7 Teks Khutbah Jumat Maulid Nabi, Mensyukuri Rahmat dan Meneladani Sang Rasul di Bulan Rabiul Awal

Khutbah Jumat pada peringatan Maulid Nabi tidak hanya menceritakan kelahiran Rasulullah SAW , tetapi juga mengeksplorasi makna penting dari perjalanan dakwah.

Nurul Diva
Oleh Nurul Diva - Reporter
7 Teks Khutbah Jumat Maulid Nabi, Mensyukuri Rahmat dan Meneladani Sang Rasul di Bulan Rabiul Awal
Ilustrasi seorang ulama atau ustadz yang sedang memberikan ceramah tentang Maulid Nabi. Foto: Gemini (© 2025 Liputan6.com)

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW setiap tahunnya menjadi kesempatan penting bagi umat Islam untuk merenungkan kembali teladan yang diberikan oleh sang pembawa rahmat bagi seluruh alam. Di berbagai masjid dan mushola, khutbah Jumat yang disampaikan pada saat salat Jumat di bulan Maulid selalu menarik perhatian jamaah, karena menyajikan pesan-pesan mendalam yang menghubungkan sejarah kenabian dengan kondisi kehidupan umat saat ini.

Tradisi khutbah Jumat pada saat Maulid Nabi tidak hanya menghadirkan kisah kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga menggali makna yang dalam dari perjalanan dakwah, akhlak mulia, serta strategi beliau dalam menyatukan umat. Melalui khutbah yang disampaikan secara mendalam, jamaah diajak untuk memahami hubungan sebab-akibat dari peristiwa penting dalam kehidupan Nabi dan bagaimana hal tersebut dapat menjadi pedoman dalam kehidupan modern.

Artikel ini menyajikan tujuh tema khutbah Jumat yang relevan dengan peringatan Maulid Nabi, yang dirangkum dari berbagai sumber. Simak informasi selengkapnya berikut ini, disajikan oleh merdeka.com, Jumat (29/8).

Ilustrasi Khotib yang Menyampaikan Khutbah
Ilustrasi Khotib yang Menyampaikan Khutbah (Foto: Meta AI)

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَه، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُه. خَيْرَ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ. أَرْسَلَهُ اللهُ إِلَى الْعَالَـمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا دَائِمَيْنِ مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن. أَمَّا بَعْدُ فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah. Pada hari yang penuh berkah ini, khatib mengajak seluruh jamaah untuk terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebaik-baiknya. Ketakwaan yang dimaksud adalah menjauhi segala larangan yang ditetapkan Allah subhanahu wa ta'ala dan melaksanakan perintah-Nya. Dengan ketakwaan, Allah akan memberikan solusi untuk setiap masalah yang kita hadapi, serta rezeki yang melimpah tanpa kita duga sebelumnya. Bulan ini adalah bulan Rabiul Awal, bulan yang istimewa di mana Nabi Muhammad shallallahu 'alahi wa sallam, penutup para nabi dan rasul, dilahirkan ke dunia. Beliau adalah nabi terakhir, tidak ada lagi nabi setelahnya.

Jamaah yang dirahmati Allah subhanahu wa ta'ala, di bulan Maulid ini, sepatutnya kita banyak bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta'ala karena telah mengutus seorang nabi yang menjadi teladan mulia. Nabi diutus ke bumi ini sebagai rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta'ala dalam surah al-Anbiya ayat 107:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." Imam al-Baidhawi dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa pengutusan Nabi Muhammad shallallahu 'alahi wa sallam sebagai rahmat dan kasih sayang bagi seluruh makhluk adalah karena beliau diutus untuk membawa kebahagiaan dan kebaikan bagi kehidupan manusia di dunia dan di akhirat.

Imam Ibnu 'Abbas dalam tafsirnya menyatakan, siapa yang menerima ajaran kasih sayang yang dibawa Nabi dan bersyukur, maka hidupnya akan bahagia. Sebaliknya, siapa yang menolak dan menentangnya, maka ia akan merugi. Kasih sayang yang disebarkan Nabi shallallahu 'alahi wa sallam bukan hanya sekadar ucapan, tetapi juga diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Kasih sayang ini bersifat universal, mencakup seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Bahkan kepada orang-orang musyrik, Nabi tetap berperilaku santun dan penuh kasih.

Ingatlah bagaimana Nabi shallallahu 'alahi wa sallam ketika hijrah ke Thaif untuk menghindari permusuhan dari kaumnya, tetapi malah mendapatkan perlakuan kasar dan permusuhan yang lebih parah, hingga beliau dilempari batu. Pada saat itu, malaikat penjaga gunung menawarkan untuk membenturkan kedua gunung di antara kota Thaif, agar semua penduduknya mati. Namun, Nabi shallallahu 'alahi wa sallam menjawab, jika mereka tidak menerima Islam, semoga anak cucu mereka adalah orang-orang yang menyembah-Mu, ya Allah! Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak tahu.

Dalam hadis riwayat Shahh Muslim, diceritakan bahwa suatu ketika, seorang sahabat meminta Nabi untuk mendoakan keburukan bagi orang-orang musyrik. Nabi menjawab, "Sungguh, aku tidaklah diutus sebagai seorang pelaknat, tetapi aku diutus sebagai rahmat!" Ma'asyiral muslimin rahimakumullah. Salah satu sifat mulia Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam yang patut kita teladani adalah sifat pemaafnya. Ingatlah kisah ketika Nabi shallallahu 'alahi wa sallam berperang di Uhud, di mana pamannya, Hamzah bin Abdul Muthallib, terbunuh dengan cara yang sangat mengenaskan oleh Wahsyi, seorang budak. Meskipun sangat sedih dan marah, ketika Wahsyi mengaku ingin masuk Islam, Nabi memaafkannya, meski beliau tidak ingin melihat wajah Wahsyi lagi karena akan mengingatkannya pada peristiwa tragis tersebut.

Jamaah salat Jumat yang dirahmati Allah subhanahu wa ta'ala, mengenai sifat memaafkan, Allah berfirman dalam surat Al-A'raf Ayat 199:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." Ketika kita menjadi pribadi yang pemaaf, kita dapat merasakan kedamaian dalam lingkungan sosial, tanpa ada dendam di antara manusia. Itulah kasih sayang yang dicontohkan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu 'alahi wa sallam. Semoga di bulan Maulid ini, kita dapat meneladani sifat dan akhlak mulia Rasulullah, karena mencontoh dan menerapkan akhlaknya akan mendatangkan kemaslahatan bagi kita, baik di dunia maupun di akhirat. Khutbah ini dikutip dari laman resmi Kementerian Agama RI.

الحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Jama'ah Jumat yang dirahmati Allah, saya ingin mengingatkan diri saya dan seluruh hadirin untuk selalu meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Hal ini dapat dilakukan dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab, hanya dengan ketakwaan kita dapat meraih kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat.

Ma'asyiral muslimin yang dirahmati Allah, bulan Rabi'ul Awwal merupakan bulan yang penuh dengan cahaya dan rahmat. Di bulan ini, lahir sosok yang paling mulia, Nabi Muhammad SAW. Kelahiran Rasulullah bukanlah sekadar sebuah peristiwa biasa, melainkan sebuah momen yang mengubah dunia dari kegelapan menuju cahaya, dari kebodohan menuju pengetahuan, dan dari kesesatan menuju petunjuk. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Anbiya ayat 107:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ 

"Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS Al-Anbiya: 107)." Ayat ini menegaskan bahwa kelahiran dan pengutusan Nabi Muhammad SAW adalah rahmat terbesar yang seharusnya kita syukuri. Oleh karena itu, ketika bulan maulid tiba, kita sebagai umat Islam seharusnya merasakan kebahagiaan dan rasa syukur.

Hadirin yang dirahmati Allah, sebelum kelahiran Nabi, manusia hidup dalam kegelapan jahiliyah, menyembah berhala, berbuat zalim, dan hidup tanpa arah. Namun, dengan lahirnya Nabi Muhammad SAW, Allah menurunkan petunjuk yang mengangkat derajat manusia. Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya aku adalah rahmat yang dihadiyahkan (untuk seluruh alam) (HR al-Darimi dalam Sunan al-Darimi Juz I, halaman 166)." Oleh karena itu, sangat wajar jika umat Islam bergembira menyambut kehadiran Nabi, karena melalui beliau kita mengenal Allah, iman, dan jalan menuju surga.

Hadirin yang dirahmati Allah, orang yang benar-benar mencintai Nabi pasti merasakan kebahagiaan saat mengenang beliau, termasuk saat merayakan kelahirannya. Jika kita merayakan ulang tahun anggota keluarga dengan penuh sukacita, mengapa kita tidak merayakan hari lahir Nabi SAW yang telah membawa kita kepada keselamatan? Kebahagiaan kita bukan sekadar perasaan, tetapi juga merupakan ungkapan syukur kepada Allah SWT yang telah mengutus Rasul-Nya. Dalam surah Yunus ayat 58, Allah berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ ۝٥٨

"Katakanlah (Nabi Muhammad), dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan (QS Yunus: 58)." Para ulama menafsirkan bahwa "rahmat Allah" dalam ayat ini adalah Nabi Muhammad SAW. Maka, merayakan kebahagiaan di bulan kelahirannya adalah bagian dari perintah Allah.

Hadirin yang dirahmati Allah, perayaan Maulid bukan hanya sekadar seremonial, melainkan juga momentum untuk memperbaiki diri, meneladani akhlak Rasulullah, memperbanyak shalawat, mempererat ukhuwah, dan menebar kasih sayang. Dengan demikian, kegembiraan dalam menyambut Maulid bukanlah sekadar pesta, tetapi merupakan bentuk ibadah yang mendekatkan kita kepada Nabi Muhammad SAW. Saat ini, kita melihat banyak orang yang lalai dan tidak merasakan kebahagiaan dengan datangnya bulan kelahiran Nabi. Bahkan, ada yang meremehkan seolah-olah memperingati Maulid tidaklah penting. Padahal, para ulama sejak zaman dahulu telah mengajarkan kita untuk bergembira, berkumpul, membaca shalawat, mengkaji sirah Nabi, dan menumbuhkan rasa cinta kepada beliau. Oleh karena itu, kita wajib menghidupkan suasana bahagia di bulan Maulid ini dengan cara yang benar, seperti memperbanyak zikir, shalawat, bersedekah, dan meneladani sunnah Rasulullah SAW.

Ma'asyiral muslimin yang dirahmati Allah, Nabi Muhammad SAW adalah teladan sempurna dalam seluruh aspek kehidupan. Allah SWT bahkan memuji beliau dalam surah Al-Ahzab ayat 21:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

"Sungguh, pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagi kalian (QS Al-Ahzab: 21)."

Oleh karena itu, mari kita tunjukkan kebahagiaan dalam menyambut Maulid dengan mengikuti sunnah beliau, menjaga shalat berjamaah, memperbanyak shalawat, mencintai Al-Qur'an, mempererat silaturahmi, dan menebar kasih sayang kepada sesama. Jangan sampai perayaan Maulid hanya berhenti pada seremonial, tetapi harus menjadi dorongan nyata untuk semakin dekat kepada Rasulullah dan semakin taat kepada Allah SWT.

Hadirin yang dirahmati Allah, demikian khutbah singkat ini, semoga bermanfaat bagi kita semua, baik yang membaca maupun yang mendengarkannya. Semoga kita semua istiqamah menjadi umat Nabi Muhammad SAW dan selalu mendapatkan syafaatnya di hari kiamat. Khutbah ini dikutip dari laman NU Online.

Saudara-saudara Muslimin yang dirahmati Allah, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT. Shalawat dan salam senantiasa kita haturkan kepada Nabi Muhammad SAW. Semoga kita selalu menjadi hamba yang bersyukur dan mendapatkan syafaat dari beliau di hari kiamat. Amin. Saat ini kita berada di bulan Rabiul Awwal, yang dikenal di Indonesia sebagai bulan Maulid. Bulan ini menjadi istimewa karena kita memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, sosok yang paling mulia dan yang kita diperintahkan untuk bershalawat demi meraih syafaatnya. Tidak hanya kita, bahkan malaikat dan Allah SWT juga bershalawat kepada beliau, seperti yang tertulis dalam Al-Qur'an surat Al-Ahzab ayat 56:

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."

Saudara-saudara Muslimin yang dirahmati Allah, kehadiran Nabi Muhammad di dunia ini membawa misi mulia, salah satunya adalah perbaikan akhlak manusia. Misi ini menunjukkan bahwa akhlak merupakan elemen penting dalam kehidupan manusia, yang akan menciptakan perdamaian dan ketentraman dalam interaksi sosial. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Baihaqi, dan Hakim:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخَلاقِ

“Sungguh aku diutus menjadi Rasul untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Akhlak adalah fondasi utama dalam membentuk kepribadian seorang Muslim, sehingga para ulama menyatakan bahwa "Al-Adabu fauqal ilmi." Artinya, adab dan akhlak harus diutamakan di atas ilmu. Dalam pendidikan, aspek afektif seperti sikap dan karakter seharusnya lebih diperhatikan dibandingkan aspek kognitif. Oleh karena itu, peran guru dan orang tua sangat penting dalam mendidik generasi muda untuk menjadi baik, bukan hanya pintar.

Pendidikan karakter dan akhlak sangat penting bagi generasi muda di era sekarang. Tantangan dan godaan zaman semakin meningkat seiring dengan perkembangan teknologi. Degradasi moral terlihat jelas akibat pengaruh teknologi dan informasi. Kita dapat melihat bagaimana akhlak pemuda mulai tergerus oleh gaya hidup digital. Tindakan kriminal, asusila, dan kurangnya kepedulian sosial sering kali ditemukan di sekitar kita. Saat ini, banyak dari mereka lebih asyik dengan ponsel di dunia maya ketimbang bersosialisasi di dunia nyata. Kebiasaan berkomentar di media sosial tanpa mempertimbangkan siapa yang diajak bicara, terbawa ke dalam interaksi nyata. Hal ini mengakibatkan mereka tidak bisa membedakan antara berbicara dengan teman dan berbicara dengan orang tua.

Kemudahan dalam berkomunikasi dan mencari informasi juga membuat generasi muda cenderung menggampangkan berbagai hal. Ini berimbas pada sikap malas dan mudah menyerah ketika menghadapi masalah. Mereka terdidik dalam lingkungan yang mengutamakan hasil instan, sehingga menghilangkan etos perjuangan dan sikap pantang menyerah. Saudara-saudara Muslimin yang dirahmati Allah, fenomena-fenomena ini perlu menjadi perhatian kita semua, terutama para orang tua. Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW adalah waktu yang tepat untuk memperkuat akhlak generasi penerus. Kita perlu mengawasi aktivitas mereka saat menggunakan handphone agar akhlak mereka tetap terjaga. Akhlak adalah ukuran utama apakah seseorang termasuk insan terbaik atau tidak, bukan hanya kepintaran. Rasulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Thabrani dari Ibnu Umar:

خَيْرُ النَّاسِ أحْسَنُهُمْ خُلُقًا

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya."

Sudah saatnya kita meneladani akhlak Nabi di bulan Maulid ini, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an surat Al-Ahzab ayat 21:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

"Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah."

Selain menjadikan Maulid sebagai momentum menjaga akhlak generasi muda, mari kita tingkatkan kuantitas dan kualitas shalawat serta cinta kita kepada Nabi Muhammad. Dengan memperbanyak shalawat, insya Allah hidup kita akan lebih nikmat karena mendapatkan syafaat di hari kiamat. Syafaat dari Nabi Muhammad adalah hal yang sangat penting untuk kita capai. Kita tidak tahu ibadah mana yang akan diterima di sisi Allah. Meskipun kita merasa ibadah kita sudah maksimal, belum tentu di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, kita perlu terus berdoa untuk meraih rahmat-Nya dan memperbanyak shalawat kepada Nabi untuk mendapatkan syafaatnya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, terdapat kisah seorang sahabat yang mengadu kepada Nabi. Ia merasa kurang rajin dalam beribadah, tetapi memiliki cinta yang besar kepada Allah dan Rasul-Nya. Jawaban Nabi sangat menggembirakan. Nabi menyatakan bahwa sahabat tersebut akan dikumpulkan bersama Nabi di hari kiamat:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَتَى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلَاةٍ وَلَا صَوْمٍ وَلَا صَدَقَةٍ وَلَكِنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

"Dari sahabat Anas, sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi, kapan hari kiamat terjadi ya Rasul? Nabi bertanya balik, apa yang telah engkau persiapkan? Ia menjawab, aku tidak mempersiapkan untuk hari kiamat dengan memperbanyak shalat, puasa, dan sedekah. Hanya aku mencintai Allah dan Rasul-Nya. Nabi berkata, engkau kelak dikumpulkan bersama orang yang engkau cintai." (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Saudara-saudara Muslimin yang dirahmati Allah, semoga kita dapat meneruskan dan mewujudkan misi Nabi kepada generasi muda, yaitu menjadikan akhlak mulia sebagai dasar peradaban kehidupan manusia. Semoga kita senantiasa bisa meneladani akhlak Nabi dan menjadi umat yang mendapatkan syafaatnya serta masuk ke dalam surga Allah SWT. Amin. Khutbah ini dikutip dari laman resmi Kementerian Agama RI.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, pada siang yang penuh berkah ini, khatib mengajak seluruh jamaah dan diri khatib sendiri untuk terus menjaga dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Dengan ketakwaan, Allah akan memberikan jalan keluar dari berbagai masalah hidup yang kita hadapi, serta memberikan anugerah yang melimpah tanpa kita duga sebelumnya.

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati Allah, kita kini memasuki bulan yang penuh kebahagiaan dan kasih sayang, yaitu bulan Rabi'ul Awwal. Bulan ini juga dikenal sebagai bulan Maulid, saat di mana Nabi Muhammad Saw dilahirkan ke dunia. Di bulan ini, umat Islam di seluruh dunia merayakan kelahiran Rasul dengan berbagai perayaan sesuai dengan tradisi dan budaya masing-masing.

Dalam perayaan Maulid, kita melantunkan shalawat dan salam serta membacakan kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad Saw. Semua ini dilakukan untuk meneladani akhlak mulia beliau. Mengenai akhlak Nabi yang patut kita contoh, Allah berfirman dalam surah Al-Ahzab ayat 21:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah."

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati Allah, salah satu akhlak Nabi yang perlu kita tiru adalah sifat pemaafnya. Dikisahkan, suatu ketika Nabi sedang berkumpul dengan para sahabat di masjid, tiba-tiba seorang Arab Badui masuk dan kencing di pojok masjid. Para sahabat marah dan ingin menghukum Arab Badui tersebut, namun Rasulullah Saw mencegah dan membiarkannya menyelesaikan buang air kecilnya. Setelah itu, beliau meminta seorang sahabat untuk membersihkan bekas kencing tersebut dan membiarkan Arab Badui itu pergi.

Kisah ini menunjukkan bahwa Rasulullah adalah sosok yang besar hati, tidak mudah menyalahkan orang lain, dan bahkan memaafkan orang yang jelas-jelas salah, karena mungkin orang tersebut tidak mengetahui bahwa perbuatannya dilarang. Ini adalah sifat teladan yang harus kita contoh dari beliau.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah, dalam kisah lain, ketika Rasulullah menyebarkan dakwahnya, beliau mengalami berbagai cacian, penindasan, dan penyiksaan, tidak hanya pada diri beliau, tetapi juga pada orang-orang terdekatnya. Salah satu korban penyiksaan adalah keluarga Ammar bin Yasir, di mana ibunya, Sumayah, dibunuh dengan tombak dan ayahnya, Yasir, juga dibunuh. Sementara Ammar dipaksa untuk meninggalkan Islam. Melihat kezaliman tersebut, Rasulullah Saw hanya memerintahkan Ammar untuk bersabar, "Bersabarlah wahai keluarga Yasir, sungguh kalian telah dijanjikan masuk surga."

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, ada pula kisah tentang seorang penyair terkenal di tanah Arab, Ka'b ibn Zuhayr, yang awalnya memusuhi Nabi Muhammad Saw dengan menciptakan syair-syair yang menentang ajaran Islam. Namun, saat penaklukan kota Makkah, Ka'b melarikan diri. Saudara Ka'b, Bujayr, yang telah masuk Islam, menyarankan Ka'b untuk menemui Rasulullah dan meminta maaf. Ka'b pun datang kepada Rasulullah, dan meskipun beberapa sahabat ingin menyerangnya, Rasulullah mencegahnya dan mendengarkan penyesalan Ka'b. Ka'b bertobat dengan tulus, dan Rasulullah memaafkannya, bahkan memberikan hadiah mantel kepada Ka'b setelah ia membacakan syairnya.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, sifat pemaaf Nabi dan akhlaknya yang mulia sangat membekas di hati para sahabat dan keluarganya. Di antara yang menceritakan akhlak Nabi yang mulia adalah ummahatul mu'minin, Siti Aisyah radhiyallahu 'anha, yang mengatakan:

لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا وَلَا صَخَّابًا فِي الْأَسْوَاقِ وَلَا يَجْزِي بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَصْفَحُ

"Rasulullah bukanlah seorang yang buruk perilakunya, tidak pula menjelek-jelekkan orang lain. Beliau tidak suka berteriak di pasar. Beliau bukanlah tipe orang yang membalas keburukan dengan keburukan, namun beliau selalu memaafkan dengan lapang dada." (HR. Al-Tirmidzi).

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, semoga di bulan Maulid ini kita dapat bershalawat, mengirimkan salam, dan membaca kisah-kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad Saw. Kita tidak hanya membaca, tetapi juga meneladani akhlak pemaaf beliau, sehingga di akhirat kelak kita diakui sebagai umatnya. Amiin... Khutbah ini dikutip dari laman NU Online.

الحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي مَنَّ عَلَيْنَا بِسَيِّدِنَا مُحّمَّدٍ، الحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَمَعَنَا عَلَى حُبِّ اللهِ وَحُبِّ رَسُوْلِهِ سَيِّدِنَا مُحّمَّدٍ، الحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَنَا مِنْ أُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى الرَّحْمَةِ الْمُهْدَاةِ سَيِّدِنَا مُحّمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَكُلِّ الْمُتَأَسِّيْنَ بِالْأُسْوَةِ الْحَسَنَةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَالْمُقْتَدِيْنَ بِهَدْيِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الَّذِي جَعَلَنَا مِنْ أَحْبَابِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُدَعَّمُ بِالْمُعْجِزَاتِ الْبَاهِرَاتِ وَالْمُؤَيَّدُأَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ:

Saudara-saudara Muslim yang dirahmati Allah, pada kesempatan yang penuh berkah ini, khatib ingin mengingatkan kita semua, khususnya diri khatib sendiri, untuk terus berupaya meningkatkan kualitas iman dan takwa kita kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa, Pencipta segalanya, yang berkuasa atas segala sesuatu, serta tidak memerlukan apapun dan berbeda dari segala sesuatu. Dia tidak terikat oleh tempat dan arah serta Mahasuci dari segala bentuk dan ukuran.

Kaum Muslimin yang berbahagia, saat ini kita berada di hari ke-9 bulan Rabi'ul Awwal, bulan yang diperingati sebagai bulan kelahiran Nabi. Sejak awal abad ketujuh hijriah, umat Islam di seluruh dunia merayakan bulan ini dengan penuh suka cita dan kebahagiaan.

Saudara-saudara Muslim yang dirahmati Allah, mengapa kita merayakan maulid? Karena kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah anugerah terbesar yang Allah berikan kepada kita. Merayakan maulid merupakan ungkapan syukur kita kepada Allah SWT atas nikmat yang sangat berharga ini. Melalui Nabi, kita mengenal Allah, satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, Pencipta segalanya, yang tidak menyerupai apapun dan tidak memerlukan apapun. Melalui beliau, kita juga mengenal Islam, agama yang diridhai oleh Allah SWT, yang dibawa oleh semua nabi dan rasul.

Perayaan maulid adalah wujud kasih sayang kita kepada Rasulullah SAW. Melalui perayaan ini, kita diingatkan untuk mencintai Nabi kita, Muhammad SAW, yang mencintai umatnya melebihi cinta umat kepada beliau. Salah satu bukti cinta beliau kepada umatnya dapat kita lihat dalam sabdanya:

لِكُلّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ، فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِيْ شَفَاعَةً لِأُمَّتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

"Setiap nabi memiliki kesempatan berdoa yang dikabulkan, maka semua nabi meminta segera dengan doanya, dan aku simpan doaku sebagai syafa'at untuk ummatku di hari kiamat" (HR. Muslim).

Pada hari kiamat kelak, dikatakan kepada Baginda:

يَا مُحَمَّدُ سَلْ تُعْطَ وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ:

"Wahai Muhammad, mintalah maka engkau akan diberi, berilah syafa'at maka syafa'atmu akan diterima."

Baginda menjawab:

أَيْ رَبِّ أُمَّتِيْ أُمَّتِيْ (رَوَاهُ النَّسَائِيُّ)

"Dan Nabi menjawab: "Wahai Tuhanku, umatku umatku." (HR an-Nasa'i).

Saudara-saudara Muslim yang dirahmati Allah, perayaan maulid di bulan Rabi'ul Awwal mengingatkan kita akan keagungan dan akhlak mulia Nabi, perjuangannya, serta keindahan fisiknya. Ketika kita mendengar pujian untuknya, hati kita sering kali dipenuhi rasa haru. Dalam hati kita berdoa, "Andai saja aku bisa bertemu dengan baginda, meskipun hanya dalam mimpi."

Seorang mukmin sejati pasti merindukan Nabi. Sahabat Bill al-Habasyi, misalnya, pernah melihat wajah Nabi dalam mimpinya. Begitu terbangun, rasa rindunya membara dan ia segera bergegas menuju Madinah, melewati gurun-gurun pasir demi bertemu dengan Nabi. Setibanya di Madinah, air mata mengalir deras dari matanya saat ia berdiri di dekat makam Nabi, mengungkapkan kerinduan yang tak terobati.

Saudara-saudara Muslim yang dirahmati Allah, kita merayakan maulid sebagai bentuk syukur kepada Allah atas kelahiran Nabi yang kita cintai. Bahkan, Rasulullah SAW sendiri mengajarkan kita untuk mensyukuri hari kelahirannya. Ketika ditanya tentang puasa sunnah pada hari Senin, beliau menjawab: "Itu adalah hari di mana aku dilahirkan dan diturunkan wahyu pertama kepadaku" (HR Ahmad dan al-Baihaqi dalam Dal'il an-Nubuwwah).

Saudara-saudara Muslim yang dirahmati Allah, perayaan maulid juga merupakan pengamalan dari hadits: "Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian, hingga aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia" (HR al-Bukhari). Peringatan maulid merupakan sarana untuk menanamkan cinta kepada Rasulullah kepada generasi mendatang, agar mereka terikat dengan cinta tersebut. Peringatan ini juga menjadi amal yang utama karena mengarahkan kita kepada cinta yang mulia, yaitu cinta kepada Nabi yang menyelamatkan umat manusia dari kesesatan.

Dengan memperingati maulid, kita belajar dan saling mengingatkan bahwa Rasulullah adalah manusia paling mulia. Memahami kemuliaan dan derajat beliau akan memperkuat cinta dan pengagungan kita kepada beliau. Cinta ini akan mendorong kita untuk menjalankan perintah dan mengikuti ajaran-ajarannya.

Saudara-saudara Muslim yang dirahmati Allah, dalam perayaan maulid, kita juga belajar tentang ciri fisik dan akhlak mulia Nabi. Barang siapa yang melihat Nabi dalam mimpi, akan melihatnya dalam keadaan jaga, sebagaimana sabda beliau:

مَنْ رَءََانِيْ فِيْ الْمَنَامِ فَسَيَرَانِيْ فِيْ الْيَقَظَةِ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

"Barang siapa melihatku dalam mimpi, maka ia akan melihatku dalam keadaan jaga" (HR al-Bukhari dan Muslim).

Dalam peringatan maulid, kita juga mendengarkan sirah nabawiyyah. Kita belajar dari kehidupan Nabi yang tumbuh dalam keadaan yatim, serta bagaimana keyatiman tidak menghalangi seseorang untuk berakhlak baik. Dari aktivitas dagangnya, kita belajar kejujuran yang membawa berkah dalam hidupnya. Dengan mendengarkan sejarah hidup beliau, kita juga mendapatkan berbagai metode dakwah yang beliau lakukan.

Dalam rangkaian acara peringatan maulid, banyak perbuatan baik yang dianjurkan, seperti membaca Al-Qur'an, bersedekah, berdoa bersama, dan menjalin tali persaudaraan antar umat Islam. Semua ini merupakan bentuk perintah Allah untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi, sebagaimana firman-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا

"Bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya" (QS. Al-Ahzab: 56).

Saudara-saudara Muslim yang dirahmati Allah, semoga khutbah singkat ini dapat menambah kecintaan kita kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Amin. Khutbah ini dikutip dari laman Majelis Ulama Indonesia (MUI).

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ ,يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah. Pertama-tama, marilah kita selalu mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SwT, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Sang Pencipta yang telah memberikan kita anugerah kehidupan. Dia telah memberikan kita kesempatan untuk hidup kembali dan merasakan nikmat sehat, sehingga kita dapat menjalani aktivitas dengan baik tanpa kekurangan. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Saw, sosok mulia yang diutus oleh Allah SwT untuk menyampaikan ajaran Islam sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Keteladanan beliau seharusnya menjadi inspirasi bagi kita untuk membuat hidup ini lebih berarti, baik sekarang maupun di masa depan.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah. Pada tanggal 28 September 2023, bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1445 H, umat Islam merayakan kelahiran Nabi Muhammad Saw, sosok yang terhormat yang lahir di Makkah dan meninggal di Madinah, kota yang penuh peradaban. Kisah hidup beliau yang sarat dengan nilai-nilai tarbiyah dapat kita ambil sebagai pelajaran berharga. Keteladanan yang beliau tunjukkan dalam hidupnya sangat layak untuk kita teladani.

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا

Artinya: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (Qs al-Ahzab [33] ayat 21).

Melalui ayat ini, Allah menunjukkan bahwa kepribadian Nabi adalah contoh yang patut diikuti oleh umat Islam untuk mencapai kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun di akhirat.

Dalam keseharian, Nabi Muhammad Saw memancarkan perilaku mulia yang bisa kita tiru. Salah satu contoh keteladanan beliau adalah budi pekerti yang luhur. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman, Artinya:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ

"Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung." (Qs al-Qalam [68] ayat 4).

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah. Perilaku mulia Nabi seperti kasih sayang, cinta damai, serta kemampuan menahan amarah adalah hal-hal yang perlu kita renungkan. Dalam memperingati Maulid Nabi, penting bagi kita untuk bertanya pada diri sendiri, apakah kita sudah memiliki perilaku mulia sebagaimana dicontohkan oleh Nabi?

Melihat kondisi masyarakat saat ini, banyak yang menunjukkan sikap subversif. Hal ini terlihat dari banyaknya tragedi kemanusiaan yang terjadi, di mana manusia saling menghujat, memfitnah, bahkan berkonflik satu sama lain. Fenomena ini terus berlanjut dengan semakin meluasnya spektrum masalah, terutama dengan kemajuan teknologi digital yang memudahkan tindakan negatif. Oleh karena itu, kita perlu melakukan introspeksi dan perbaikan dalam diri kita.

Selain itu, keteladanan lain dari Nabi adalah dalam berdakwah. Selama 23 tahun, Nabi berhasil mengubah peradaban Jahiliyah menjadi lebih baik. Metode dakwahnya selalu damai dan tidak pernah menebar kebencian. Sesuai dengan firman Allah, "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik." (Qs al-Nahl [16] ayat 125). Metode yang digunakan Nabi membuat ajaran Islam dapat diterima secara rasional dan hingga saat ini, sekitar 2 miliar manusia di dunia memeluk Islam.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah. Jika kita ingin menyebarkan ajaran Islam, lakukanlah dengan cara yang santun. Jangan biarkan dakwah menjadi sarana untuk merendahkan atau mendiskriminasi orang lain karena perbedaan. Dakwah seharusnya menjadi sarana untuk mendamaikan dan menyatukan, serta membangun kehidupan yang harmonis. Nabi Muhammad Saw telah memberikan teladan yang luar biasa, kini saatnya bagi kita untuk meneladani jejak beliau. Semoga hidup kita semakin berwarna dengan meniru sifat-sifat baik yang dicontohkan oleh Nabi akhir zaman tersebut. Khutbah ini dikutip dari laman resmi Muhammadiyah.

Ilustrasi Khotib yang Menyampaikan Khutbah
Ilustrasi Khotib yang Menyampaikan Khutbah (Foto: Meta AI)

اَلْحَمْدُ لِلّهِ اَلذِي بَعَثَ رَسُـوْلَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِتَتْمـِيْمِ مَكَارِمَ اْلأَخْـلاَقِ. اَشْـهَدُ اَنْ لآ اِلهَ اِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَشَـرِيْكَ لَهُ اَلْمَلِكُ الْخَلاَّقُ, وَاَشْـهَدُ اَنَّ سَـيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُـوْلُهُ شَـهَادَةً تُنْجِى قَائِلَهَا مِنْ عَذَابِ يَوْمِ التَّلاَقِ. اَللَّهُمَّ صَـلِّ وَسَـلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْعَرَبِ وَالْعَجَمِ عَلَى اْلإِطْلاَقِ, وَعَلَى آلِهِ وَصَـحْبِهِ وَمَنْ آمَنَ بِهِ وَاَحَـبَّهُ وَاشْـتَاقْ. أَمَّا بَعْدُ: أُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَهُوَ رَبُّ الْفَلَقِ إِلَى يَوْمِ التَّلاَقِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Hadirin Jama'ah Jumat Rahimakumullah, pada kesempatan yang baik ini, saya ingin mengingatkan diri saya sendiri dan semua hadirin untuk selalu meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt. Bulan Rabi'ul Awal adalah bulan yang istimewa karena merupakan bulan kelahiran manusia terpilih, Rasulullah Saw. Sebagai umat beliau, sudah sepatutnya kita mengekspresikan rasa syukur yang mendalam. Kelahiran Rasulullah Saw merupakan nikmat yang sangat besar bagi kita.

Tentunya, perayaan ini bukan sekadar untuk dirayakan, tetapi juga harus diiringi dengan proses refleksi dan perenungan. Dalam perayaan Maulid, setidaknya terdapat tiga hikmah penting yang perlu kita ambil. Pertama, perayaan Maulid dapat menambah kecintaan kita kepada Nabi Muhammad Saw. Dengan membaca riwayat hidup beliau, seperti dalam maulid Barzanji, Dziba'i, atau Simtuduror, dan memahami maknanya, kita akan merasakan rasa kagum yang mendalam terhadap Rasulullah, sosok yang sempurna.

Dengan cara ini, kita akan semakin bersyukur kepada Allah Swt yang telah mengutus beliau sebagai rahmatan lil alamin. Seperti yang tercantum dalam Al-Quran surat Al-Anbiya ayat 107,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam."

Hikmah kedua adalah memahami sejarah perjuangan Rasulullah Saw. Dalam menyebarkan Islam, beliau menghadapi banyak tantangan, kesulitan, dan ancaman terhadap hidupnya. Harta, tenaga, pikiran, bahkan nyawa beliau korbankan untuk mensyiarkan agama Allah.

Rasulullah tidak hanya mengajak sahabat-sahabatnya untuk berjihad, tetapi juga terjun langsung ke dalam pertempuran. Beliau berpartisipasi dalam perang Badar, Uhud, dan Khandak. Kita sebagai umatnya mungkin tidak bisa mengikuti perjuangan beliau dan para sahabat dalam menegakkan kalimat la ilaha illallah. Namun, kita dapat memperjuangkan Islam sesuai dengan kemampuan dan konteks zaman kita saat ini, salah satunya dengan merayakan Maulid Nabi Muhammad Saw.

Hadirin Jama'ah Jumat Rahimakumullah, hikmah ketiga adalah perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw seharusnya menjadi cermin bagi kita untuk meneladani akhlak beliau sebagai uswatun hasanah. Allah Swt berfirman dalam Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 21,

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا

"Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah." Ayat ini menjadi landasan bagi kita untuk meneladani Rasulullah dalam segala aspek kehidupan.

Hadirin Jama'ah Jumat Rahimakumullah, mari kita jadikan kehadiran Rasulullah di bulan Maulid ini sebagai rahmat bagi kita semua. Ini adalah kesempatan untuk membuktikan cinta kita dengan mengamalkan tiga hikmah yang terkandung dalam memperingati kelahiran Baginda Muhammad Saw. Teks khutbah Jumat peringati Maulid Nabi ini dikutip dari laman resmi NU Cirebon. Demikian semoga bermanfaat.

Rekomendasi