Wawancara CEO Yummy Corp

Mario Suntanu: Margin Kami Sehat, Bukan Margin Subsidi Akuisisi Kustomer Baru

Selasa, 12 November 2019 08:00 Reporter : Syakur Usman
Mario Suntanu: Margin Kami Sehat, Bukan Margin Subsidi Akuisisi Kustomer Baru CEO Yummy Corp Mario Sutanu. ©2019 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

Merdeka.com - Pekan ketiga Oktober lalu menjadi pekan paling bahagia bagi Yummy Corp. Baru berumur dua tahun, startup di bisnisfood and beverage (F&B) berhasil menaklukkan hati sejumlah investor besar yang dipimpin konglomerat lokal Sinarmas, lewat anak usaha Sinarmas Digital Ventures (SMDV). Duit segar yang masuk pendanaan seri A jumlahnya lumayan besar, mencapai US$ 7,75 juta, setara Rp 110 miliar.

Yummy Corp berafiliasi dengan Ismaya Group dan memiliki dua lini bisnis utama, yaitu catering solutions dan cloud kitchen. Catering solutions adalah solusi bagi perusahaan yang memberikan benefit makan siang sehat dan berkualitas kepada para karyawannya (pelanggan korporasi). Menariknya, para karyawan ini juga dapat memesan makanan dengan mudah melalui aplikasi mobile Yummybox, sehingga dapat diakses juga oleh pelanggan ritel.

Yummy Corp kini membuat sekitar 7.000 lebih porsi makanan per hari dan memiliki lebih dari 3.000 menu untuk menciptakan lifestyle makan siang di kantor yang lebih menyenangkan. Korporasi besar seperti Unilever, Wings Group, Facebook, Ascott Jakarta, dan Shopee adalah klien Yummy Corp sejak dibangun oleh Mario Suntanu dan kawan-kawan pada awal 2017.

Mario Suntanu memang bercita-cita ingin memiliki perusahaan sendiri, sejak menyelesaikan kuliah di dua kampus terkenal di Amerika Serikat, yakni Stanford University dan Harvard University. Meski sempat 'bekerja' membangun Zalora dan Lazada akibat diajak Rocket Internet asal Jerman dan sempat mampir di beberapa perusahaan sebelum mantap mendirikan Yummy Corp dua tahun silam.

M Syakur Usman dan Iqbal Nugroho dari Merdeka.com berkesempatan mewawancarai khusus Mario Suntano, CEO dan Co-Founder Yummy Corp. Wawancara dilakukan di restoran Ascott Sudirman Jakarta, yang dikelola Yummy Corp. Mario terbuka soal banyak hal termasuk pendanaan seri A, masuknya konglomerat Sinarmas ke Yummy Corp, inovasi, rencana bisnis, sebagainya. Berikut petikannya:

Mengapa konglomerasi Sinarmas Digital Ventures (SMDV) bisa masuk ke Yummy Corp?

Saya kebetulan sudah kenal lama dengan Sinarmas Group karena saya pernah menjadi General Partner di SMDV selama empat tahun sejak 2014 bersama Roderick Purwana, Managing Partner SMDV. Kebetulan kami memiliki visi yang sama dan melihat bisnis ini sebagai kesempatan besar untuk tumbuh bersama-sama.

Yang menarik dari pendanaan seri A ini adalah investor kami adalah pemain lokal (perlu diketahui, investasi ini dipimpin oleh SMDV dan Intudo Ventures bersama East Ventures, Sovereign’s Capital, Agaeti Ventures, Selera Kapital by Sour Sally Group, dan Prasetia Dwidharma).

Berapa persen SMDV dan kawan-kawan dapat kepemilikan saham di Yummy Corp?

Maaf, itu tidak bisa saya sebutkan.

Benefit apa saja yang Anda harapkan dari investor lokal tadi?

Yang pertama tentu saja networking. Rata-rata investor lokal kami ini memiliki jaringan outlet yang banyak di bisnis F&B. Kedua, mentoring yang sangat strategis bagi rencana ekspansi Yummy Corp ke depan

Meski dekat dengan Sinarmas, tentu ada pertimbangan bisnis sehingga SMDV tertarik. Apa saja itu?

Dari sisi kami, sebagai venture capital, SMDV tentu berinvestasi ke perusahaan yang sedang tumbuh. Ini sudah kami buktikan bahwa segmen ini (F&B) bisa bertumbuh dengan cepat. Dan Yummy Corp berada di posisi bagus untuk mendukung pertumbuhan cepat di segmen ini. Tentu kami janjikan aktivitas-aktivitas yang bisa mewujudkan itu.

Kebetulan investor kami memiliki anchor di bisnis eksisting dan tradisional, sehingga burning money (bakar uang) kami tidak seperti startup kebanyakan, yang mana investasi baru untuk bakar uang untuk akuisisi kustomer baru. Sebab margin usaha kami margin sehat, bukan margin subsidi untuk akuisisi kustomer baru.

Hal ini relevan dengan dengan investor kami yang rata-rata lokal, rata-rata adalah pebisnis dan pedagang. Yang mereka lihat adalah margin, units economic-nya masuk akal dan bisa tumbuh cepat, pasti mereka support.

Jadi meski kenal dekat, benar ini adalah bisnis. Dana segar ini bukan kami kumpulkan untuk merebut kustomer doang. Karena visi usaha kami adalah lebih baik kustomer sedikit, tapi memesan makanan setiap hari, daripada kustomer banyak tapi pesannya jarang.

Kami mau daily kustomer. Kami bukan seperti startup kebanyakan yang dapat investasi baru untuk akuisisi kustomer baru.

Prinsipnya, kalau makanan kami enak, kustomer pasti repeat. Jika makanan tidak enak, kustomer mental (sambil tertawa).

Jadi bagaimana pertumbuhan bisnis Yummy Corp saat ini?

Pada periode Januari-Oktober tahun ini, sales kami tumbuh 4 kali lipat dari sebelumnya.
Bahkan dari sisi margin profit bisa bertumbuh lebih besar lagi, karena volume kami bertambah besar. Maka itu, bargaining power kami ke pemasok juga lebih kuat. Jadi beli apa-apa, seperti bahan baku, sekarang borongan.

Margin profit kami seperti rata-rata margin profit di bisnis F&B, yakni sekitar 20 persen dan stabil marginnya. Memang tidak setinggi margin restoran-restoran terkenal itu. Tapi itu terjadi karena model pembiayaan (cost) kami berbeda, karena kami hanya menyediakan orang dan bahan makanan. Kami tidak ada biaya sewa di mal, karena semua fasilitas fisik punya mitra Yummy sehingga earning before interest and tax (EBIT) dan EBITDA kami beda sedikit.

Sampai akhir tahun ini kira-kira bagaimana?

Akhir tahun ini kami tumbuh cepat. Yang bagusnya, kami tidak bersaing dengan pemain-pemain F&B di mal-mal yang rekreasional. Kami memberikan pengalaman makan di kantor yang lebih mudah dan murah. Rata-rata harga menu kami antara Rp 30 ribu per porsi hingga Rp 40 ribu. Jadi harga kami di atas pedagang kaki Lima, tapi bersaing dengan food court.

Tapi kami merasa sangat kuat di layanan pelanggan korporasi (B2B), yakni menyediakan makan siang bagi karyawan perusahaan. Layanan B2B berkontribusi 75-80 persen terhadap penjualan.

1 dari 3 halaman

Ekspansi ke Bandung, Denpasar, dan Surabaya

 /></strong></p>
<p style=2019 Merdeka.com/Iqbal Nugroho


Duit segar Rp 110 miliar itu akan digunakan untuk apa saja?

Pendanaan baru ini akan kami gunakan untuk meningkatkan kualitas makanan dan customer experience. Fokus kami adalah konsumen, dengan menambahkan titik-titik distribusi yang jangkauannya luas. Sebab kami harapkan konsumen dapat merasakan makanan yang lebih cepat dan fresh untuk dinikmati di mana pun mereka memesan. Jadi kami akan membangun 200 titik dapur baru di Jakarta pada 2020 dan berbagai kota besar di Indonesia.

Saat ini Yummy Corp memiliki 25 titik cloud kitchen di kawasan Jabodetabek dengan dua central kitchen di BSD City, Tangerang dan Jakarta Pusat. Dapur di Jakarta Pusat lebih diarahkan untuk finishing kitchen dan menjadi titik awal pengiriman ke berbagai lokasi konsumen.


Jadi tahun depan strategi dan fokus Yummy Corp apa saja?

Kami akan fokus ke quality control (QC). Saya melihat industri F&B ini belum kuat dalam hal QC serta standard, operation, and procedure (SOP). Jadi ke depan kami akan pakai manfaatkan untuk QC seperti kamera dan internet of things (IoT) supaya tekstur dan komposisi makanannya sama, karena kami memproduksi ribuan porsi.

Kalau ribuan porsi, QC-nya dilakukan oleh manusia, pasti miss. Tapi kalau komputer, tidak mungkin miss. Kami akan implementasi ini pada 2020 dan sekarang mulai develop.

Fokus juga di 2020 adalah kami akan tambah kitchen di mana-mana, karena tuntutan makanan fresh. Jadi, setelah selesai masak, makanan langsung dikirim. Makin banyak dapurnya, makin fresh masakannya.

Untuk layanan cloud kitchen, kami punya standar makanan siap saji dan keluar 2-5 menit dari dapur, setelah diorder kustomer. Ini di luar waktu pengantaran karena kami tidak bisa kontrol waktu pengiriman yang biasanya menggunakan jasa ojek online.

Saat ini kami fokus di wilayah Jabodetabek, tapi ke depan kami akan ekspansi ke Bandung, Bali, dan Surabaya. Khusus Bali, kami menyasar ke kota-kota yang memiliki perumahan tinggi seperti Denpasar dan Sanur.

Yang penting, selain populasi adalah market delivery-nya jalan atau tidak. Berkembang pesat atau tidak. Kemudian listing di kotanya banyak atau tidak.

Sebenarnya ekosistem industri F&B di Indonesia sudah matang, mature. Tapi perlu transisi akibat perilaku kustomer berubah. Yummyu Corp melakukan ini untuk transisi ini. Banyak restoran-restoran belum siap dengan layanan online GoFood. Kantor-kantor juga berubah. Kami sediakan solusi atasi perubahan ini dengan sistem win-win (menang-menang), sehingga bisa jangka panjang.

2 dari 3 halaman

Fokus di Model Bisnis

 /></strong></p>
<p style=2019 Merdeka.com/Iqbal Nugroho


Siapa pesaing terdekat Yummy Corp?

Saat ini pesaing terdekat tidak Ada. Karena kami sebenarnya mendorong ekosistem. Bagaimana pemain F&B bisa relevan di masa ekonomi digital ini, karena untuk relevan harus investasi di menu, SDM, dan teknologi. Dan kebanyakan mereka tidak punya kemampuan ke sana.


Apa saja tantangan Yummy Corp saat ini?

Industri F&B di Indonesia sangat kompetitif. Namun, enaknya di posisi Yummy Corp, kami bekerja sama dengan semua pemain F&B, kami tidak ada rencana buat merek sendiri.
Kami tidak ingin buat label sendiri. Kami juga tidak bersaing dengan Gojek dan Grab, malah kami bisa bekerja sama dengan semua delivery platform.

Tantangan kami lebih ke operasi. Karena bila kitchen tambah banyak, artinya tim kami tambah banyak, padat karya. Padahal di sisi lain kami ingib karyawan kami konsisten skills. Misalnya pada tahun depan, setiap bulan kami bangun 10 kitchen baru. Setiap kitchen baru ada crew leader-nya, tapi juga perlu crew kitchen yang bisa dipasok oleh siswa SMK (jumlah karyawan Yummy Corp kini 500 orang termasuk chef).


Inovasi apa saja yang disiapkan dan direalisasikan dalam waktu dekat?

Zaman sekarang sebenarnya teknologi adalah alat bantu buat model bisnis. Jadi inovasi yang akan kami lakukan adalah inovasi model bisnis.

Aplikasi mobile hanya penunjang, meski kami memiliki tim development sendiri, ada dedicated team.

Jadi, hari ini inovasi kami adalah model bisnis. Kami ingin membantu pasar yang belum banyak menyasar segmen karyawan (perusahaan) dan perusahaan yang memfasilitasi kebutuhan makan tim/karyawannya. Secara umum, pasarnya baru mulai di Indonesia.

Analisis saya begini, di Indonesia sedang terjadi talent war. Jadi untuk dapat SDM terbaik harus rebutan. Untuk talent war, tidak mesti gaji dinaikkan terus. Jadi sekarang perusahaan memiliki pemikiran, baaimana menyediakan pengaman kantor supaya karawan betah. Sehingga tempat kerja menjadi spesial bagi karyawan.

Menyediakan makanan rumahan salah satu strateginya supaya karyawan merasa spesial. Jadi lobi lewat makanan proven. Kami melihat momen itu. Hanya saja di pasar belum siap kondisi ini, karena katering sekarang lebih banyak ke event/acara dengan menu fix dengan jumlah 40 menu.

Sedangkan Yummy Corp beda. Kami punya bank data 3 ribu menu. Jadi kami yang bantu memilih menunya supaya setiap hari tidak bosan. Kami lah yang variasikan menunya.

3 dari 3 halaman

Inovasi Menu: Food Playlist

 /></p>
<p style=2019 Merdeka.com/Iqbal Nugroho


Apa lagi inovasi lainnya?

Kami sedang mendorong konsep food playlist. Ini terinspirasi dari layanan lagu dari platform Spotify.

Jadi kami sedikan paket makan dengan tema-tema seperti tema diet, menu nusantara,healthy choices, dan sebagainya. Kustomer bisa memesan menu ini selama 5 hari atau 7 hari hingga tak terbatas waktinya. Yang penting berlangganan lewat aplikasi mobil Yummybox.

Jadi kustomer tidak pusing setiap hari makan apa jika ingin diet dan bisa makan sesuai selera. Program ini berjalan sejak akhir 2018. Dan pertumbuhan order food playlist lebih besar daripada individual di aplikasi.


Bagaimana dengan bisnis coffee shop yang sedang populer, apakah mungkin Yummy Corp ke sana?

Coffee shop bisa dijajaki, jika outlet kami sudah lebih banyak dari coffee shop yang ada. Jadi sementara kami fokus tambah tempat lebih banyak. Apalagi beberapa investor kami memiliki jejak investasi di usaha kopi, seperti East Ventures punya Fore, Intudo punya Common Grouds, dan Ismaya ada Djournal.


Apa saja kriteria untuk menjadi mitra kitchen Yummy Corp?

Pertama, pemain lokal yang bertumbuh dan makanannya cocok dengan pangsa pasar milenial, karena ordernya dilakukan secara online semua.

Kedua, mereka punya beberapa cabang atau bisa multiple franchise

Ketiga, mereka yang memiliki pandangan bahwa untuk tumbuh atau ekspansi membutuhkan mitra supaya berhasil, sehingga mereka bisa menilai value Yummy Corp

[sya]
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini