Setelah ramai PHK karyawan, kini giliran pedagang di Tokopedia dan TikTok Shop resah. Pemicunya gara-gara kebijakan yang diterapkan Bytedance, pemilik baru platform e-commerce itu. Mereka meminta seluruh pelapak untuk melakukan migrasi dashboard paling lambat 9 Juni. Lalu, apa tujuannya?
“Untuk membantu memudahkan operasional agar semakin sigap dalam memenuhi kebutuhan pengguna, kami menghadirkan seller center baru di mana Anda bisa berjualan di dua platform yang berbeda, Tokopedia dan TikTok Shop by Tokopedia dari satu tempat,” tulis keterangannya pada Undangan untuk Seller Tokopedia & TikTok Shop, Kamis (5/6).
Selain itu, disebutkan dengan menggunakan dashboard seller center yang baru ini, pihaknya menjamin produk yang dijual dapat dijangkau lebih dari 200 juta pengguna di Indonesia. Dan, memberi akses ke lebih 8 juta konten kreator untuk memperluas pasar.
Sayangnya, niat baik justru direspons negatif oleh pedagang Tokopedia dan TikTok Shop. Bahkan ada yang memaki-maki kebijakan tersebut. Hal itu diketahui dari akun Instagram Tokopedia_TiktokShop. Misalnya akun Yuan Kristanto menyebut lebih baik proses integrasi dibatalkan.
"Lebih baik Tokopedia dan TikTok Shop berdiri terpisah. Pangsa pasar beda, habbits beda, kemampuan belinya apalagi, jauh,” tulisnya di kolom komentar.
Hal senada juga disampaikan akun samagatria. Ia berkomentar bahwa proses integrasi ini benar-benar menyulitkan para pedagang, termasuk dirinya.
“Saya sebagai salah satu seller di Tokopedia, merasa integrasi dengan TikTok Seller ini tidak berguna, dan cenderung merepotkan,” tulisnya.
Pihak Tokopedia sendiri melalui juru bicara TikTok memahami persoalan para pedagang. Namun, mereka meyakini bahwa upaya yang dilakukannya ini berpotensi memberikan dampak positif terhadap keuntungan yang didapatkan penjual.
“Kami menyadari bahwa proses integrasi ini membawa perubahan, dan bersamanya muncul berbagai pertanyaan. Kami ingin menekankan bahwa upaya integrasi kami, termasuk penggabungan pusat penjual (seller center), bertujuan untuk memperkuat nilai yang diberikan kedua brand kepada penjual, mitra, dan pelanggan di seluruh Indonesia,” ujarnya kepada Merdeka.com melalui pernyataan resmi.
“Kami terus berinvestasi di Tokopedia dan Indonesia sebagai bagian dari strategi untuk mendorong pertumbuhan dan inovasi yang berkelanjutan. Sejak akuisisi Tokopedia, fokus kami adalah memanfaatkan kekuatan TikTok Shop dan Tokopedia dalam memberikan layanan yang lebih baik kepada berbagai segmen pengguna,” tambahnya.
Berdasarkan informasi yang Merdeka.com terima dari sumber internal menyebutkan proses integrasi ini justru akan menguntungkan pedagang. Pedagang dapat melebarkan bisnisnya sesuai dengan pasarnya.
Yang jelas, pedagang masih bisa menaruh barang jualannya hanya di salah satu platform, di Tokopedia atau di TikTok Shop saja. Tidak harus di keduanya.