Duta Besar Israel untuk Inggris Tzipi Hotovely dalam wawancaranya bersama jurnalis Piers Morgan bersikeras menyebut Israel tidak pernah membunuh anak-anak.
Dikutip dari YouTube Piers Morgan Uncensored, Rabu (18/6) Tzipi menyangkal Israel membunuh anak-anak dan menyebut Hamas sengaja membuat mereka sebagai tameng.
"Pierce, Israel tidak membunuh anak-anak. Israel tidak membunuh anak-anak. Hamas menggunakan mereka sebagai tameng manusia," ucapnya.
Dubes zionis itu pun menyebut Israel peduli pada kehidupan manusia. Menurutnya, Hamaslah yang dengan sengaja menggunakan anak-anak sebagai tameng manusia.
"Kita adalah negara demokrasi, peduli dengan kehidupan manusia, dan pada saat yang sama, Hamas sengaja menggunakan anak-anak sebagai tameng manusia. Dan Anda tahu itu," tegasnya.
Tzipi terus menuduh Hamas sebagai pihak yang paling bersalah dalam terbunuhnya anak-anak di Gaza. Bahkan ia menuduh peran Hamas dalam pembantaian anak-anak Israel di tragedi 7 Oktober 2023.
"Hamas harus disalahkan atas setiap anak yang terbunuh di Gaza."
"Apakah Anda mengerti bahwa Anda tidak peduli dengan Anak-anak saya dan anak-anak Israel lainnya dengan membiarkan 7 Oktober terjadi lagi dan lagi? Sebenarnya, saya dirugikan, sebenarnya, di Timur Tengah selama berbulan-bulan ketika saya membela hak Israel untuk membela diri," tandasnya lagi.
Pernyataan Tzipi Hotovely pun tampak seperti lelucon lantaran apa yang diucapkan tak sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan.
Data yang banyak disajikan sejak konflik pecah pada 7 Oktober 2023 menyebut Israel banyak membunuh anak-anak dan wanita meski kerap kali menuduh Hamas sebagai pelaku utama.
Setidaknya ada beberapa fakta kebohongan Israel yang pernah terungkap dan banyak disorot dunia. Apa saja?
Advertisement
Hoax Israel Fitnah Hamas Bunuh Anak dan Bayi
Profesor analisis media Northwestern University di Qatar, Marc Owen Jones menyebut Israel menyebarkan berita palsu (hoax) tentang serangan 7 Oktober.
Propaganda itu rupanya menjadi cara Israel untuk melakukan genosida di Gaza dengan dalih tuduhan Hamas sebagai pelaku utama.
Hoax pertama yang diluncurkan Israel adalah menuduh Hamas memenggal kepala bayi. Dikutip dari Middle East Eye, Rabu (18/6), serangan pejuang Palestina ke Israel selatan pada 7 Oktober membuat 1.200 warga Israel tewas.
Pasca serangan tersebut, pemerintah Israel tidak merilis daftar korban yang tewas akibat serangan Palestina. Namun sebuah kanal berita i24 menjadi sorotan dunia lantaran menuduh 40 bayi telah dipenggal oleh hamas.
Kedua, sebuah laporan dari Golan Vach, kepala dinas pencarian dan penyelamatan militer Israel menyebut pihaknya melihat mayat bayi yang dibakar.
Seorang reporter Israel juga membagikan wawancara dengan seorang tentara yang mengatakan banyak bayi dan anak-anak yang digantung di tali jemuran.
Berita itu pun juga langsung tersebar luas dan sangat meyakinkan. Namun menurut Haaretz, juru bicara militer yang membuat pernyataan tersebut adalah prajurit cadangan yang tidak berbicara pada kapasitas resminya.
Advertisement
Israel Hanya Membunuh Anak-anak dan Wanita
Kantor Komisaris Tinggi HAM (OHCHR) PBB dalam laporannya menyebut 36 serangan udara Israel di Gaza sejak 18 Maret hingga 9 April 2025 hanya menargetkan perempuan dan anak-anak Palestina.
"Dalam sekitar 36 serangan yang informasinya telah diverifikasi oleh Kantor HAM PBB, korban jiwa yang tercatat sejauh ini hanyalah perempuan dan anak-anak," kata juru bicara OHCR, Ravina Shamdasani, juru bicara Komisaris Tinggi HAM PBB (OHCHR) pada Jumat (11/4) lalu.
Laporan tersebut mendukung dugaan pelanggaran hukum humaniter internasional oleh Israel di tengah konflik mereka dengan Hamas.
Total ada 224 serangan yang mengarah pada tenda pengungsian di Gaza selama periode itu. Korban meninggal dunia sebagian besar adalah anak-anak dan wanita.
Menurut Al Jazeera, serangan udara Israel pada April 2025 lalu telah menewaskan 1.500 warga Palestina pasca gencatan senjata dibatalkan pada Maret lalu.
Salah satunya serangan pada 6 April yang menargetkan rumah keluarga Abu Issa di Deir al-Balah. Akibatnya 6 orang tewas terdiri dari satu anak perempuan, empat wanita, dan seorang anak laki-laki berusia empat tahun.
Advertisement
Korban Serangan Israel 65% Anak-anak dan Lansia
Mengutip dari Anadolu Agency, Rabu (18/6) 65% korban tewas serangan Israel ke Palestina sejak 7 Oktober 2023 adalah anak-anak, wanita, dan lansia, menurut otoritas lokal Gaza pada Minggu (27/4) lalu.
Kantor Media Pemerintah yang berpusat di Gaza mengonfirmasi bahwa pasukan Israel telah menewaskan lebih dari 18.000 anak-anak dan 12.400 wanita sejak 7 Oktober 2023, sementara memusnahkan 2.180 keluarga secara keseluruhan.
"Fakta-fakta tersebut tidak menyisakan keraguan bahwa menargetkan warga sipil di Gaza merupakan kebijakan sistematis Israel dalam rencananya untuk melakukan kejahatan genosida dan pembersihan etnis," tulis pernyataan tersebut.
Setelah gencatan senjata berakhir pada 18 Maret 2025, Israel semakin brutal menyerang wilayah permukiman Palestina.
Sejak Oktober 2023, Israel telah membunuh lebih dari 52.200 warga Palestina di daerah kantong itu dan sebagian besar dari mereka adalah wanita dan anak-anak.
Advertisement
Bunuh Anak-anak saat Antre Bantuan Makanan
Israel membunuh lebih dari 45 warga Palestina dalam sejumlah serangan di seluruh Jalur Gaza sejak Minggu (15/6) pagi. Sebagian dari para korban ditargetkan saat sedang menunggu bantuan di titik distribusi bantuan yang dikelola Israel-Amerika Serikat (AS), Gaza Humanitarian Foundation (GHF).
Badan pertahanan sipil Gaza melaporkan, sedikitnya 23 warga Palestina dibunuh di dekat titik distribusi dan truk bantuan, termasuk di dekat Koridor Netzarim di Gaza tengah, di Rafah di selatan, dan di dekat jalur masuk bantuan di al-Sudaniya di barat laut.
Sejak distribusi bantuan mulai dilaksanakan GHF, sedikitnya 300 warga Palestina di Gaza dibunuh pasukan Israel saat berkumpul di titik distribusi bantuan dan ratusan lainnya terluka. Distribusi bantuan oleh GHF ini dikawal kontraktor militer swasta AS dan diawasi pasukan penjajah Israel.
Juru bicara UNICEF, James Elder, menyampaikan kepada Anadolu, situasi di Gaza saat ini "suram, mengerikan, dan tanpa harapan", menekankan pengungsian dan kelaparan warga sipil merajalela.
"Orang-orang Gaza hidup melalui malam-malam yang keras di bawah pemboman, dan mereka menghabiskan hari-hari mereka untuk melarikan diri dari rasa lapar dan ledakan," ungkapnya, seperti dilansir Middle East Eye, Minggu (15/6).
Elder juga mengkritik GHF, menggambarkannya sebagai "bersifat militer", terutama dengan titik distribusinya yang terbatas yang terletak di selatan Gaza.
"Sistem ini memakan korban setiap hari, dengan anak-anak terbunuh hanya karena mereka mencoba mendapatkan sekotak makanan," sesalnya.
Salah satu korban adalah bocah bernama Hamza yang tewas ditembak di kepala oleh tentara Israel saat sedang membawa bantuan makanan untuk keluarganya.
Hamza adalah penghafal Al-Quran yang membantu orang tuanya di tengah kondisi blokade Israel yang mengakibatkan penduduk Gaza kelaparan akibat tak ada bantuan yang bisa masuk.
"Dia hendak membawa bantuan, tetapi mereka menembak kepalanya. Dia sangat baik padaku. Sebulan yang lalu, dia menghafal Al-Qur’an," kata adik perempuannya sambil menangis di samping jenazah Hamza dalam sebuah rekaman video yang dibagikan akun X @qudsn, Minggu (15/6).