Jual Bakso Buat Biaya Les, Anggota TNI Ini Akhirnya Sukses Pendidikan di Inggris

Kisah anggota TNI yang sempat jualan bakso buat biaya les Bahasa Inggris.

Tantiya Nimas Nuraini
Oleh Tantiya Nimas Nuraini - Reporter
Jual Bakso Buat Biaya Les, Anggota TNI Ini Akhirnya Sukses Pendidikan di Inggris
Anggota TNI Sempat Jual Bakso Buat Biaya Les Bahasa Inggris. YouTube Edward Sitorus Papua Channel ©2021 Merdeka.com

Banyak kisah orang sukses cukup inspiratif. Salah satunya kisah seorang anggota TNI satu ini.

Saat masih sekolah dirinya ingin sekali mengikuti kursus Bahasa Inggris. Karena kondisi ekonomi pas-pasan, dia bahkan rela membantu ayahnya berjualan bakso keliling.

Kini, dia menjadi seorang anggota TNI sukses. Bahkan, perwira TNI ini menjadi orang pertama yang berhasil menyelesaikan program Postgraduate Certificate in Security and Strategy for Global Leaders di King's College London (KCL) di Inggris.

Menariknya pendidikan Royal College of Defence Studies (RCDS) setara dengan Lemhannas di Indonesia.

Lantas bagaimana kisahnya? Melansir dari akun YouTube Edward Sitorus Papua Channel, Selasa (22/6), simak ulasan informasinya berikut ini.

Tak semuanya prajurit TNI berasal dari keluarga berada. Seperti Brigjen TNI Agustinus Purboyo. Ayah perwira yang kini menjabat sebagai Direktur Doktrin Kodiklat TNI AD ini adalah seorang penjual bakso keliling.

Meski begitu, sang ayah memiliki beberapa gerobak dan pegawai. Sedangkan, sang ibu bekerja sebagai penjual sayuran di Pasar.

"Tidak terbesit dalam benak saya sedikit pun untuk jadi seorang tentara. Karena saya bukan dari keluarga tentara. Ayah saya cuma seorang pedagang bakso, ya memang memiliki beberapa orang untuk berdagang bersama-sama. Saat itu ada 10 gerobak bakso. Ibu saya berjualan di pasar, jualan sayuran," jelas Brigjen TNI Agustinus Purboyo.

Saat duduk di bangku sekolah, Agustinus merasa ingin sekali bisa kursus Bahasa Inggris. Terlebih saat itu banyak dari teman-temannya yang sudah memperkenalkan lembaga kursus bahasa Inggris. Rupanya, untuk masuk ke lembaga tersebut tidak lah mudah.

"Ketika saya kelas 2 SMA, saya ingin sekali bisa bahasa Inggris. Saat itu teman-teman saya sejak kelas 1 (SMA) sudah memperkenalkan LIA, saya sendiri tidak tahu apa itu," ungkapnya."Kalau dulu masih satu-satunya itu," kata Edward Sitorus."Iya dan paling terkenal kan waktu itu. Mau masuk situ rupanya tidak mudah, pakai tes dan ambil formulirnya itu harus subuh-subuh sudah datang," jelasnya.

Meski sulit untuk masuk, dia tetap bertekad ingin kursus Bahasa Inggris. Dia juga sempat berbicara mengenai keinginannya kepada sang ayah. Namun karena masih memiliki tanggungan 4 adik Agustinus, sang ayah tak bisa membiayai kursusnya.

"Saya ingin sekali, terus saya ngomong ke ayah saya 'Pak ingin sih kursus bahasa Inggris di LIA'. Bapak saya ngomong 'Le ayah mu pengin, berutang pun enggak apa-apa untuk sekolahi kamu. Kamu masih punya 4 orang adik di bawah kamu. Kalau aku kursusi kamu, terus adik-adikmu mau pakai apa'. Tapi keinginan itu besar sekali pada diri saya," sambungnya.

Agustinus tak pantang menyerah. Dia memiliki ide untuk membantu sang ayah berjualan bakso gerobak. Apalagi saat itu ada satu gerobak yang tidak terpakai karena penjualnya pulang kampung. Dengan niat mengumpulkan uang untuk kursus, Agustinus keliling berjualan bakso usai pulang sekolah.

"Karena tahu bayarannya agak mahal, saya bilang sama bapak saya. Kebetulan ada gerobak satu nganggur karena yang jualan pulang kampung. Saya bilang sama bapak 'Aku mau ngumpulin duit lah pakai jualan bakso' gitu. Gerobak, pakai gerobak, jalan saya berkeliling," paparnya."Berarti itu SMA?" tanya Grace."SMA. Sorry bukan SMA, SMP kelas 3 dorong gerobak," ralatnya."Rutenya?" tanya Edward."Rute saya kala itu dari rumah menuju lapangan terus nyebrang sampai ke komplek Perhubungan Sipil, komplek Angkatan Laut. Kalau pulang sekolahnya siang ya jam 3 saya bekerja sampai jam 10 setengah 11 malam," jelasnya.

Berikut kisahnya.

Rekomendasi