Daluang, Kertas Nusantara Yang Terlupakan
Merdeka.com - Daluang bisa disebut saksi bisu sebuah sejarah. Sejak abad ke-9 daluang digunakan untuk menulis naskah atau melukis sebagai sarana ekspresi. Pada catatan sejarah lain, daluang juga digunakan untuk pertunjukan Wayang Beber dan difungsikan sebagai busana.
©2021 Merdeka.com/Fajri ANF
Daluang yang dikenal sebagai kertas tradisional khas Nusantara ini terbuat dari kulit pohon saeh yang memiliki nama lain Paper Mulberry (Broussonetia papyrifera). Kulit pohon saeh ditempa atau dalam bahasa Sunda "dipeupeuh" menggunakan alat khusus yang terbuat dari perunggu hingga akhirnya menjadi daluang.
©2021 Merdeka.com/Fajri ANF
Mulai terlupakan, Daluang juga kembali diperkenalkan oleh Ahmad Muffid Sururi sejak tahun 2006 di Bandung. Pria yang akrab disapa Kang Mufid ini tidak hanya memproduksi daluang sebagai medium tulis dan lukis. Ia juga mengembangkan fungsi daluang menjadi medium estetis, dekorasi dan fashion.
©2021 Merdeka.com/Fajri ANF
Daluang tercatat sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2014. Pada ajang Global Eco Artisan Award 2020, daluang kembali mencatat sejarah baru. Kang Mufid membuat sebuah karya berupa syal dan berhasil menjadi finalis pada ajang Global Eco Artisan Award 2021 yang diikuti 58 negara dan bersaing dengan 406 karya.
©2021 Merdeka.com/Fajri ANF
©2021 Merdeka.com/Fajri ANF
Sejatinya, sejarah tidak hanya sebagai tempat dimana kita mengenang sesuatu. Namun juga sebagai medium untuk kita selalu berkembang.
(mdk/nis)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya