Banyak orang yang berpikir bahwa anak muda Indonesia tidak memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi. Namun, sebenarnya masih banyak anak muda Indonesia yang cinta tanah air. Bukan hanya demo, ada banyak pemuda yang lebih memberikan solusi dari pada protes sana sini, salah satunya melalui kompetisi Hackathon Merdeka.
Hackathon Merdeka yang sudah diselenggarakan kedua kalinya ini, membuat para pemuda terutama pecinta teknologi informasi mempunyai wadah yang sesuai. Mulai dari para pecinta teknologi yang belum pernah ikut kompetisi, hingga orang-orang yang terbiasa ikut kompetisi lengkap di Hackathon 2.0 Merdeka.
Biasanya, setiap kompetisi besar pasti menawarkan hadiah yang sesuai, namun tidak untuk kali ini. Hackathon 2.0 Merdeka ditujukan untuk orang yang mempunyai jiwa nasionalisme tinggi dan peduli terhadap bangsanya sendiri. Pihak penyelenggara juga tidak menceritakan hadiah apa yang akan didapatkan para pemenang nantinya.
Para pesertapun tidak masalah dengan hal tersebut. Mereka fokus pada ide dan produk yang dihasilkan, masalah menang dan kalah itu urusan nanti.
"Pemuda kita tidak mata duitan. Memang suka sama duit tetapi gak matre. Jadi momentum juga sih. Acara seperti ini sebenarnya keren. Buktinya walaupun tidak ada hadiahnya, peserta sangat antusias. Kalau yang lain-lain kan pasti dikasih tahu dulu hadiahnya sebesar apa. Kalau di sini gak ada," ujar Alif, salah satu peserta Hackathon 2.0 Merdeka Malang.
Acara ini sendiri memperoleh banyak masukan dari masyarakat. Selain masalah pangan, ternyata masalah yang dianggap penting dan urgent di Indonesia adalah data kependudukan. Sehingga, Hackathon Merdeka ingin mengumpulkan solusi untuk pemecahan masalahnya.
Saat acara, peserta juga tidak dibiarkan memikirkan konsep dan fiturnya sendiri. Ada para mentor berpengalaman yang bertujuan untuk mengetahui ide dari para peserta dan sejauh mana ide ini bisa diterapkan dalam sebuah produk. Di Malang sendiri, ada 15 mentor yang siap untuk meninjau para peserta.
Setelah sesi coding berakhir, produk peserta akan dinilai oleh 3 juri. Dari Malang sendiri, menyediakan 3 juri sangat berkompeten, di antaranya Fajar Asiqin, Amar Alphabet, dan Aji.
Dari 68 peserta yang terdaftar ini akan diambil 10 pemenang yang akan presentasi di depan juri, kemudian diseleksi lagi menjadi 3 pemenang. Satu pemenang tersebut akan di kirim ke Jakarta untuk berkompetisi lagi dengan peserta terbaik lainnya dari berbagai kota.