Miss Internet, sebuah ikon internet yang digagas Asosiasi Penyelenggara Internet Indonesia (APJII) Bali dengan harapan dapat menyebarkan penggunaan internet yang sehat dan aman, ternyata diprotes beberapa pihak dalam pelaksanaan Internet Governance Forum (IGF) yang bertempat di Nusa Dua, Bali, Rabu (23/10).
Seperti yang dilansir dalam situs Association for Progressive Communication (APC) tentang Miss Internet Bali dan partisipasi perempuan dalam Internet Governance Forum 2013, sebanyak 23 institusi dan orang personal yang bergerak di bidang terkait hak asasi manusia menandatangani sebuah surat terbuka yang isinya memprotes kegiatan Miss Internet.
Menurut surat yang dilayangkan dalam website APC, mereka menyatakan keberatannya terhadap Miss Internet karena dinilai dilaksanakan dengan format mengutamakan keindahan perempuan dan memposisikan perempuan sebagai obyek pasif.
Selain itu, mereka khawatir kegiatan ini akan berdampak dalam mengabadikan ketimpangan gender dan malah meminggirkan juga mendiskriminasikan perempuan.
Dalam pelaksanaan IGF 2013 ini, Miss Internet memang didaulat oleh APJII untuk memperkenalkan berbagai program APJII. Miss Internet 2013 yaitu Windu Sari Devi yang baru saja terpilih dapat kita temui di booth APJII, kadang dengan kebaya, kadang dengan baju formal, penampilan sendiri cukup menarik perhatian dengan selempang Miss Internet dan mahkota kebanggaan.
Protes langsung pernah disampaikan oleh Jack, seorang warga negara Malaysia yang aktif di gerakan gender dan hak asasi. Dalam sebuah kesempatan, dia memprotes penggunaan miss internet, mengapa tidak ada mister internet.
Menurutnya, pemilihan perempuan sebagai ikon bisa diartikan sebagai eksploitasi dan tidak ramah gender.
Menjawab komentar tentang kegiatan Miss Internet, mengapa dipilih perempuan, Sammy Pangerapan, Ketua Umum APJII, menyampaikan bahwa pemilihan perempuan sebagai ikon pemberian wawasan internet yang sehat dan aman adalah terkait kultur Indonesia.
Yang mana sejak kecil, masyarakat Indonesia terbiasa dekat dengan perempuan sebagai sosok ibu, tentu juga lebih cepat untuk berinteraksi dari pada pria.
Karena itu dipilihlah perempuan sebagai ikon edukasi terkait internet sehat dan aman, karena dipercaya lebih mudah mendekati kelompok-kelompok tertentu dalam bersosialisasi terkait penggunaan internet.
Sedangkan Dewa Ayu Windu Sari Devi, Miss Internet 2013 di sela-sela perhelatan IGF menyampaikan bahwa dirinya tidak merasa dieksploitasi, malah dia merasa mewakili perempuan dalam bidang internet. Menurutnya, label Miss Internet ini malah merupakan salah satu bentuk pemberdayaan perempuan.