sosial, mirip dengan kedai kopi di negara-negara Barat, di mana orang-orang dapat berbincang, menikmati teh manis, makan, dan tetap terhubung dengan komunitas mereka.
Advertisement
2 Bom Dijatuhkan Jet Tempur
Warga tersebut, yang meminta agar namanya tidak disebutkan karena takut akan penangkapan oleh militer, menjelaskan bahwa dua bom yang dijatuhkan oleh jet tempur meledak tak lama setelah sirene peringatan serangan udara berbunyi. Banyak orang di dalam kedai tidak memiliki waktu untuk mencari perlindungan.
Lebih dari 20 rumah di sekitar lokasi juga mengalami kerusakan akibat serangan tersebut. Ia menambahkan bahwa tidak ada pertempuran baru-baru ini di daerah tersebut, meskipun Sagaing dikenal sebagai kawasan yang kuat dalam perlawanan terhadap rezim militer.
Menjelang pemilihan umum pada 28 Desember, pemerintah militer semakin meningkatkan serangan udara terhadap Pasukan Pertahanan Rakyat yang pro-demokrasi serta milisi etnis, berusaha merebut kembali wilayah yang telah dikuasai oleh pasukan perlawanan yang tidak memiliki pertahanan terhadap serangan udara.
Advertisement
Warga Ketakutan
Setelah pemakaman para korban pada hari Sabtu (6/12), sebagian penduduk memutuskan untuk melarikan diri dari desa. Sementara itu, warga yang memilih untuk tetap tinggal mulai menggali tempat perlindungan dari bom.
Media independen, termasuk Myanmar Now, telah merilis foto dan video yang menunjukkan puing-puing dari lokasi serangan udara tersebut.