Depresiasi adalah Istilah dalam Pencatatan Akuntansi, Simak Penjelasannya

Depresiasi adalah salah satu istilah dalam pencatatan akuntansi.

Khulafa Pinta Winastya
Oleh Khulafa Pinta Winastya - Reporter
Depresiasi adalah Istilah dalam Pencatatan Akuntansi, Simak Penjelasannya
Akuntansionline.id. ©2017 Merdeka.com

Depresiasi adalah salah satu istilah dalam pencatatan akuntansi. Di mana alokasi sistematis jumlah yang dapat disusutkan dari suatu aset berdasarkan umur manfaatnya.

Depresiasi merupakan hal penting dalam ekonomi teknik. Sebab di Indonesia, Ditjen Pajak sendiri mengizinkan alokasi depresiasi sebagai pengurang laba.

Secara singkatnya, depresiasi bisa disebut merupakan biaya yang timbul karena penggunaan aktiva tetap atau aset tetap (fixed assets). Sedangkan, biaya depresiasi adalah biaya yang muncul karena aset tetap yang digunakan mengalami penurunan manfaat atau penurunan kualitas (menyusut).

Simak ulasannya dilansir dari laman finansialku dan berbagai sumber, Rabu (5/1/2022):

Istilah depresiasi mungkin sudah tidak asing lagi di catatan pembukuan perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa depresiasi adalah biaya yang timbul karena penggunaan aktiva tetap atau aset tetap (fixed assets). Jadi, biaya depresiasi adalah biaya yang muncul karena aset tetap yang digunakan mengalami penurunan manfaat atau penurunan kualitas (menyusut).

Biaya depresiasi atau penyusutan ini sangat berkaitan dengan perhitungan masa pakai atau masa umur dari suatu aset tetap. Salah satu contohnya ialah mesin yang nilai dan valuasinya terus mengalami penurunan karena digunakan secara terus menerus. Nah, biaya depresiasi ini dialokasikan sebagai cadangan yang ditujukan untuk membeli aset baru untuk menggantikan aset yang nilainya terus pengalami penurunan hingga nantinya sudah tak lagi bisa digunakan.

Dalam dunia akuntansi, biaya depresiasi bersifat tetap. Maksudnya, setelah dikurangi dan dicatat sebagai biaya, maka tidak bisa dikembalikan ke nilai aslinya. Besar kecilnya biaya penyusutan ini akan terakumulasi dan nantinya akan berpengaruh pada nilai buku aset yang dicatat dalam neraca.

Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi biaya perhitungan biaya depresiasi:

- Harga perolehan yakni meliputi harga pembelian, biaya pengiriman, pajak, biaya pemasangan, dan sebagainya.
- Nilai residu adalah nilai dari aset ketika sudah tak lagi digunakan.
- Perkiraan masa manfaat

Ada beberapa cara menghitung depresiasi itu sendiri. Antara lain metode garis lurus (straigh line method), metode beban menurun (decreasing change method), metode aktivitas, dan metode saldo menurun (double declining method). 1. Metode Garis Lurus (Straight-Line Method)Metode ini mempertimbangkan penyusutan sebagai fungsi dari waktu, bukan fungsi dari penggunaan.

Sebagai contoh, untuk metode perhitungan biaya depresiasi garis lurus maka rumusnya adalah: Biaya penyusutan = (harga perolehan - nilai residu) / umur ekonomis.Contoh, PT ABCDE baru membeli sebuah mesin derek tambahan untuk tujuan penggalian. Adapun data yang berhubungan berarti adalah: - Biaya Mesin Derek = Rp500.000.000

- Estimasi masa manfaat = 5 tahun

- Estimasi nilai sisa = Rp50.000.000

- Umur produktif dalam jam = 30.000 jamBeban penyusutan untuk mesin derek dihitung sebagai berikut:Beban Penyusutan = Biaya dikurangi nilai sisa : Estimasi umur pelayanan Beban Penyusutan = (Rp500.000.000 – Rp50.000.000) : 5 = Rp90.000.000

Justifikasi utama untuk metode ini adalah lebih banyak penyusutan harus dibebankan pada tahun-tahun awal karena aktiva mengalami kehilangan pelayanan yang lebih besar pada tahun-tahun tersebut.Metode ini dibagi menjadi dua bagian yaitu:- Metode Jumlah Angka Tahun (Sum of The Years Digits Method)Menghasilkan beban penyusutan yang menurun berdasarkan pecahan yang menurun dari biaya yang dapat disusutkan (biaya awal dikurangi nilai sisa).Setiap pecahan menggunakan jumlah angka tahun sebagai penyebut (5+4+3+2+1=15) dan jumlah tahun estimasi umur yang tersisa pada awal tahun sebagai pembilang.Dengan metode ini, pembilang menurun tahun demi tahun dan penyebut tetap konstan (5/15, 4/15, 3/15, 2/15 dan 1/15). Ditunjukkan dalam ilustrasi berikut:

- Metode Saldo MenurunMetode ini menggunakan tarif penyusutan (diekspresikan sebagai persentase) berupa beberapa kelipatan dari metode garis lurus.Sebagai contoh, tarif saldo menurun berganda untuk aktiva 10 tahun akan menjadi 20% (dua kali tarif garis lurus, yaitu 1/10 atau 10%).Tidak seperti metode lainnya, dalam metode saldo nilai sisa tidak dikurangkan dalam menghitung dasar penyusutan. Tarif saldo menurun dikalikan dengan nilai buku aktiva pada awal setiap periode.

Metode aktivitas (activity method) yang juga disebut pendekatan beban variabel, mengasumsikan bahwa penyusutan adalah fungsi dari penggunaan atau produktivitas dan bukan dari berlalunya waktu.Dalam ilustrasi sebelumnya, penentuan umur mesin derek tidak memiliki masalah tertentu karena penggunaan (jam) relatif mudah untuk diukur.Jika mesin derek itu digunakan selama 4.000 jam pada tahun pertama, maka beban penyusutannya adalah:Beban Penyusutan = [ (Biaya – Nilai Sisa) x Jam tahun ini ] : Total estimasi JamBeban penyusutan = [ (Rp500.000.000 – Rp50.000.000) x 4.000 ] : 30.000 = Rp60.000.000

Rekomendasi