Bagi sebagian orang mungkin sudah tidak asing lagi saat mendengar nama negara Suriname. Negara yang berlokasi di Amerika Selatan ini dikenal dengan masyarakatnya yang mahir berbahasa Jawa.
Sejarah awal kenapa banyak orang Jawa di Suriname sendiri dimulai pada periode tahun 1890 sampai 1939. Pada masa itu, puluhan ribu orang Jawa bermigrasi ke Suriname. Dari situlah banyak warga keturunan Jawa kini tinggal di sana.
Hingga kini, warga Suriname bahkan masih menggunakan bahasa Jawa sebagai alat komunikasi sehari-hari. Hal itu juga terlihat dari video yang dibagikan oleh kanal Youtube Surindo family. Simak ulasan selengkapnya:
Advertisement
Melansir dari unggahan di kanal Youtube Surindo family, pengunggah video menunjukkan suasana pasar tradisional yang ada di Suriname. Menariknya, hampir seluruh penjual dan pembeli yang melakukan transaksi di pasar tersebut menggunakan bahasa Jawa untuk berkomunikasi. Salah satunya ialah penjual sayuran satu ini. Wanita tersebut terdengar sangat fasih berbahasa Jawa.
"Lek iki piro iki? (kalo ini berapa)," tanya perekam video.
"Nek iki 34 (kalau ini 34)," jawab pembeli dengan bahasa Jawa.
Dalam video, pemilik channel pun mengajak pedagang itu berbincang dengan bahasa Jawa. Mereka pun saling menanyakan asal daerah masing-masing. Disebutkan, jika pedagang di pasar tersebut sudah lebih dari 30 tahun berjualan di tempat itu.
Advertisement
Kemudian, pemilik channel pun melanjutkan perjalanannya berkeliling pasar dan menemui pedagang lain. Ia kemudian berhenti di salah satu penjual keripik yang sangat mahir berbahasa Jawa krama inggil.
"Wah pinter krama inggil (bahasa jawa halus) ya njenengan (wah pinter krama inggil ya anda)," kata perekam video. "Nggih campur-campur pak," jawa pedagang kripik. Disebutkan jika pasar Jumat itu buka setiap satu minggu sekali. Hampir seluruh pedagang di pasar itu diketahui mahir berbahasa Jawa. Pemilik channel pun kembali melanjutkan perjalanannya dan menyapa para pedagang lain serta mengajaknya mengobrol dengan bahasa Jawa.
Advertisement
Seperti yang sudah disebutkan di atas, bahwa sekitar tahun 1890-1939 sekitar 33.000 orang Jawa bermigrasi ke Suriname setelah adanya penghapusan perbudakan di negara Amerika Selatan. Di Suriname, ada organisasi budaya Jawa bernama Vereniging Herdenking Javaanse Immigratie (VHIJ) yang seluruh anggotanya merupakan imigran dari Jawa. Sebelum Perang Dunia II, sekitar 20 sampai 25 persen imigran Jawa sebenarnya ada yang kembali ke Indonesia. Namun, sebagaian besar imigran memilih menerap secara permanen. Sehingga, hingga kini kita banyak menemukan warga keturunan Jawa di negara tersebut. Tak heran, jika bahasa Jawa di Suriname juga sangat terjaga kelestariannya karena warga setempat biasa menggunakannya sebagai alat komunikasi sehari-hari. Hanya saja, bahasa Jawa-Suriname memiliki beberapa kosakata dan tata bahasa yang sedikit berbeda. Bahasa Jawa Suriname terbentuk dari Sranantongo (bahasa pergaulan) yang bercampur dengan bahasa Belanda dan Spanyol saat zaman kolonialisme.
Advertisement