Cerita tersebut dibagikan oleh konten kreator pemilik akun TikTok @banghady_sp melalui unggahan video pribadinya.
Dalam video tersebut, ia menghampiri seorang wanita yang mengantarkan putranya berusia 9 tahun saat hendak melakukan cuci darah akibat gagal ginjal.
Kondisi sang anak yang diketahui bernama Mustofa Ali cukup parah hingga membuatnya harus memakai tabung oksigen saat melakukan pengobatan CAPD.
Menurut keterangan dari sang ibunda, Ali menderita gagal ginjal akibat obat parasetamol yang dikonsumsi saat pengobatan sebelumnya.
Advertisement
"Dia kan divonisnya lambung akut di RS Hermina, tapi tiga hari kemudian dia koma. Masuk di Hermina tapi di sana alat tidak lengkap jadi mereka merujuk ke RSCM."
"Di RSCM awalnya dia masih terapi, tapi sudah terdetek dari obat-obatan terutama parasetamol," ucap ibunda Ali.
Dari keterangannya, obat parasetamol yang terindikasi menjadi penyebab Ali mengalami gagal ginjal sempat viral dan membuat banyak korban berjatuhan.
Karena parasetamol tersebut, Ali sampai harus melakukan cuci darah di rumah sakit dan secara mandiri dengan CAPD.
"Sudah diambil sampelnya emang gara-gara parasetamol. Karena sampel ginjalnya udah pernah diambil. Sakitnya udah jalan 4 tahun. Harus cuci darah tapi dalam seminggu itu gak surut-surut cuci darahnya jadi bengkak terus. Akhirnya diputuskan untuk CAPD. Jadi cuci darahnya hanya seminggu," tambahnya.
Advertisement
Kondisi Ali pun sangat memprihatinkan.
Bocah laki-laki itu saat ini harus menggunakan tabung oksigen karena mengalami gangguan pernapasan akibat paru-paru terendam.
"Dia kan sudah 3 kali transfusi karena HB-nya 5 ke 6 sekarang malah 7 dan dicurigai paru-parunya kerendam emang," sambungnya lagi.
Ujian terus datang untuk keluarga Ali, ditambah sang ayah juga jatuh sakit stroke setelah mengetahui anaknya gagal ginjal.
Menurut pengakuan ibunda Ali, suaminya mengalami sakit karena pikiran dan merasa tidak mampu menafkahi anak dan istrinya.
Apalagi saat ini hanya ibunda Ali yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan pengobatan anaknya.
"Ayahnya pun langsung kena stroke saat itu. Jadi baru sembuh baru bisa jalan normal. Kemarin saja baru kena lagi."
"Apalagi dia udah gak bisa kerja, ngerasa gak bisa nafkahin, yang kerja saya sendiri, jadi dia ngerasa beban dan pikiran," tambahnya.
Selama melakukan pengobatan Ali, ibunda Ali mengaku bahwa sampai mondar-mandir dari Cikarang ke Jakarta dengan ongkos yang tak sedikit.
"Kalau gak pakai oksigen pakai kereta, tapi kalau pakai oksigen pakai grab. Rp600 ribu PP. Sekali jalan Rp300ribu," ucapnya.
Karena kini ia bekerja, terkadang ayah Ali yang melakukan CAPD di rumah.
Terlebih keterbatasan aktivitas membuat sang suami tak mampu banyak bergerak lagi.
Advertisement
@banghady_sp Ali cuci darah korban paracetamol juga rata2 cirinya sama setelah minum paracetamol tersebut tidak bisa kencing dan koma. Korbannya ternyata banyak tapi pihak terkait tidak peduli. Semoga Ali dimudahkan disembuhkan🤲🏻👍 #gagalginjal #cucidarah #hemodialisis #korbanparacetamol #paracetamol #oxigen #bantupasiendhuafa #pasienanak #rumahsakit #rawatinap #rawatjalan #berbagiberas #anaksakit #viral #fyp #tiktok ♬ suara asli - Sahabat Pasien
Advertisement
Melansir laman alodokter.com, Senin (1/7) CAPD atau Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis merupakan metode cuci darah yang dilakukan lewat perut.
Metode ini memanfaatkan selaput dalam rongga perut (peritoneum), yang memiliki permukaan luas dan banyak jaringan pembuluh darah, sebagai filter alami ketika dilewati oleh zat sisa.
CAPD bisa dilakukan sendiri di rumah. Biasanya pada 1-2 minggu pertama usai menjalani operasi pemasangan kateter ke perut, perawat akan membantu merawat. Setelahnya pasien bisa melakukan sendiri di rumah.
Cara melakukannya cukup sederhana dengan menempatkan kantong berisi cairan dialisis, seperti icodextrin, setinggi bahu. Lalu, cairan dialisis dari kantong tersebut dialirkan ke dalam rongga perut dengan bantuan gaya gravitasi.
Setelah cairan dialisis masuk seluruhnya ke dalam rongga perut, kateter harus ditutup rapat agar pasien bisa bergerak serta menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa.
Setelah 4–6 jam, cairan dialisis yang mengandung zat sisa bisa dialirkan keluar dari rongga perut untuk kemudian dibuang ke toilet. CAPD bisa dilakukan sebanyak 3–6 kali dalam sehari, dengan satu kali pengisian cairan sebelum tidur.
Meski mudah dilakukan, beberapa efek samping dari CAPD perlu diwaspadai, di antaranya:
1. Hernia
2. Kenaikan berat badan dan kadar gula darah
3. Perut membesar
4. Masalah pencernaan
5. Infeksi
Untuk melakukan CAPD yang tepat, pasien dan pendamping harus berkonsultasi dengan dokter dan mempertimbangkan kelebihan serta kekurangannya.
Advertisement