Dampak rupiah yang masih loyo, ternyata telah merembet ke salah satu vendor smartphone, Wiko Mobile. Hal itu diakui oleh CEO Wiko Mobile, Dwi Lingga Jaya. Menurutnya, kenaikan harga ini tidak serta merta berdampak terhadap seluruh produk asal Perancis ini.
"Ada beberapa tipe yang naik dan ada yang tidak. Tetapi itu tergantung dari barang itu datang. Jadi misalnya, ketika dollar di angka sekian, maka barang yang baru diimpor akan menyesuaikan harganya," kata Dwi Lingga Jaya kepada Merdeka.com, seusai acara peresmian store experience Wiko Mobile di ITC Roxy Mas, Jakarta, Jumat (11/9).
Dia melanjutkan, bahwa rata-rata kenaikan di produknya berkisar lima persen. Meski begitu, katanya, kenaikan itu tidak berpengaruh terhadap daya beli masyarakat.
"Jadi kita kan punya dua segmen yang berbeda, middle low dan middle high. Yang middle low ini, gak terpengaruh soal fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Nah, yang untuk middle high juga kita tidak langsung naikkan, hanya tipe-tipe tertentu saja. Jadi, tidak semua barang kita naikkan," tuturnya.
Terlepas dari itu, Dwi juga mengklaim, meskipun Wiko baru saja resmi masuk pasar Indonesia tahun ini, target penjualannya telah tercapai. Sayang, dia enggan memberikan informasi lebih detail jumlah target penjualannya.
"Kita udah masuk target penjualannya tapi belum melebihi target. Soalnya masih ada beberapa kesulitan, misalnya import," katanya.