Dedi Mulyadi meluangkan waktunya untuk bertemu dengan para pejabat Pemprov Jawa Barat di Gedung Pakuan. Di sana, Dedi menyampaikan banyak hal yang bisa menjadi refleksi para pejabat yang akan bekerja di bawah kepemimpinannya.
Pertama, ia membahas perihal peninggalan-peninggalan Belanda yang tersisa sampai sekarang, salah satunya adalah bangunan yang sedang mereka tempati, yaitu Gedung Pakuan.
Selanjutnya, Dedi berbicara tentang peran provinsi dalam membangun Jawa Barat, sekaligus menyampaikan cita-citanya ketika nanti ia akan memimpin Jabar selama 5 tahun. Simak ulasannya sebagai berikut.
Advertisement
Dedi Melotot ke Pejabat Pemprov Singgung Penjajah
Dalam video yang diunggah oleh LEMBUR PAKUAN CHANNEL memperlihatkan calon gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi yang sedang bersilaturahmi dengan para pejabat pemprov yang nanti akan bekerja bersama dirinya.
Dedi menyindir para pejabat tersebut dengan menggunakan cerita sejarah Belanda yang dianggap penjajah dan mengeruk semua kekayaan Indonesia yang dibawa ke negaranya. Meski begitu, menurut Dedi, Belanda punya banyak peninggalan bagus.
“Kita benci sama Belanda itu dianggap mengeruk, menghisap sumber daya yang ada di Indonesia, dibawa ke Belanda. Tetapi seburuk-buruknya Belanda menghisap, peninggalannya bagus-bagus,” ucap Dedi.
Sementara itu, menurutnya, sebagai pimpinan Jawa Barat, ia seharusnya lebih bisa memberikan dampak dan peninggalan yang jauh lebih hebat dari Belanda. Padahal anggaran yang dimiliki oleh provinsi sangatlah banyak.
“Kalau kemudian ditumpukkan anggaran di kita mencapai 36 triliun setelah itu kita habiskan sekehendak kita, saya katakan kita ini penjajah,” tegas Dedi.
“Kenapa kita penjajah, kita keruk kekayaan alam, kita keruk orang kerja di pabrik, bayar pajak. Kita keruk orang ngojek kemudian bagi hasil kendaraan bermotor jadi supir Grab, ketika numpuk duitnya di kita sekehendak kita,” lanjutnya.
Advertisement
Belajar Ekonomi dari Ibu
Dedi menyoroti bagaimana kinerja pemerintah provinsi yang tidak bisa memaksimalkan anggaran besar untuk kemajuan Jawa Barat. Ia mengajak para pejabat untuk merefleksikan kisah ibunya di masa lalu.
“Saya berguru ekonomi pada siapa, pada ibu saya. Sekolah SD kelas 1 tidak tamat tidak bisa baca tulis. Anaknya 9, bapak saya hanya pensiunan prajurit kepala, anaknya jadi sarjana. Tidak ada satu petak sawah pun yang dijual,” jelasnya.
Di akhir, ia mempertanyakan jika seorang ibu lulusan SD saja bisa menyekolahkan semua anaknya dengan uang yang sangat terbatas, maka seharusnya pemerintah yang memegang uang besar tidak boleh membiarkan rakyatnya sengsara.
“Loh kalau lulusan SD kelas 1 mengelola keuangan yang pas pasan mampu menyekolahkan anaknya sampai sarjana, kenapa kita yang pegang triliun-triliun rakyat sengsara,” tegas Dedi.