Kepala SDN 01 Kebondalem, Kabupaten Pemalang, Erning Rustini dicopot dari jabatannya usai seorang siswa kelas 2 berinisial MHA (7) tewas akibat dugaan perundungan atau bullying. Pencopotan sebagai bentuk pertanggungjawaban atas peristiwa tersebut.
"Sudah dinonaktifkan," kata Plt Bupati Pemalang Nurkholes kepada wartawan, Rabu (7/10/2026).
Pencopotan jabatan kepala sekolah sebagai bentuk pertanggungjawaban dan menjaga integritas khususnya pada dunia kependidikan.
"Akan ada tindakan indisipliner, dan upaya pencegahan terjadinya bullying, dan akan berlaku sama bagi siapapun karena kita tidak mentolerir bullying apalagi di sekolah," jelasnya.
Sebelumnya polisi mengungkap dua siswa sebagai kakak kelas, terlibat dalam aksi kekerasan hingga menyebabkan korban meninggal dunia, Sabtu (12/9/2026) pukul 09.00 WIB.
Sebelum mengembuskan napas terakhir, MHA mengeluhkan sakit perut dan sempat dirawat di RSUD M Azhari. Kepada dokter yang memeriksa, MHA menyebut dirinya dipukul dan ditendang kakak kelas di sekolah.
MHA mengembuskan napas terakhir pada Rabu (30/9/2026), setelah sembilan hari menjalani perawatan medis di RSUD dr M Ashari Pemalang.
Diah Indriyanti (36), ibunda korban mengatakan, awalnya sang anak sempat tidak banyak bercerita mengenai apa yang dialaminya di sekolah. Namun setelah diperiksa dokter, MHA akhirnya mengaku mengalami kekerasan pada bagian perut.
"Dia (MHA) menjawab itu setelah diperiksa sama dokter, katanya dipukul di perut, ada yang nendang pakai sepatu," ujar Diah, Jumat (2/10/2026).
Selama menjalani perawatan, kata Diah, keluhan sakit pada bagian perut terus dirasakan korban. Kondisi kesehatan korban pun semakin memburuk. Korban mengalami muntah, buang air besar berdarah, kehilangan nafsu makan hingga kesulitan buang air besar.
"Selama sembilan hari (dirawat di RSUD Pemalang) yang sering dikeluhkan itu perut. Sama seluruh badan kalau diangkat itu nangis," terang Diah menahan rasa sedih.
Setelah sembilan hari dirawat, imbuh Diah, putranya sempat diperbolehkan pulang dari RSUD Pemalang. Namun kondisi korban malah makin memburuk.
Beberapa hari kemudian, sakit pada bagian perut kembali dirasakan korban. Saat keluarga hendak membawa MHA kembali ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis, MHA keburu meninggal dunia.
Kepergian MHA meninggalkan duka sekaligus tanda tanya besar bagi keluarganya. Orang tua korban kemudian mendatangi pihak SD Negeri 01 Kebondalem. Mereka meminta penjelasan mengenai dugaan kekerasan yang dialami anak mereka.
Namun usai pertemuan dengan pihak sekolah, pihak kedua orang tua korban mengaku belum ada pertemuan kembali mempertemukan dengan orang tua anak yang diduga terlibat untuk membahas persoalan tersebut.
Kondisi itu pun dibenarkan oleh ayah korban, Nurwandi (43). Bahkan sebelum meninggal dunia, anaknya sempat menunjukkan foto teman temannya yang melakukan kekerasan terhadap dirinya.
"Anak saya itu sebelum meninggal, sudah ngomong siapa-siapa yang mukul dia. Dilihatin foto terus dia nunjuk. Ada tiga anak, yang dua kelas 5 dan satu kelas 6," ujar Nurwandi.
Kini pihak keluarga MHA menyerahkan proses pengungkapan fakta yang menimpa korban kepada aparat penegak hukum.
Mereka berharap dugaan kekerasan tersebut dapat ditelusuri secara menyeluruh. Selain itu, memastikan apa yang sebenarnya terjadi sebelum kondisi MHA memburuk hingga akhirnya meninggal dunia.