Suporter Paris Saint-Germain (PSG) mendadak jadi sorotan usai mereka memberikan dukungan terhadap Palestina di final Liga Champions UEFA (UCL) 2025 antara PSG melawan Inter Milan di Munich Football Arena, Munich, pada Minggu (1/6) dini hari.
Aksi mereka dilakukan sebelum pertandingan dimulai, Sejumlah penonton di tribun utara membentangkan banner hitam sembari menyalakan flare. Aksi ini menarik perhatian banyak orang dan menjadi viral di media sosial.
Totalitas mereka juga tak berhenti di dalam stadion. Mereka juga lantang meneriakkan "We are all children of Gaza," sambil berjalan di sekitar kota Munich. Menurut informasi, Munich merupakan salah satu kota yang memberikan dukungan resmi terhadap Israel.
Advertisement
Dukung Palestina di Final UCL 2025
Suporter garis keras PSG nekat melanggar aturan UEFA demi memberikan dukungan terhadap Palestina. Selain dengan banner raksasa, sejumlah suporter PSG juga memegang syal keffiyeh dan bendera Palestina selama pertandingan.
Banner itu dikibarkan sebagai bentuk protes sekaligus sindiran terhadap otoritas lokal di Munich yang disinyalir mendukung Israel. Balai kota Munich juga disebut mengibarkan bendera Israel serta bendera Ukraina, sebagai bentuk dukungan Jerman terhadap Israel karena faktor sejarah.
Aksi tersebut langsung mendapat sorotan tajam dari berbagai pihak. Duta Besar AS Mike Huckabee memberikan kritikan keras kepada suporter PSG atas aksi tersebut. Ia menyindir warga Prancis seharusnya memberikan kota French Riviera kepada para pengungsi Palestina jika dianggap peduli.
“Jika Prancis bertekad untuk membentuk negara Palestina, saya punya saran untuk mereka – berikan mereka bagian dari French Riviera,” ujar Huckabee.
Advertisement
Terancam Hukuman UEFA
PSG terancam sanksi denda dan hukuman lainnya dari UEFA. UEFA secara tegas melarang penggunaan isyarat, kata-kata, benda, atau cara lain apa pun untuk menyampaikan pesan provokatif yang dinilai tidak sesuai untuk acara olahraga, khususnya pesan provokatif yang bersifat politik, ideologi, agama, atau menyinggung.
Menurut aturan UEFA yang tertulis dalam pasal 16 ayat 2, UEFA melarang segala bentuk ekspresi pada dunia politik ke ranah lapangan hijau. Jika aksi tersebut dianggap salah, maka PSG terancam hukuman finansial minimal 10.700 dolar AS untuk spanduk atau gangguan politik.
Sanksi yang mungkin diterima oleh PSG bervariasi, mulai dari denda hingga larangan bermain di kompetisi Eropa. UEFA memiliki catatan tegas dalam menindak klub yang melanggar aturan tersebut. Hal ini dilakukan untuk menjaga netralitas dan integritas olahraga.
Advertisement
Loyalitas Bela Palestina
Suporter PSG dikenal loyal dalam memberikan dukungan terhadap Palestina dan menentang perang di Gaza. Pada bulan November tahun lalu, suporter PSG pernah memasang spanduk raksasa bertuliskan “Bebaskan Palestina” di laga Liga Champions melawan Atlético Madrid di Parc de Princes.
Tifo tersebut menampilkan gambar peta termasuk Israel, Tepi Barat dan Gaza dengan warna syal keffiyeh Palestina, yang telah menjadi simbol dukungan terhadap rakyat Palestina.
Selain Palestina, terdapat pula karakter yang berupa pejuang bertopeng, tank, dan bendera Lebanon. Selain itu terdapat pesan bertuliskan “Perang di lapangan, namun perdamaian di dunia,” pada bagian bawah spanduk.
Dukungan ini merupakan bagian dari gerakan yang lebih luas di kalangan penggemar sepak bola Eropa. Banyak kelompok suporter yang menggunakan platform mereka untuk meningkatkan kesadaran tentang isu-isu politik dan sosial, termasuk konflik Israel-Palestina.