Efisiensi besar-besaran berhasil dicatatkan PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) usai merampungkan proyek Revamping Ammonia Pabrik-2. Langkah modernisasi pabrik tua yang beroperasi sejak 1984 ini terbukti mampu menekan konsumsi energi sekaligus mendongkrak kapasitas produksi harian.
Keberhasilan tersebut dikukuhkan melalui penandatanganan deklarasi bersama antara Pupuk Kaltim dan Casale SA, pemegang lisensi teknologi pabrik amonia asal Swiss. Kedua pihak mengonfirmasi bahwa seluruh target kinerja proyek telah terpenuhi secara resmi.
"Deklarasi bersama ini menunjukkan hasil nyata proyek revamping. Pabrik yang beroperasi sejak 1984 kini memakai energi lebih sedikit dan menghasilkan amonia lebih banyak, sesuai target yang kami sepakati bersama," ujar Direktur Utama Pupuk Kaltim Rafli Yandra dikutip Antara, Rabu (7/10).
Torehan efisiensi ini dibuktikan lewat uji kinerja selama 168 jam berturut-turut pada Agustus 2026. Dalam pengujian selama tujuh hari tersebut, Ammonia Pabrik-2 mencatatkan penurunan konsumsi energi hingga lebih dari 10 persen.
Secara rinci, konsumsi energi turun dari 39,28 MMBtu menjadi 35,25 MMBtu per ton amonia. Angka penghematan sebesar 4,03 MMBtu ini melampaui target minimal yang ditetapkan, yakni 4,00 MMBtu.
Mengingat gas bumi merupakan bahan baku sekaligus sumber energi utama, efisiensi ini berdampak langsung pada biaya operasional. Pupuk Kaltim diproyeksikan mampu menghemat biaya produksi hingga 14,3 juta dolar AS atau sekitar Rp228 miliar per tahun.
"Dengan biaya produksi harian yang lebih rendah dan pasokan bahan baku urea yang lebih andal, kami dapat menjaga kinerja produksi yang kuat untuk mendukung ketahanan pangan nasional," tegas Rafli.
Advertisement
Produksi Naik dan Pangkas Emisi Karbon
Selain menghemat anggaran, proyek revamping ini turut menggenjot kapasitas produksi amonia sebesar 4,18 persen, dari rata-rata 1,767 ton menjadi 1.841 ton per hari. Tambahan pasokan ini menjadi kunci penting untuk menjamin ketersediaan bahan baku utama pembuatan pupuk urea.
Adapun pembaruan teknis pada Pabrik-2 mencakup peremajaan shift converter, ammonia converter, CO2 removal system, hingga integrasi Distributed Control System (DCS). Tak hanya fokus pada aspek bisnis, modernisasi ini juga mendukung program dekarbonisasi perusahaan dengan memangkas emisi hingga 110 ribu ton CO2 per tahun.
Rafli menegaskan bahwa capaian ini mencerminkan komitmen perusahaan terhadap operational excellence yang akan terus dilanjutkan ke depan.
"Capaian ini akan menjadi landasan bagi kami untuk terus berinovasi. Tugas kami berikutnya adalah memastikan pabrik yang kini lebih efisien ini beroperasi secara andal, sehingga pasokan pupuk bagi petani tetap terpenuhi," tambahnya.