Program Merajut Nusantara: Cara PANDI Digitalisasi Kekayaan Aksara Daerah Indonesia

Jumat, 24 Juli 2020 09:29 Reporter : Syakur Usman
Program Merajut Nusantara: Cara PANDI Digitalisasi Kekayaan Aksara Daerah Indonesia webinar PANDI dengan Kemenko PMK. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) menggelar seminar daring (webinar) berkolaborasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) dan Kasultanan Ngayogyakarto.

Seminar daring tersebut digelar kemarin (23/7) dan mengangkat tema “Menyambut Era New Normal, Momen Membangun Karakter Manusia Berbasis Budaya". Henri Nurcahyo, seorang pegiat seni budaya dari komunitas BrangWetaN dan penulis buku, menjadi moderator webinar kali ini.

Muhadjir Effendi, Menko PMK, dalam kesempatan itu mengatakan pandemi Covid-19 banyak memberikan dampak buruk hampir di seluruh lini kehidupan. Yang dikhawatirkan berpengaruh pula pada terhambatnya pembinaan generasi muda dalam pembangunan karakter bangsa.

"Membangun karakter bangsa melalui budaya membutuhkan waktu yang sangat lama dan panjang. Dengan ditutupnya pusat kebudayaan, seperti museum, sanggar, dan lokasi seni pertunjukan dikhawatirkan menghambat pelestarian budaya," ungkapnya.

Berangkat dari kondisi tersebut, pemerintah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif No 02/2020 dan KB/1/UM/04.00/M-K/2020 tentang Panduan Teknis Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 di Bidang Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif dalam Masa Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat.

Panduan ini diharapkan mampu menjadi pedoman para penggiat kebudayaan untuk dapat tetap beraktivitas dengan aman dan nyaman, jelas Menko PMK Muhadjir.

Menurut menko, dengan kegiatan ini, diharapkan generasi muda, masyarakat, dan pegiat budaya khususnya semakin terpacu untuk melestarikan kebudayaan melalui digitalisasi dan memanfaatkan teknologi karena masih ada ruang sangat luas untuk melestarikan kebudayaan nusantara.

"Jangan sampai kebudayaan kita diakusisisi dulu oleh negara lain, baru kita terpacu. Mulailah sejak dini dan dari diri kita sendiri, manfaatkan perkembangan teknologi informasi yang canggih ini untuk melestarikan kebudayaan nusantara," tutup Muhadjir dalam webinar ini.

Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi sependapat dengan paparan Menko PMK Muhadjir. Kata GKR Mangkubumi dalam kaitannya dengan sejarah, Keraton sebagai pelestari budaya terus melakukan penyesuaian agar sejarah budaya bisa selalu diingat oleh generasi muda. Sejarah panjang harus selalu diingat.

“Bahwa memang sejarah panjang ini memang harus selalu kita ingat, karena dengan mengingat sejarah itu, tentunya kita tahu di mana posisi kita berpijak,” ujar GKR Mangkubumi.

Selain itu, GKR Mangkubumi merasa salah satu unsur budaya yang terlupa adalah bahasa daerah, yang mulai terkikis oleh perkembangan zaman. Kemudian sejarah tentang kerajaan atau perjuangan-perjuangan para pahlawan di Indonesia pun banyak dilupakan oleh masyarakat.

Banyak sekali pekerjaan rumah bagi kita, seperti apa kita akan menjaga nusantara ini, apabila kita sendiri tercerabut dengan budaya kita sendiri. Jangan menjadi bangga mengikuti budaya orang lain, tapi kita sendiri juga melupakan apa yang menjadi budaya kita sendiri.

Baca Selanjutnya: Digitalisasi Aksara Daerah di Program...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini