Orang introvert lebih berbahaya dibanding orang biasa?

Apakah orang introvert tersebut lebih berbahaya dibandingkan dengan biasa pada umumnya?

Dwi Andi Susanto
Oleh Dwi Andi Susanto - Reporter
Orang introvert lebih berbahaya dibanding orang biasa?
Adam Lanza dan James 'Joker' Eagan Holmes © 2012 Merdeka.com

Tanggal 14 Desember waktu Connecticut atau 15 Desember waktu Indonesia, kembali terjadi aksi penembakan yang menewaskan 28 orang. Menurut informasi yang dilansir ABC News (15/12), pelaku ditengarai adalah orang tertutup dan diduga memiliki keterbelakangan mental. Hal tersebut tak pelak kembali memunculkan pertanyaan yang sampai kini masih terus diperdebatkan. Apakah benar orang pendiam, tertutup atau introvert lebih berbahaya dibandingkan orang biasa pada umumnya?Sampai saat ini, banyak orang menilai orang pendiam itu berbahaya karena tidak ada yang mengetahui apa yang akan dia lakukan ketika emosinya memuncak atau ketika dia sudah tidak dapat menahan rasa marahnya selama ini.Hal tersebut dapat diambil contoh dari banyak hal. 2 contoh adalah terjadinya penembakan yang dilakukan oleh Adam Lanza (20) kemarin atau juga yang dilakukan James 'Joker' Eagan Holmes (24) di bioskop Colorado bulan Juli lalu. Keduanya juga tergolong introvert dan menutup diri dari pergaulan. Selain dua orang tersebut, sebenarnya masih banyak contoh lainnya. Mulai dari forum, blog sampai website resmi banyak yang mengulas hal ini. Namun, tetap perdebatan tetap muncul sampai sekarang.Menurut beberapa psikolog mengatakan bahwa tidak semua orang pendiam itu berbahaya. Orang yang pendiam lebih suka mendengar daripada berbicara. Namun, memang ada satu gangguan kejiwaan yang disebut juga dengan nama Dysphoric Mania. Menurut About.com, Dysphoric Mania adalah suatu gangguan mental yang dikombinasikan dengan pergolakan dalam tubuh dan meluapnya energi ditambah dengan depresi tingkat tinggi serta paranoid. Bagi orang yang menderita Dysphoric Mania, dia akan melakukan apa saja untuk membuatnya senang dan sesuai dengan apa yang dia inginkan, termasuk membunuh. Namun, beberapa psikolog keberatan mengatakan bahwa Dysphoric Mania berhubungan dengan depresi, mereka menganggap gangguan tersebut hanyalah rasa sedih yang mendalam. Dalam penjelasan di Wikipedia, Dysphoric Mania dikategorikan dalam banyak hal seperti panik, keinginan bunuh diri, merasa bersalah, impulsif sampai memberontak. New York times (27/08) pernah mengulas bahwa dengan gampangnya mendapatkan senjata api serta banyaknya orang-orang introvert yang condong telah masuk dalam tahap Dysphoric Mania, maka tidak menutup kemungkinan pembunuhan masal sering terjadi.Ulasan lain mengatakan bahwa selain mengalami gangguan kejiwaan, video game juga termasuk salah satu faktor pendorong orang berbuat kriminal. Namun, sampai sekarang penelitian demi penelitian terus dikembangkan untuk menemukan apa yang menjadikan beberapa orang introvert melakukan aksi pembunuhan tersebut.

Rekomendasi