Selective Eating Disorder Adalah Gangguan Makan, Ini Penjelasannya

Selective eating disorder adalah sebuah gangguan makan. Gangguan ini dicirikan dengan kurangnya minat makan seseorang atau bisa disebut dengan orang yang suka memilih makanan.

Khulafa Pinta Winastya
Oleh Khulafa Pinta Winastya - Reporter
Selective Eating Disorder Adalah Gangguan Makan, Ini Penjelasannya
Ilustrasi makan dengan emosional. ©2012 Merdeka.com

Selective eating disorder adalah salah satu gangguan atau disorder mental yang bisa dialami oleh semua orang. Gangguan ini dicirikan dengan kurangnya minat makan seseorang atau bisa disebut dengan orang yang suka memilih makanan.

Selective Eating Disorder memiliki nama lain yaitu Avoidant Restrictive Food Intake Disorder (ARFID). ARFID memiliki karakteristik yang sama dengan eating disorder yang lain seperti anoreksia. Tetapi, ARFID tidak ada hubungannya dengan ketakutan akan gemuk.

Orang dengan ARFID mungkin memiliki fobia tentang makanan tertentu, diet yang sangat terbatas, keengganan sensorik terhadap rasa, tekstur, atau bahkan menelan makanan tertentu. Simak ulasan selengkapnya dilansir dari ellernmede.org dan berbagai sumber, Senin (20/12/2021):

Tentang Selective Eating Disorder

Seperti gangguan yang lain, ARFID memiliki risiko psikologis, biologis, maupun sosial. Gangguan ini dicirikan dengan kurangnya minat makan atau istilahnya pilih-pilih makanan yang menyebabkan masukan nutrisi ke tubuh sangat kurang.

Gangguan ini jika ditemukan di umur anak-anak maka akan berakibat pada pertumbuhannya. Dan jika ditemukan di umur dewasa, maka akan berakibat pada berkurangnya berat badan. Selective eating disorder merupakan perilaku seseorang dengan gejala makan yang terganggu dan menyusahkan.

Tetapi, gangguan ini tidak memiliki masalah berat badan dan citra tubuh yang terkait dengan anoreksia dan bulimia. Namun, kurangnya nutrisi yang disebabkan oleh selective eating disorder dapat memiliki implikasi serius bagi kesehatan penderitanya.

Gejala Selective Eating Disorder

Gejala psikologis dari selective eating disorder sendiri termasuk kecemasan dan depresi, serta gangguan sosial. Seseorang dengan gangguan ini hanya akan memakan makanan yang mereka anggap aman atau dapat diterima.

Mereka juga cenderung akan menghindari makanan dengan rasa, tekstur, atau warna tertentu. Beberapa mungkin takut memikirkan makanan tertentu, dan tidak tahan untuk menyentuh atau bahkan berada di dekatnya.

Pengidap selective eating disorder sering memiliki kecenderungan enggan untuk mengonsumsi seluruh kelompok makanan seperti buah-buahan, sayuran atau kacang-kacangan.

Efek Selective Eating Disorder

Trauma biasanya banyak menjadi penyebab utama seseorang mengalami selective eating disorder. Hal ini bisa terjadi karena sesuatu yang sederhana seperti pengalaman yang tidak menyenangkan dengan makanan tertentu, contoh tersedak atau menyaksikan seseorang tersedak.

Jika sistem otak Anda mengasosiasikan makanan tertentu dengan bahaya, maka ia akan mencoba dan melindungi tubuh dengan memicu kecemasan setiap kali ada kontak dengan makanan tersebut. Selective eating disorder juga bisa disebabkan oleh pemrosesan sensorik, dan turun ke tekstur atau rasa makanan di mulut.

Jika kondisinya cukup parah, orang tersebut mungkin menderita malnutrisi dengan konsekuensi masalah fisik seperti masalah pencernaan, ketidakseimbangan elektrolit, tekanan darah rendah, dan detak jantung yang lebih lambat.

Cara Mengatasi Selective Eating Disorder

Lalu bagaimana cara mengatasi seseorang dengan gangguan selective eating disorder ini? Seperti disebutkan dalam ellernmede, terapi perilaku kognitif dan terapi berbasis keluarga bisa menjadi pilihan untuk mengatasi orang dengan gangguan ini. Untuk anak-anak atau remaja dengan jenis gangguan makan restriktif, terapi berbasis keluarga adalah intervensi yang efektif. Sedangkan untuk orang dengan gangguan makan penghindar, ada bukti dari pusat pemulihan makan di Amerika Serikat, bahwa pengobatan yang disebut Exposure and Response Prevention (ERP) bisa dilakukan. Metode tersebut sebelumnya digunakan untuk mengobati kecanduan atau kecemasan. ERP rupanya berguna untuk terapi selective eating disorder bila digunakan dalam kombinasi dengan CBT. ERP yang digunakan dalam kombinasi dengan CBT dikatakan memberikan penghentian perilaku gangguan makan jangka panjang.ERP membantu pasien terlibat dalam perilaku yang berfokus pada pemulihan bahkan ketika mereka merasa paling tidak ingin melakukannya. Ini menantang perilaku penghindaran mereka.

Rekomendasi