PT Smartfren Telecom Tbk mengaku terpaksa menjual handset smartphone yang diberi brand Andromax mengingat volume ponsel CDMA di pasar sudah sangat langka.
Sukaca Purwokardjono, Head of Smartphone Smartfren, mengaku pada awalnya terpaksa memproduksi handset smartphone untuk melayani pelanggan saja mengingat dari 54 juta smartphone yang beredar tahun depan, yang CDMA mungkin hanya satu juta unit saja.
"Namun, dari keterpaksaan tersebut,ternyata kami malah menemukan model bisnis dan strategi yang tepat," ujar Sukaca yang juga bercerita bahwa awalnya terjadi perdebatan di internal mengenai apakah Smartfren akan memproduksi feature phone atau smartphone, Selasa (24/12).
Menurut dia, dari diskusi internal, Smartfren menilai smartphone merupakan masa depan, sehingga pihaknya kemudian mengeluarkan semua usaha untuk memasarkan smartphone sebagai penunjang layanan data Smartfren yang diklaim merupakan nomor dua di Indonesia.
Sukaca mengaku Smartfren tidak mengambil untung dari penjualan smartphone, karena murni hanya untuk melayani pelanggan yang kebanyakan sulit mencari handset CDMA di pasar.
Menurut dia, bisnis utama Smartfren tetap pada service seluler dan mengambil revenue dari isi ulang pelanggan, bukan dari bisnis handset.
Menurut Sukaca, Smartfren akan tetap mengandalkan enam lini produk yaitu seri C, G, I , V, U, dan S yang mana sekitar 77 persen bermain di harga di bawah Rp 2 juta namun tetap mengadopsi teknologi terkini, baik memori, layar, prosesor, OS, kecepatan internet, dan audio.