Seorang professor Biomedis AS dan mantan penyelam Angkatan Laut AS, Joe Dituri melakukan uji coba tinggal 100 hari di bawah laut. Selama itu, ia tinggal dalam sebuah ruangan kotak seluas 55 meter persegi sejak 1 Maret lalu. Bila ini berhasil, dia akan memecahkan rekor untuk waktu yang paling banyak dihabiskan manusia tinggal di bawah permukaan laut.
Dilaporkan NDTV, Jumat (7/4), Joe melakukan hal ini semata-mata untuk penelitian. Penelitiannya itu tentang efek tekanan hiperbarik atau ketika tekanan udara lebih besar daripada permukaan laut pada tubuh manusia.
Dia berharap bisa menggunakan waktu yang dihabiskannya di bawah permukaan untuk memeriksa apa dampak hidup di lingkungan bertekanan tinggi ini terhadap kesehatannya. Menariknya, ikhtiar Joe akan sangat berbeda dengan hidup di kapal selam.
Mengapa demikian? Kapal selam disegel saat terendam dan dipertahankan pada tekanan permukaan laut. Ini berarti tidak ada perbedaan tekanan yang signifikan, bahkan saat kapal selam berada di kedalaman ratusan meter.
Untuk oksigen, ia hanya bergantung pada kantung udara yang berada di bagian atas ruangannya. Dengan demikian singkatnya, udara di dalam ruangannya itu terjepit oleh berat lautan yang akan meningkatkan tekanan udara di sekitarnya. Pada kedalaman 30 kaki, tekanan udara di dalam habitat ini kira-kira dua kali lipat dari tekanan udara yang biasa dia alami di darat.
Lalu, apa yang terjadi pada tubuh? Seperti yang disadari oleh setiap penyelam bersertifikat, tekanan hiperbarik dapat menimbulkan ancaman yang sangat nyata bagi tubuh. Tubuh telah diadaptasi oleh generasi evolusi untuk kondisi permukaan laut, di mana dua gas utama yang terlibat dalam pernapasan (oksigen dan karbon dioksida) adalah satu-satunya dua gas yang bebas melintasi antara paru-paru dan darah.
Tapi saat tekanan meningkat, nitrogen di udara dipaksa melintasi dinding halus paru-paru dan masuk ke darah. Ini dapat menyebabkan berbagai efek buruk. Pada kedalaman sepuluh hingga 30 meter, hal ini dapat menyebabkan euforia ringan dan suasana hati yang positif. Setelah sekitar 30 meter di bawah permukaan laut dan lebih jauh, hal itu dapat menyebabkan perilaku seperti mabuk – oleh karena itu dinamakan “narkosis”.
Para ilmuwan tidak sepenuhnya memahami mengapa hal ini terjadi, tetapi bisa jadi karena perubahan cara neurotransmitter memberi sinyal antar neuron di otak. Untungnya, ini tidak akan membahayakan Joe, karena dia hanya berada di kedalaman 10 meter.
Namun Joe tetap berharap setidaknya mengalami perubahan fisik saat tinggal di kedalaman 10 meter. Menjadi bersoal adalah Joe hanya akan terkena sinar matahari setengah dari jumlah sinar matahari seperti di darat.
Ini dapat menyebabkan masalah dengan ritme jam pada tubuh dirinya, termasuk siklus tidur dan bangunnya yang bergantung pada siang hari. Setidaknya, ini mungkin berarti Joe akan mengalami gangguan tidur.
Tantangan lain bagi Joe adalah mendapatkan cukup vitamin D. Kulit harus menerima paparan sinar UV untuk membuat vitamin yang berasal dari matahari. Kemungkinan dia tidak akan terpapar vitamin D yang cukup saat tinggal di lingkungan bawah airnya.
Vitamin D berperan penting dalam menjaga kepadatan tulang, fungsi otot, dan kekebalan tubuh. Penelitian pada orang-orang yang tinggal di habitat bawah air yang dijalankan oleh NASA sebagai analogi penerbangan luar angkasa menemukan bahwa mereka telah mengurangi fungsi kekebalan hanya setelah tinggal selama 14 hari.
Pertanyaan terbesar yang tersisa adalah apa efek tekanan hiperbarik jangka panjang terhadap Joe. Studi ini akan menunjukan efek tekanan hiperbarik hanya melihat paparan jangka pendek, yang mungkin menunjukkan efek positif pada penyembuhan luka. Ini akan menjadi prestasi yang menantang secara fisiologis dan mungkin secara psikologis. Jadi meskipun sample-nya adalah Joe, data dari eksperimennya akan tetap berguna bagi penelitian lainnya.