Wabah Covid-19 yang hingga kini belum juga usai membuat banyak pihak merugi. Tidak hanya ekonomi di sektor formal, segelintir orang pun juga ikut merasakan dampak dari adanya Covid-19. Salah satunya adalah penagih utang atau debt collector.
Christian Brilaba, salah satunya. Dirinya merupakan seorang pekerja di sebuah perusahaan leasing. Tidak hanya mencukupi kebutuhan dirinya sendiri, ia pun juga harus memikirkan sanak saudaranya yang berada di kampung halaman. Berikut ulasan selengkapnya seperti yang dirangkum dari kanal YouTube Asumsi.
Advertisement
Memikirkan Kebutuhan Keluarga di Tanah Kelahiran
Christian Brilaba adalah salah satu pihak yang merasa sangat terdampak dari adanya wabah Covid-19. Sebelumnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk menghasilkan pendapatan guna mencukupi kebutuhan keluarga yang ada di kampung halamannya.
"Kamu selama ini di tanah rantau ada hasilnya nggak? Hasilnya apa kan kami juga harus mikir ke situ untuk kebutuhan di kampung halaman," ucapnya.
Advertisement
Bergelut Menjadi Penagih Utang Selama 5 Tahun
Menjadi seorang penagih utang bukanlah hal yang mudah. Namun, pekerjaan ini telah ia geluti selama lebih dari 5 tahun.
"Saya di leasing dari tahun 2014 sampai 2019, sampai ada terjadinya Covid-19," jelasnya.
Advertisement
Imbauan Pemerintah
Meski menurunkan pendapatannya, namun imbauan Pemerintah tetap ia jalankan. Bahkan, dirinya harus rela berdamai dengan kebijakan Pemerintah yang melonggarkan tempo bagi pihak yang tengah melakukan kredit.
"Ada himbauan dari Pemerintah jangan berkeliaran di luar, jangan bekerja untuk menarik-narik lagi," tuturnya.
Advertisement
Tidak Ada Pekerjaan Selama Wabah
Selama pandemic Covid-19, ia mengaku tidak memiliki pendapatan. Bahkan ia harus rela berdiam diri untuk tidak menarik utang dari pihak-pihak yang dapat menjadi sumber pendapatannya guna mencukupi kebutuhan sehari-hari.
"Dari kasus Corona kita udah nggak bisa ngapa-ngapain. Hanya terdiam," jelasnya.
Advertisement
Tunggu Upah
Bak menunggu keberuntungan, ia pun juga harus menunggu sang senior untuk memberikan sedikit upah meskipun dirinya tidak dipekerjakan selama wabah Covid-19.
"Tinggal menunggu abang-abang (senior) kalau ada berkat ya minta untuk mencukupi kebutuhan," tambahnya.
Advertisement
Setengah Mati
Hal ini juga dirasakan oleh Feri Selly. Sebagai debt collector, ia merasa kesulitan hanya untuk mencukupi kebutuhan primernya sebagai manusia di tengah pandemi Covid-19.
"Dengan adanya Covid-19 ini kami setengah mati. Mau makan aja susah," ucapnya.