Perjalanan kehidupan bos jalan tol Jusuf Hamka atau yang akrab disapa Babah Alun seakan tak pernah ada habisnya untuk diulas dan menginspirasi. Muslim Tionghoa-Indonesia itu bahkan kerap menceritakan masa mudanya yang penuh liku.
Dalam sebuah kesempatan berbincang di kanal YouTube CURHAT BANG Denny Sumargo, bertajuk "Kaya Raya Tapi Tidur di Atas Jamban", Jusuf Hamka mengaku pernah menjadi seorang petinju dengan pelatih asal Ambon.
Bahkan dia mengaku pernah bertanding di Monumen Nasional, Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat.
Penasaran kisahnya? Simak ulasannya berikut ini.
Advertisement
Lingkungan Jusuf Hamka Zaman Muda
Saat masih muda, Jusuf mengaku kerap bermain di kawasan pemukiman di Gang Kelinci III, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Dari pertemanannya di kawasan tersebutlah, keinginan Jusuf untuk menjadi petinju muncul.
Bahkan saat itu dia sempat berharap menjadi tukang pukul saat dewasa. Jusuf lantas belajar tinju dari seorang pria asal Ambon dan seni beladiri taekwondo.
"Itu saya mainnya di Pasar Baru, Siliwangi, di Gang Kelinci. Jadi kita hari-hari bergaul dengan teman mereka dan ada satu orang Ambon jadi pelatih tinju saya. Dulu mula-mula ingin jadi petinju, taekwondo, saya latihan semua. Besok jadi orang kaya yang bisa jadi tukang pukul hebat," kata Jusuf seperti dilansir dari kanal YouTube CURHAT BANG Denny Sumargo, Kamis (30/12).
Advertisement
Tanding di Monas
Jusuf Hamka lantas saat itu fokus menjadi petinju. Bahkan dia sempat juga ingin jadi artis laga dengan kemampuan beladiri yang dimilikinya.
Dia kemudian mengikuti sejumlah pertandingan. Salah satunya pertandingan yang berlokasi di Monumen Nasional. Kala itu dia sebagai petinju amatir.
"Terus saya rasa, entar kalau bisa silat, beladiri bisa jadi pemain film. Tapi ternyata Tuhan kagak kasih. Banyak kegagalan Saya dulu petinju amatir, pernah bertanding di Monas," terangnya.
Advertisement
Berubah Pikiran Tak Jadi Petinju
Namun harapannya menjadi petinju dan tukang pukul kemudian hilang. Sebabnya, usai bertanding Jusuf merasa badannya kesakitan.
Semenjak itu, dia mulai menata kembali rencana hidupnya untuk jadi orang kaya. Sepulang sekolah, Jusuf pergi ke toko buku untuk mencari inspirasi.
"Cuma setelah tanding, pulang, bonyok ini muka. Sudah bonyok, sakitnya bisa 2 minggu. Kadang kala rusuk sakit. Wah ini bukan bidang saya. Tuhan enggak kasih juga. Akhirnya saya ke toko buku. Selain komik, pulang sekolah saya cari buku jadi orang kaya," pungkasnya.