Sosok di Balik Berdiri Megah Jakarta Islamic Center, Ide Pensiunan Jenderal TNI

Sosok Jenderal TNI memprakarsai pembangunan JIC

Khulafa Pinta Winastya
Oleh Khulafa Pinta Winastya - Reporter
Sosok di Balik Berdiri Megah Jakarta Islamic Center, Ide Pensiunan Jenderal TNI
Kubah Masjid Jakarta Islamic Center Terbakar. Istimewa

Insiden kebakaran terjadi di gedung Jakarta Islamic Centre (JIC) di Jalan Kramat Jaya Raya Nomor 1, RT.6/RW.1, Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara. Peristiwa itu terjadi pada Rabu, sore kemarin. Asap hitam terlihat membumbung tinggi usai si jago merah melalap habis kubah masjid hingga runtuh.

Karena itulah JIC pun langsung ramai jadi sorotan. Sebelum menjadi pusat pengkajian dan pengembangan Islam di Jakarta, tempat di mana JIC dibangun dulunya ternyata merupakan lokasi prostitusi. Kemudian, ada sosok pensiunan jenderal TNI yang memprakarsai dibangunnya JIC. Siapakah dia? Simak ulasan selengkapnya:

JIC Kebakaran

Kebakaran yang terjadi di JIC atau Masjid Jami' terjadi pada Rabu (19/10) kemarin sekitar pukul 15.30 WIB. Lima unit mobil pemadam kebakaran pun langsung dikerahkan untuk memadamkan api.

"Proses pemadaman. Kubah masjid sekitar kubahnya aja yang terbakar," kata Edi, operator Sudin Damkar Jakut saat dihubungi merdeka.com, Rabu (19/10).

Ia mengatakan, laporan kejadian diterima petugas sekira pukul 15.24 Wib. Selanjutnya, petugas yang langsung menuju lokasi tiba sekira pukul 15.31 dan langsung melakukan proses pemadaman.

Sejarah Didirikannya JIC

Jauh sebelum dibangun menjadi Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta, lokasi di mana JIC dibangun dulunya terkenal sebagai kawasan prostitusi bernama Kramat Tunggak. Wilayah ini dulunya disebut-sebut sebagai area lokalisasi terbesar di Asia Tenggara pada tahun 1970 sampai 1999. Dulunya, tempat itu sebenarnya difungsikan sebagai tempat rehabilitasi sosial untuk membina pekerja seks di Jakarta. Namun alih-alih jadi tempat pembinaan, lokasi tersebut justru menjadi lahan basah bagi sejumlah muncikari untuk membujuk para pekerja seks kembali bekerja sebagai wanita penghibur.Pada tahun 1990-an, tercatat lokalisasi Kramat Tunggak dihuni oleh lebih dari 2.000 pekerja seks termasuk para mucikari.

Lokalisasi Dimusnahkan

Keberadaan tempat itu pun kemudian lama kelamaan membuat gerah masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Mereka pun mendesak agar lokalisasi Kramat Tunggak ditutup. Kemudian, pemerintah daerah Jakarta pun melakukan rekayasa sosial untuk mengkaji dampak dan solusi yang harus diberikan pada para PSK jika tempat tersebut dihancurkan. Sebelum penggusuran dilakukan, para muncikari disebut ditawari uang ganti rugi. Sedangkan ribuan PSK diberikan pendampingan selama lima tahun serta diberikan pelatihan keahlian. Seperti memasak, menjahit, dan lainnya. Berdasaran informasi, diketahui jika Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi menutup tempat lokalisasi Kramat Tunggak pada 31 Desember 1999.

Bekas Prostitusi Dibangun JIC

Setelah dimusnahkan banyak muncul gagasan pembangunan di lokasi bekas Kramat Tunggak tersebut. Ada yang mengusulkan pembangunan pusat perdagangan (mall), perkantoran dan lain sebagainya.Namun, pensiunan Jenderal TNI yang merupakan Gubernur DKI Jakarta pada saat itu, Sutiyoso melontarkan ide untuk membangun Jakarta Islamic Centre (JIC) di lokasi bekas prostitusi itu. Setelah adanya konsultasi terus menerus antara masyarakat, ulama, dan praktisi akhirnya terwujud lah sebuah master plan pembangunan JIC pada tahun 2002. Kemudian dalam rangka memperkuat ide dan gagasan pembangunan JIC, pada Agustus 2002 dilakukan Studi Komparasi ke Islamic Centre di Mesir, Iran, Inggris dan Perancis.

Sosok Pensiunan Jenderal TNI Prakarsai Dibangun JIC

Untuk memperkuat ide dan gagasan pembangunan JIC, Sutiyoso pun membentuk tim untuk melakukan studi komparasi ke Islamic Centre yang ada di Mesir, Iran, Inggris, dan Perancis. Dirancang oleh arsitek spesialis masjid bernama Ahmad Numan atau Ir Muhammad Numan, masjid ini berdiri di atas lahan seluas 109.435 meter persegi. Luas bangunan masjid mencapai 2.200 meter persegi dan dapat menampung hingga 20.680 jemaah.

Setelah dibangun JIC pun menjadi salah satu simbol keberhasilan perubahan baik dalam sebuah struktur sosial. Mengutip Ensiklopedia Jakarta, JIC diresmikan oleh Sutiyoso pada 4 Maret 2003. Bisa dibilang, JIC bisa berdiri salah satunya berkat ide dan gagasan yang diberikan Mantan Kepala BIN Letnan Jenderal (Letjen) Sutiyoso.

Rekomendasi